Ilustrasi satelit pelacak yang dikembangkan Badan Pengembangan Ruang Angkasa AS (SDA) dan perusahaan pembuat pesawat Raytheon Technologies/Net
Ilustrasi satelit pelacak yang dikembangkan Badan Pengembangan Ruang Angkasa AS (SDA) dan perusahaan pembuat pesawat Raytheon Technologies/Net
Kesepakatan kerja sama senilai 250 juta dolar AS atau Rp 3,8 triliun itu dilakukan sebagai bagian dari upaya AS untuk memantau peluncuran rudal balistik dan hipersonik China.
Menurut pejabat Raytheon, Dave Broadbent pada Jumat (3/3), prioritas pengembangan satelit terbaru akan meningkatkan kemampuan AS untuk melacak ancaman yang muncul.
Populer
Minggu, 11 Januari 2026 | 04:59
Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09
Rabu, 14 Januari 2026 | 05:09
Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46
Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39
Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00
Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55
UPDATE
Minggu, 18 Januari 2026 | 00:06
Minggu, 18 Januari 2026 | 00:01
Sabtu, 17 Januari 2026 | 23:32
Sabtu, 17 Januari 2026 | 23:27
Sabtu, 17 Januari 2026 | 23:01
Sabtu, 17 Januari 2026 | 22:51
Sabtu, 17 Januari 2026 | 22:51
Sabtu, 17 Januari 2026 | 22:09
Sabtu, 17 Januari 2026 | 21:48
Sabtu, 17 Januari 2026 | 21:37