Berita

Ilustrasi penerapan jalan berbayar di Jakarta/RMOLJakarta

Publika

Penerapan ERP di Jakarta Membuat Orang Miskin Terpinggirkan

JUMAT, 13 JANUARI 2023 | 03:11 WIB | OLEH: ACHMAD NUR HIDAYAT

HIDUP di Indonesia semakin susah. Teknologi semakin maju tapi kebutuhan-kebutuhan mendasar semakin ribet. Begitu pula berbagai kerumitan birokratif membuat masyarakat mengalami kesulitan.

Saat ini Pj Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono berencana menerapkan Electronic Road Pricing (ERP) dimana penggunaan jalan tertentu akan dikenai tarif pembayaran. ERP ini bukan hal yang baru, Singapur menerapkan ERP sudah sejak tahun 1998.

Kebijakan ini sudah dipastikan akan banyak penentangan dari publik seperti yang terjadi di Hong Kong dimana proposal tentang skema ERP ini ditolak oleh masyarakat.


Kabarnya ERP ini berhasil mengurangi kemacetan di beberapa negara yang menerapkannya. Tapi apakah kondisinya sama seperti Jakarta atau Indonesia pada umumnya?

Kita lihat bagaimana Singapura yang masyarakatnya harus mengeluarkan biaya yang mahal untuk mendapatkan lisensi mengemudi (SIM). Dari hal ini saja sudah sangat terurai bahwa pengguna kendaraan khususnya roda empat disana adalah masyarakat dengan penghasilan yang besar. Belum lagi jumlah penduduk yang tidak begitu besar, yang tentunya penerapan ERP di Singapur akan lebih mudah dirasakan dampaknya. Tentunya jika dibandingkan dengan kondisi Jakarta menjadi tidak Apple to Apple.

Di Indonesia khususnya di DKI Jakarta, pengguna kendaraan roda empat belum tentu masyarakat menengah ke atas yang jika ERP ini diterapkan akan mengganggu kehidupan perekonomiannya apalagi wilayah aktivitasnya berada di wilayah yang menerapkan ERP. Ini akan sangat memberatkan.

Rakyat harus berinvestasi membeli alat in-vehicle unit (IU) tempat kartu pintar dipergunakan. Hal ini tentunya selain membebani masyarakat juga akan menyulitkan pengguna jalan yang berasal dari luar Jakarta yang ingin lewat.

Bagi masyarakat kelas atas tentunya program ini akan sangat menggembirakan. Mereka akan lebih nyaman terhindar dari kemacetan dengan menggunakan jalan yang menggunakan skema ERP. Bagi vendor pun tentunya akan menjadi proyek yang akan mendatangkan keuntungan.

Tapi bagaimana dengan masyarakat kelas bawah? mereka lagi-lagi akan terpinggirkan karena tidak mampu melewati jalan yang menerapkan skema ERP. Padahal pada prinsipnya jalan itu milik rakyat, kenapa rakyat harus bayar?

Lagi-lagi akan ada kesan bahwa pemerintah DKI Jakarta lebih melayani kepentingan kalangan atas daripada masyarakat kelas bawah.

Sebetulnya masih ada cara lain jika ingin mengurai kemacetan. Yang secara kongkrit sudah dilaksanakan oleh Jakarta adalah penerapan transportasi publik terintegrasi di DKI Jakarta kini sudah dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Pengguna jalan yang biasanya membawa kendaraan pribadi sudah banyak yang beralih ke transportasi publik karena kenyamanan dan efisiensi yang dirasakan oleh para penggunanya. Jika ini dikembangkan lebih luas tentunya secara gradual dipastikan akan mengurangi tingkat kemacetan.

Akan ada transformasi dari penggunaan kendaraan pribadi beralih kepada penggunaan transportasi publik jika transportasi publik bisa lebih nyaman dan menjangkau banyak titik strategis yang memudahkan masyarakat berkunjung ke berbagai penjuru Jakarta.
Jadi kebijakan penerapan ERP ini harus ditolak. Publik akan merasa semakin hari hidup di DKI Jakarta semakin sulit. Hal ini akan menimbulkan keresahan dimasyarakat yang akan membuat citra pemerintah akan semakin buruk.

*Penulis adalah Ekonom dan Pakar Kebijakan Publik Narasi Institute

Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Silfester Matutina Diduga Masuk List Saksi Sidang Ijazah Jokowi

Minggu, 25 Oktober 2026 | 04:00

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

Ketua KPK Bakal Babak Belur Gara-gara Nusron

Senin, 26 Oktober 2026 | 13:02

UPDATE

Hashim Bantah Janjikan HP Gratis, Ngaku Dipelintir Media

Jumat, 30 Oktober 2026 | 00:13

Hemat Biaya Operasional, Drone Pertanian Frogs Bidik Program Cetak Sawah

Kamis, 29 Oktober 2026 | 23:45

28 Jam Pemuda Bicara di Malang Usung Deklarasi ‘Sumpah Promptmuda’

Kamis, 29 Oktober 2026 | 23:24

Kemenkop dan Pertamina Patra Niaga Luncurkan Model Pengumpulan Minyak Jelantah

Kamis, 29 Oktober 2026 | 22:59

Asap dan Sengsara

Kamis, 29 Oktober 2026 | 22:52

Sempat Ditahan, 19 Demonstran Sumpah Pemuda Dibebaskan

Kamis, 29 Oktober 2026 | 22:38

32,7 Juta Investor Kecewa Nilai Saham Anjlok Imbas MSCI, Hashim: Saya Juga

Kamis, 29 Oktober 2026 | 22:12

PLN Siap Pasok Daya Andal untuk Jaringan Usaha Telkom Group

Kamis, 29 Oktober 2026 | 21:47

Tim Yaqut Hadirkan Saksi Meringankan dalam Sidang Kuota Haji

Kamis, 29 Oktober 2026 | 21:36

Singapura Panggil 10 Perusahaan RI soal Karhutla, Rosan: Investasi Tetap Terbuka

Kamis, 29 Oktober 2026 | 21:21

Selengkapnya