Berita

Ilustrasi/Net

Publika

Sistem Kesehatan Jalan Tengah

SELASA, 07 FEBRUARI 2023 | 15:27 WIB | OLEH: YUDHI HERTANTO

KISAH Rahmat Aulia (11) yang sabar mengantar ayahnya Rusli Yusuf (46), berobat ratusan kilometer di Aceh dengan menggunakan becak motor tua, begitu mengharukan.

Tentu perjuangan serupa banyak terjadi, namun luput dari perhatian kita. Akses kesehatan menjadi sedemikian penting untuk memastikan terpenuhinya hak mendapatkan pelayanan kesehatan. Sistem kesehatan kita masih perlu dibenahi.

Kerangka program Jaminan Kesehatan Nasional – JKN dengan gelaran BPJS Kesehatan adalah upaya yang dibentuk untuk dapat mendorong terpenuhinya hak dasar kesehatan masyarakat. Tetapi hal ini tentu tidak mudah. Target sasaran kepesertaan secara nasional, dengan berbagai problem kesehatan publik.


Selama ini, kesehatan kerap dianggap sebagai isu penyerta pembangunan. Padahal masalah kesehatan sejatinya merupakan bagian fundamental, dalam menghidupkan pembangunan suatu bangsa. Kesehatan selalu dikaitkan dengan angka harapan hidup, bila tidak mampu ditangani seksama.

Hal itu sesuai penyampaian Susan Sontag dalam buku Penyakit Sebagai Metafora (2021). Sesungguhnya, keberadaan penyakit selalu beriringan dengan konstruksi metafora yang menyertainya, yakni tentang kematian. Berbagai penyakit terbentuk menjadi alat demoralisasi bagi penderitanya.

Dengan begitu, upaya untuk memastikan penguatan kapasitas sektor kesehatan sebagai tiang pokok pembangunan menjadi beralasan, karena tidak mungkin suatu bangsa dapat melaju dalam derap modernisasi tanpa kemampuan fisik yang prima sebagai prasyaratnya.

Namun realitanya bisa berbeda. Keberlangsungan BPJS Kesehatan dibayangi dengan ancaman defisit anggaran, Kompas (30/1). Ketidakmampuan memenuhi kebutuhan pembiayaan, menjadikan situasi kritis. Kondisi defisit muncul dan celah tersebut harus ditambal melalui intervensi kekuasaan, dengan alokasi anggaran.

Disaat yang bersamaan isu-isu kesehatan nampaknya belum menjadi prioritas. Pembangunan yang kasat mata, sebagaimana infrastruktur fisik tampil seakan menjadi tujuan utama. Padahal terdapat keterbatasan keuangan. Di situlah letak kemampuan untuk merumuskan fokus kesejahteraan umum.

Kita tidak hendak memaknainya dalam konteks Erich Fromm, 1995 dalam Masyarakat yang Sehat (1995), bahwa persoalan kesehatan menjadi sebuah hal yang ganjil untuk dapat diraih pada ruang tamak sistem kapitalistik, sehingga akan berkaitan erat dengan perubahan sistem sosial dan ekonomi.

Tetapi jelas dibutuhkan kerangka sistemik, dalam memberikan jaminan kesehatan bagi publik. Dalam hal tersebut reorientasi konsep pembangunan kesehatan yang menjadi motor penggeraknya. Kenapa? Bahkan dalam doa kita semua, permintaan akan sehat selalu dipanjatkan. Sehat menjadi keutamaan.

Bagaimana membangun struktur sistem kesehatan yang mumpuni? Terutama dalam melihat kondisi keterbatasan kemampuan negara dan potensi kegagalan pasar.

Menyerahkan sepenuhnya kepada sistem pasar dengan motif permintaan serta penawaran mengakibatkan komersialisasi. Sementara itu memberikan porsi seutuhnya kepada kuasa negara, seolah tidak mampu ditanggung.

Solusinya diformulasi dengan model jalan tengah. Kombinasinya melibatkan peran aktif sistem kesehatan yang tersedia, untuk mendorong aspek preventif dan promotif sebagai sarana pencegahan. Termasuk mengaktifkan partisipasi publik guna membangun kesadaran kesehatan sebagai aset individu.

Di sisi berbeda, sistem kesehatan dipersiapkan dengan membenahi akses pelayanan dan kepastian dalam menjamin hak kesehatan warga negara terkait pemenuhan aspek kuratif. Pada bagian ini, kekuasaan tidak diterjemahkan sebagai kebisingan politik, melainkan dalam bentuk manfaat kesejahteraan.

Pada bagian akhir, komitmen bersama untuk menghadirkan kehidupan yang sehat hanya dapat diartikulasikan melalui kemauan untuk saling bekerja sama.

Publik harus berupaya menjaga dirinya dari potensi sakit, semantera itu pemberi layanan memaksimalkan ikhtiar dalam pelayanan paripurna bagi yang sakit, dan di pengujungnya pemangku kekuasaan mengambil bagian terbesar memastikan terlindunginya kehidupan seluruh warga negara.

Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

Rencana Insentif MBG Rp1 Triliun Tuai Kritik dari DPR

Kamis, 29 Oktober 2026 | 15:47

Silfester Matutina Diduga Masuk List Saksi Sidang Ijazah Jokowi

Minggu, 25 Oktober 2026 | 04:00

UPDATE

Perempuan Tani HKTI Terapkan Teknologi IoT, Pangkas Penggunaan Pupuk hingga 50 Persen

Minggu, 01 November 2026 | 12:32

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

PTKIN Siapkan Langkah agar Inovasi Mahasiswa Tak Berhenti di Ajang Lomba

Minggu, 01 November 2026 | 11:56

Kloter Pertama Haji 2027 Terbang 11 April, Ini Jadwal Lengkapnya

Minggu, 01 November 2026 | 11:50

Imigrasi Sudah Cegah Ahmad Dedi ke Luar Negeri Atas Permintaan KPK

Minggu, 01 November 2026 | 11:36

Puluhan Orang Diamankan Polisi saat Gerebek Kampung Bahari

Minggu, 01 November 2026 | 11:30

Maroko Sambut Keputusan PBB Akhiri Misi MINURSO di Sahara Barat

Minggu, 01 November 2026 | 11:17

Citra Polri Bisa Rusak Akibat Dua Kejadian Ini

Minggu, 01 November 2026 | 11:05

Ombudsman Ingatkan Polri Jaga Etika dan Hormati HAM saat Penggeledahan

Minggu, 01 November 2026 | 10:48

PPK Ajak Masyarakat Berperan bersama Presiden Prabowo Wujudkan Kedaulatan

Minggu, 01 November 2026 | 10:42

Selengkapnya