Berita

Dahlan Iskan latihan menembak di Batalyon Infanteri 500 Raiders/Sikatan Kodam V Brawijaya/Net

Dahlan Iskan

Nunut Besar

SABTU, 21 JANUARI 2023 | 05:10 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

INILAH salah satu contoh penerapan prinsip ''jangan besar dari jabatan, besarkanlah jabatan''. Contohnya sangat sederhana. Tapi langsung menusuk ke sanubari saya.

Pagi itu saya kumpul wartawan: ramai-ramai diberi kesempatan merasakan menembak dengan senapan laras panjang: SS1-V4. Lokasi: di lapangan tembak Batalyon Infanteri 500 Raiders/Sikatan, Surabaya. Dekat Markas Kodam V/Brawijaya.

Posisi menembaknya sambil tiarap di lantai lapangan. Di atas rumput yang dilapisi matras. Seperti militer yang lagi merayap sambil menembak. Tiap kloter berjajar 10 wartawan. Sambil tiarap diajari cara menembak: 10 wartawan 10 pelatih.


Sasaran tembaknya di depan sana: 75 meter. Ada titik hitam di tengah lingkaran besar. Kami harus membidik titik hitam itu. Dari lubang intai di senjata itu bisa dilihat si titik hitam. Posisi titik harus di ujung gambar tiang tengah dari tiga tiang yang terlihat di ujung senapan.

Setelah titik hitam berada di posisi tembak, barulah pelatuk ditarik. Harus dengan sangat pelan. Kalau ditarik cepat bisa mengubah posisi titik tembak.

Dor!

Meleset.

Jangankan titik hitam, mengenai lingkaran besar pun tidak.

Menurut evaluasi pelatih, saya masih terlalu cepat menarik pelatuk. Kesusu. Itu menandakan emosi saya belum tenang. Maka diulangi lagi: dor!
Meleset lagi.

Tiga kali tembakan pertama meleset semua.

Masih ada tujuh peluru lagi. Kali ini harus ada yang kena. Dor! Dor! Dor! Dor! Dor! Dor! Dor!

Hasilnya sama: meleset semua. Menulis cerita ternyata lebih mudah daripada menembak. Menemukan lead yang baik lebih cepat dari menemukan sasaran titik hitam.

Betul. Menembak beneran tidak seperti dalam adegan film. Yang sambil meloncat pun bisa kena sasaran. Bahkan sambil salto. Ternyata ada ajaran khusus untuk bisa menembak dengan baik.

Nama ajaran itu: Nabi Tepi. Itu singkatan dari Napas, Bidik, Tekan, Picu. Napas harus tenang, bidikan harus tepat, tekanan picu harus halus.

Saya tadi bukan menekan picu, tapi menarik picu. Salah. Bukan ditarik, tapi ditekan. "Saking halusnya tekanan picu sampai seolah senjata meledak sendiri," ujar Pangdam V/Brawijaya yang baru, Mayjen TNI Farid Makruf MA.

Saya memang belum pernah merasakan menembak. Pun pakai pistol. Kalau memegang senapan panjang sering. Di Amerika. John Mohn, punya senjata panjang di lemarinya. Juga punya pistol yang disimpan di laci sebelah tempat tidurnya.

Setiap kali ke rumah John di Kansas, saya ditawari untuk berlatih menembak. Di halaman belakang. Ayah angkat anak saya itu mengajari saya cara memegang senjata, membidik, dan mengisi peluru. Tapi saya tidak pernah mau mencoba meletuskannya.

Telinga saya pernah seperti mau pecah. Di Tambling, Lampung. Hari itu saya berdiri di jeep pemburu di Tambling. Di sebelah saya berdiri Tomy Winata. Ia lagi memegang senjata laras panjang. Di saat saya lagi melengos melihat harimau di hutan itu tiba-tiba dor! TW menembak babi hutan. Suara dor itu seperti meledak di telinga saya.

Saya pura-pura tidak tersiksa. Tapi pedalaman telinga saya sakit sekali. Tidak menyangka suara ledakan senjata sedahsyat itu.

Nabi Tepi. Farid yang memberi tahu ajaran itu. Ia memang menunggui para wartawan itu menembak. Inilah untuk kali pertama Farid bertemu wartawan PWI Jatim, IJTI, dan AMSI.

Cara bertemu wartawan di lapangan tembak seperti itu adalah bagian dari gaya kepemimpinannya. Agar wartawan bisa menulis kegiatan. Bukan hanya menulis pidato.

Farid memang pernah jadi kepala penerangan, waktu di Kopassus. Ia tahu apa yang diinginkan wartawan. Ia tahu wartawan harus punya bahan untuk ditulis.

Itu belum contoh yang saya maksud dengan ''besarkan jabatan''.

Contoh ''besarkan jabatan dan bukan besar dari jabatan'' adalah ini: instruksinya kepada kepala Penerangan Kodam V/Brawijaya. Itu disampaikan dalam forum cangkruan pertamanya dengan wartawan di lapangan tembak itu.

"Isi website Kodam Brawijaya jangan melulu wajah Pangdamnya. Seminggu pertama ok. Biar kenal dulu. Setelah itu harus lebih banyak menampilkan wajah Babinsa. Atau Danramil. Dandim," ujarnya.

Babinsa adalah bintara pembina desa. Di satu desa ditempatkan satu bintara. Jabatan Babinsa memang sempat tidak populer. Di zaman Orde Baru, Babinsa jadi alat untuk memenangkan Golkar.

Setelah reformasi, urgensi Babinsa  dipersoalkan. Dianggap bisa mengganggu demokrasi. Pun Koramil dan Kodim. Banyak yang minta agar dilikuidasi.

Suara seperti itu tidak terdengar lagi 10 tahun terakhir. Bahkan nama TNI kian harum: sebagai lembaga yang bisa dipercaya dalam membela masyarakat.

"Saya yakin banyak Babinsa atau Danramil yang berprestasi. Prestasi itu harus ditampilkan di publikasi Kodam," ujar Farid. "Apalagi sekarang ini lagi digalakkan program baru: Babinsa masuk dapur," katanya.

Babinsa masuk dapur adalah simbolis: agar Babinsa memonitor kondisi bahan makanan rakyat miskin. Yang sampai banyak terjadi kasus kekurangan gizi pada anak.

Tentu kebijakan lebih menonjolkan pejuang di lapangan seperti itu seperti berlawanan dengan kecenderungan belakangan ini: pamer wajah kepala daerah di segala sudut. Lewat spanduk, poster, baliho, backdrop, bahkan sampai pun ke kop surat.

Mereka seperti tidak bisa besar kalau tidak dari jabatan.


Populer

Negara Jangan Kalah dari Mafia, Copot Dirjen Bea Cukai

Selasa, 10 Februari 2026 | 20:36

Direktur P2 Ditjen Bea Cukai Rizal Bantah Ada Setoran ke Atasan

Jumat, 06 Februari 2026 | 03:49

KPK: Warganet Berperan Ungkap Dugaan Pelesiran Ridwan Kamil di LN

Kamis, 05 Februari 2026 | 08:34

Keppres Pengangkatan Adies Kadir Digugat ke PTUN

Rabu, 11 Februari 2026 | 19:58

Nasabah Laporkan Perusahaan Asuransi ke OJK

Kamis, 05 Februari 2026 | 16:40

Lima Orang dari Blueray Cargo Ditangkap saat OTT Pejabat Bea Cukai

Kamis, 05 Februari 2026 | 15:41

Kekayaan Fadjar Donny Tjahjadi yang Kabarnya Jadi Tersangka Korupsi CPO-POME Cuma Rp 6 Miliar, Naik Sedikit dalam 5 Tahun

Selasa, 10 Februari 2026 | 18:12

UPDATE

Warga Antusias Saksikan Serah Terima Pengawalan Istana Merdeka oleh Paspampres

Minggu, 15 Februari 2026 | 18:05

Festival Bandeng Rawa Belong Dongkrak Omzet Pedagang

Minggu, 15 Februari 2026 | 17:22

Imlek Berdekatan dengan Ramadan Membawa Keberkahan

Minggu, 15 Februari 2026 | 17:03

Makan Bergizi Gratis: Konsumsi atau Investasi Bangsa?

Minggu, 15 Februari 2026 | 16:44

Kanada Minta Iran Ganti Pemimpin Atau Sanksi Ditambah

Minggu, 15 Februari 2026 | 16:09

Ini Alasan Lembaga Survei Dukung Wacana Pilkada Tak Langsung

Minggu, 15 Februari 2026 | 15:52

Jokowi Sedang Cari Muka Lewat UU KPK

Minggu, 15 Februari 2026 | 15:50

NATO Buka Data Kerugian Gila-gilaan Rusia di Perang Ukraina

Minggu, 15 Februari 2026 | 15:22

Libur Panjang Imlek, Simak 3 Kunci Perjalanan Aman dan Nyaman

Minggu, 15 Februari 2026 | 14:43

Selain UU KPK, MAKI Desak Prabowo Sahkan UU Perampasan Aset

Minggu, 15 Februari 2026 | 14:40

Selengkapnya