Berita

Anggota DPRD Kabupaten Indramayu, Ruyanto, dan Kuasa Hukum Syamsul Bahri Siregar/Ist

Politik

Tak Terima Dituding Indisipliner dan Dipecat Nasdem, Anggota DPRD Indramayu Tempuh Jalur Hukum

KAMIS, 29 DESEMBER 2022 | 08:19 WIB | LAPORAN: AGUS DWI

Menempuh jalur hukum jadi jalan yang akhirnya dipilih anggota DPRD Indramayu, Ruyanto, terkait kabar Pergantian Antar Waktu (PAW) dan pemecatan dirinya Ruyanto dari keanggotaan Partai Nasdem.

Ruyanto tersebut menilai ada keganjilan dengan kebijakan yang dibuat partainya di setiap tingkatan. Pasalnya, usulan PAW yang diajukan dan pemecatan dirinya dari keanggotaan partai tidak sesuai ketentuan.

Ruyanto mengklaim tidak melakukan pelanggaran apapun. Jikapun melakukan pelanggaran, seharusnya ia mendapat panggilan untuk disidang oleh Mahkamah Partai.


“Yang namanya pemberhentian itu ada mekanismenya dan tidak semudah itu prosesnya. Itu diatur dalam AD/ART partai. Masalah ini sekarang sudah menjadi materi gugatan di peradilan umum,” ujar Ruyanto, dikutip Kantor Berita RMOLJabar, Rabu (28/12).

Sementara itu, Kuasa Hukum Ruyanto, Syamsul Bahri Siregar mengatakan, ia diberi kuasa penuh oleh kliennya terkait gugatan terhadap partai pimpinan Surya Paloh tersebut.

Syamsul mengatakan, pihaknya akan menggugat DPD Partai Nasdem Indramayu, DPW Partai Nasdem Jabar, DPP Partai Nasdem, dan Mahkamah Partai Nasdem.

Ia menjelaskan, kliennya selama ini melakukan kewajiban dan tanggung jawab baik sebagai kader partai dan anggota DPRD Indramayu. Mulai dari menunaikan iuran-iuran yang merupakan kewajiban kader kepada partai, hingga melakukan tugas dan fungsi DPRD yang merupakan tanggungjawab terhadap konstituennya.

Akan tetapi, Ruyanto justru mendapat surat peringatan berisikan ia dituduh melalukan perbuatan indisipliner dari DPD Partai Nasdem Indramayu per 4 Februari 2022.

“Dan yang bersangkutan kebingungan dengan tuduhan indisipliner itu. Karena klien (Ruyanto) tidak pernah menerima surat peringatan itu secara langsung. Tahunya itu ketika dipanggil Ketua DPRD dan ditunjukkan ada surat peringatan. Makanya Pak Ruyanto merasa terzolimi sekali,” ujar dia.

Syamsul menilai, DPD Nasdem Indramayu sudah mengabaikan hak-hak konstitusional yang bersangkutan, dalam hal ini hak untuk membela diri.

Kondisi itu jelas bertentangan dengan Undang-undang MD3 dan AD/ART partai. Yakni, sebelum memberikan peringatan itu harus meminta klarifikasi dahulu dari yang bersangkutan.

Di sisi lain, di Partai Nasdem pun sebenarnya tidak mengenal istilah surat peringatan. Karena sanksi itu bentuknya teguran lisan dan tertulis, serta pemberhentian.

Gugatan kedua dilayangkan untuk DPW Partai Nasdem Jabar dan gugatan ketiga terhadap DPP Partai Nasdem. Karena Syamsul berpandangan, DPW ikut terlibat konspirasi, terlalu cepat memberikan keputusan.

Surat peringatan itu diketahui tercatat tanggal 4 Februari 2022, kemudian DPW membuat surat usulan PAW tertanggal 14 Februari 2022.

“Jeda waktunya hanya sepuluh hari, dan Pak Ruyanto tidak bisa menggunakan haknya,” jelasnya

Menurut Syamsul, dua hari kemudian, pengurus harian di tingkat DPP Nasdem melakukan rapat untuk memutuskan bahwa Ruyanto melanggar atau indisipliner. Nah, Ruyanto baru tahu soal ini sebulan kemudian saat dipanggil Ketua DPRD.

Untuk itu, berdasarkan ketentuan perundang-undangan, pihaknya pun memutuskan untuk mengajukan keberatan atas putusan DPP ke Mahkamah Partai.

Namun, setelah menunggu selama 2 bulan dan tidak ada tanggapan, pihaknya kembali berkirim surat lagi untuk meminta permohonan ditindaklanjuti.

Setelah itu, baru muncul surat balasan dari Mahkamah Partai yang berisikan untuk pengajuan harus dilakukan oleh Ruyanto dan tidak bisa diwakilkan oleh kuasa hukumnya.

“Dan masih dalam tenggat waktu yang ditentukan Ruyanto datang langsung menyerahkan gugatan sengketa internal partai ke Mahkamah Partai Nasdem,” imbuhnya.

Akan tetapi, dalam kurun waktu menunggu jawaban selanjutnya, Ruyanto justru dikejutkan dengan muncul keputusan baru dari partai yaitu pemberhentian keanggotaan.

Karena itulah, Ruyanto turut menggugat Mahkamah Partai karena tidak bisa menjalankan kewenangan hukumnya selama kurun waktu 60 hari sejak diajukannya gugatan.

“Dan kami memutuskan untuk mengajukan gugatan ke PN yaitu perkara perbuatan melawan hukum, tanggal 26 Desember resmi mengajukan gugatan ke PN Indramayu,” tutupnya.

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Andre Rosiade Sambangi Bareskrim Polri Usai Nenek Penolak Tambang Ilegal Dipukuli

Senin, 12 Januari 2026 | 14:15

Cuaca Ekstrem Masih Akan Melanda Jakarta

Senin, 12 Januari 2026 | 14:10

Bitcoin Melambung, Tembus 92.000 Dolar AS

Senin, 12 Januari 2026 | 14:08

Sertifikat Tanah Gratis bagi Korban Bencana Bukti Kehadiran Negara

Senin, 12 Januari 2026 | 14:03

KPK Panggil 10 Saksi Kasus OTT Bupati Lampung Tengah Ardito Wijaya

Senin, 12 Januari 2026 | 14:03

Prabowo Terharu dan Bangga Resmikan 166 Sekolah Rakyat di Banjarbaru

Senin, 12 Januari 2026 | 13:52

Kasus Kuota Haji, Komisi VIII Minta KPK Transparan dan Profesional

Senin, 12 Januari 2026 | 13:40

KPK Periksa Pengurus PWNU DKI Jakarta Terkait Dugaan Korupsi Kuota Haji

Senin, 12 Januari 2026 | 13:12

Prabowo Tinjau Sekolah Rakyat Banjarbaru, Ada Fasilitas Smartboard hingga Laptop Persiswa

Senin, 12 Januari 2026 | 13:10

Air Naik hingga Sepinggang, Warga Aspol Pondok Karya Dievakuasi Polisi

Senin, 12 Januari 2026 | 13:04

Selengkapnya