Berita

Penjabat Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono bersama Anies Baswedan/Ist

Publika

Ganti Gubernur Ganti Kebijakan

*OLEH: TARMIDZI YUSUF
SABTU, 14 JANUARI 2023 | 08:54 WIB

DULU pernah populer ganti menteri ganti kebijakan. Lumrah bila ganti kebijakan yang lebih baik. Jadi masalah bila ganti kebijakan hanya berdasarkan selera dan rasa. Apalagi dibarengi dengan agenda tersembunyi. Menghapus jejak prestasi pejabat sebelumnya, misalnya.

Isu gonta-ganti kebijakan akhir-akhir ini kembali menjadi perbincangan. Terutama soal isu penghapusan jejak prestasi Anies Rasyid Baswedan di Jakarta.

Anies Rasyid Baswedan, Gubernur DKI Jakarta yang dipilih langsung oleh rakyat. Sementara Heru Budi Hartono penjabat gubernur yang ditunjuk presiden. Anehnya, kewenangan penjabat gubernur yang tidak dipilih rakyat sama dengan gubernur yang dipilih langsung oleh rakyat. UU No 10 Tahun 2016 inilah yang banyak diprotes karena presiden telah mengambil hak konstitusional rakyat.


Kepala daerah yang dipilih langsung oleh rakyat amatlah berbeda dengan kepala daerah yang ditunjuk oleh presiden. Mulai dari pertanggungjawaban hingga kebijakan yang dibuat. Termasuk selera dan rasa dalam proses rekrutmen maupun kebijakan yang diterapkan.

Kepala daerah yang dipilih langsung rakyat bertanggung jawab langsung kepada rakyat. Ia dipilih rakyat, salahsatunya karena rakyat percaya dengan kemampuan dan janji-janji politik ketika ia berkontestasi dalam pemilihan kepala daerah. Visi misi untuk rakyat. Kebijakannya tentu saja berorientasi untuk rakyat.

Berbeda halnya dengan kepala daerah yang ditunjuk oleh presiden. Pertanggungjawabannya ke presiden. Visi misi untuk presiden. Kebijakannya pun cenderung mengikuti arahan presiden yang mengangkatnya.

Orientasi “atas” dan “bawah” atau kombinasi keduanya. Kepala daerah yang dipilih langsung oleh rakyat cenderung berorientasi ke bawah. Rakyat menjadi tumpuan kebijakannya.

Sebut saja soal kebijakan program pangan murah bersubsidi kepada 1,1 juta warga Jakarta semasa Anies Rasyid Baswedan, Ph.D. menjabat Gubernur DKI Jakarta periode 2017-2022.

Ada pula program internet gratis yang dikenal dengan Jakwifi. Semula ada 3.500 titik internet gratis di Jakarta dengan anggaran Rp 174 miliar. Heru Budi Hartono malah memangkas jumlah titik jaringan internet Wifi gratis atau Jakwifi lebih dari separuh, yakni dari 3.500 titik hanya tinggal menjadi 1.263 titik Jakwifi.

Heru Budi Hartono juga mengubah logo dan slogan Jakarta yang digunakan selama masa kepemimpinan Anies Rasyid Baswedan. Pemerintah DKI Jakarta menggunakan slogan baru dari ‘Jakarta Kolaborasi’ menjadi ‘Sukses Jakarta Untuk Indonesia’. Jadi candaan warga Jakarta, Anies Rasyid Baswedan ‘Sukses memimpin Jakarta untuk Indonesia’.

Kota Kolaborasi adalah slogan yang tercipta di era Anies Rasyid Baswedan lewat branding +Jakarta atau PlusJakarta. Kolaborasi merupakan sebuah ajakan dimana sebuah kota sudah semestinya menjadi wadah bagi setiap penghuninya untuk saling bekerja sama, maju dan berkembang.

Demikian pula Heru Budi Hartono melakukan pemangkasan anggaran subsidi tiket untuk PT Transportasi Jakarta (TransJakarta) dari Rp 4,24 triliun menjadi Rp 3,5 triliun. Ini jelas akan menghambat upaya Jakarta mengalihkan pengguna kendaraan pribadi ke transportasi umum.

Idealnya program pro rakyat terlepas siapapun gubernurnya harus tetap dilanjutkan. Jangan sampai ada kesan di masyarakat, program gubernur sebelumnya yang dinilai pro rakyat dihapus karena selera dan rasa bukan karena kebutuhan dan kepentingan rakyat.

Publik pun berseloroh. Kualitas Gubernur DKI Jakarta sebelumnya, yaitu Anies Rasyid Baswedan, Ph.D. baru terlihat kualitasnya setelah Heru Budi Hartono ditunjuk sebagai penjabat Gubernur DKI Jakarta.

Beda gubernur beda kualitas. Gubernur di atas rata-rata dan gubernur di bawah rata-rata.

*Penulis adalah Ketua Umum JABAR MANIES

Populer

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Karyawan dan Konsultan Pajak Hasnur Group Dipanggil KPK Terkait Kasus Restitusi Pajak

Kamis, 09 April 2026 | 12:18

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

UPDATE

Serentak di Tiga Lokasi, KPK Periksa Pegawai Kemenag dan Bos Travel

Jumat, 17 April 2026 | 14:16

Waspadai Phishing dan Malware, BNI Tekankan Keamanan BNIdirect

Jumat, 17 April 2026 | 14:15

Bitcoin Stabil di Level 74.900 Dolar AS

Jumat, 17 April 2026 | 14:11

Ekonomi Jatim Tumbuh 5,33 Persen di 2025, Didongkrak Sektor Manufaktur

Jumat, 17 April 2026 | 14:05

KPK Periksa Direktur Kepatuhan Bank Papua dalam Kasus Korupsi Dana Operasional Papua

Jumat, 17 April 2026 | 14:01

Rekrutmen Manajer Kopdes Tak Boleh Ada Titipan

Jumat, 17 April 2026 | 13:50

Kasus Chat Cabul Mahasiswa Merebak di IPB, DPR Minta Kampus Bertindak Tegas

Jumat, 17 April 2026 | 13:41

Penahanan Harga BBM Non-Subsidi Dikhawatirkan Ganggu Kesehatan Fiskal

Jumat, 17 April 2026 | 13:39

PPIH Ujung Tombak Keberhasilan Penyelenggaraan Haji

Jumat, 17 April 2026 | 13:31

KPK Temukan Dapur MBG Tak Layak, Kasus Keracunan Jadi Alarm Serius

Jumat, 17 April 2026 | 13:22

Selengkapnya