Berita

Rajiv Jain/Net

Dahlan Iskan

Juru Selamat

KAMIS, 09 MARET 2023 | 04:12 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

SELALU saja, di mana-mana, ada juru selamat. Bagi konglomerat India Gautam Adani, juru selamat itu bernama Rajiv Jain. Orang India juga. Warga Amerika.
Selasa kemarin Rajiv membeli semua saham 4 perusahaan Grup Adani yang beredar di pasar modal.

Rajiv mengeluarkan uang total USD 1,8 miliar. Sapu bersih. Dengan demikian harga saham tersebut itu tidak bisa turun lagi.

Rajiv di awal karirnya hanya mengelola dana orang lain. Ia sangat tepercaya. Tidak seperti Indosurya atau yang lainnya itu. Lama-lama ia besar. Mendirikan Global Quality Growth di Florida, Amerika Serikat.

Rajiv di awal karirnya hanya mengelola dana orang lain. Ia sangat tepercaya. Tidak seperti Indosurya atau yang lainnya itu. Lama-lama ia besar. Mendirikan Global Quality Growth di Florida, Amerika Serikat.

Kini GQG dipercaya oleh perusahaan-perusahaan kelas dunia. Untuk mengelola dana lebih mereka �"agar kian berlebih lagi.

Aksi Rajiv ini tentu jadi berita besar dunia. Tidak kalah gemparnya dengan kejatuhan harga saham Adani bulan lalu.
"Saham itu kalau harganya jatuh sangat dalam, sangat cepat dan dalam waktu singkat tidak akan lebih turun lagi," ujar Rajiv pada berbagai media di India.

Bagaimana Adani bisa menemukan juru selamat seperti Rajiv? Tampaknya ini sudah hubungan tingkat dewa di kahyangan. Banyak yang mempertanyakan: tumben Rajiv mau terjun ke investasi yang lagi dalam keadaan krisis.

GQG dikenal luas sebagai perusahaan pengelola dana yang amat hati-hati. Dalam sejarahnya ia belum pernah melakukan langkah seperti itu. Justru karena kehati-hatiannya itulah Rajiv sangat dipercaya.

Tapi Rajiv membantah itu. Ia mengaku telah berhitung cermat. Perusahaan Adani itu banyak bergerak di bidang infrastruktur dan layanan umum. Utangnya hanya tiga kali lipat dari equity. "Di Amerika perusahaan jenis ini utangnya 6 kali lipat. Berarti dua kali lebih jelek dari Adani," katanya.

Tapi kenapa tidak dulu-dulu? Kok baru sekarang?

Perusahaan seperti ini, katanya, sangat erat terkait dengan peraturan pemerintah. Peraturan bisa berubah. Kian baik. Sekarang, katanya, peraturannya baik sekali.
Dengan peraturan lama belum tentu Rajiv mau investasi.

Rajiv menyebut soal pelabuhan di berbagai lokasi dan bandara internasional Mumbai. Itu proyek infrastruktur yang strategis.

Memang investasinya untuk jangka panjang. Tapi Rajiv percaya pada kemampuan Adani. Misalnya saat Adani diserahi mengelola pelabuhan di Gujarat. Banyak yang pesimistis. Ternyata Adani membuat pelabuhan itu sangat hebat. Caranya: menyambung rel kereta api ke pelabuhan itu.

Intinya Rajiv melihat masa depan ekonomi India. Yang kini pun tumbuhnya tertinggi di dunia. Infrastruktur sangat dibutuhkan untuk menopang pertumbuhan itu.

Bahwa saham Adani pernah meroket terlalu cepat, menurut Rajiv, ceritanya tidak seperti yang dipublikasikan oleh Hendenburg Research New York. Bukan karena manipulasi. "Mungkin terbawa nama-nama baik perusahaan serupa di  Eropa," dalihnya.

Terserah Rajiv saja. Toh itu uang-uangnya sendiri. Setidaknya, itu uang orang yang percaya penuh padanya.

Dan lagi belum tentu pembelian itu pakai uang seperti yang kita bayangkan saat membeli tahu campur. Rajiv ahli membuat skema yang kelas pengusaha biasa pun sulit memahaminya. Ini skema yang benar-benar sudah kelas dewa.

Ini uang dewa, untuk menyelamatkan dewa.

Yang jelas harga saham Adani sudah langsung merangkak naik. Bisa jadi, 10 tahun lagi, grup Adani sudah jauh lebih besar dari sebelum krisis ini.

Konglomerat seperti Sinar Mas pernah mengalaminya. Tahun 1998. Utangnya sampai  USD 113 miliar. Macet. Pihak yang mengutangi lebih dari 150. Nyatanya bisa selamat. Bahkan dalam 10 tahun sudah jauh lebih besar dari sebelum krisis.

Saya pernah berbincang dengan Pak Eka Tjipta Wijaya. Yakni bos besar Sinar Mas.

Itu bukan krisis yang pertama. Sebelum krisis 1998 pun Sinar Mas pernah beberapa kali nyaris bangkrut. Lalu kian besar.

Setelah besar kembali untuk ketiga kalinya, saya bertanya ke beliau: Apakah membayangkan suatu saat akan bangkrut lagi?

Jawabnya saya ingat seumur hidup: untuk perusahaan sekelas Sinar Mas sekarang ini tidak mungkin lagi bisa bangkrut. "Sudah terlalu besar untuk bangkrut," katanya. Itu diucapkan jauh sebelum krisis 1998.

Grup Adani rupanya juga berada di level itu.

Populer

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Jusuf Hamka Siapkan Rp5 Triliun untuk Borong Saham

Minggu, 18 Oktober 2026 | 11:21

UPDATE

Wakil Bupati Bogor Jaro Ade Dipanggil KPK

Selasa, 27 Oktober 2026 | 12:31

Bisnis Ritel MAP Tumbuh Dua Digit, Laba Bersih Capai Rp2,1 Triliun

Selasa, 27 Oktober 2026 | 12:30

Konser Ye Sumbang Perputaran Ekonomi Rp600 Miliar, UMKM Ikut Kecipratan

Selasa, 27 Oktober 2026 | 12:20

Cari Pemimpin Baru, Kadin Jaktim akan Gelar Mukota VII

Selasa, 27 Oktober 2026 | 12:20

Ekosistem Baterai Makin Maju, Toyota Didorong Garap Full EV

Selasa, 27 Oktober 2026 | 12:16

KPK Panggil Sejumlah Tenaga Ahli dan Kepala Biro BNPB

Selasa, 27 Oktober 2026 | 12:01

Periksa Suhu

Selasa, 27 Oktober 2026 | 12:00

Dony Oskaria Kumpulkan Petinggi BUMN, Ada Apa?

Selasa, 27 Oktober 2026 | 11:51

Bank Mandiri Buka-bukaan Soal Kredit Rp40 Triliun ke Haji Isam, Beberkan Agunan Saham JARR-PGUN

Selasa, 27 Oktober 2026 | 11:41

Sempat Mangkir, KPK Bakal Panggil Ulang Suami Fadia Arafiq

Selasa, 27 Oktober 2026 | 11:26

Selengkapnya