Berita

Aksi unjuk rasa Partai Prima di depan kantor KPU RI, Kamis (8/12)/RMOL

Politik

Massa Aksi Prima Tuding KPU Disusupi Oligarki

KAMIS, 08 DESEMBER 2022 | 15:52 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Isi orasi massa aksi unjuk rasa Partai Rakyat Adil Makmur (Prima) di depan kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI, Jalan Imam Bonjol, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (8/12), salah satunya menyebut-nyebut perihal oligarki.

Salah satu orator yang naik di atas mobil komando berpakaian kemeja kotak-kotak warna biru menyampaikan orasinya sebagai bentuk kekecewaan kepada KPU RI yang tak meloloskan Prima dalam tahapan verifikasi administrasi.

Orator ini menyebutkan indikasi kecurangan dilakukan oleh KPU RI, karena mereka merasa data keanggotaan parpol yang menjadi salah satu syarat untuk menjadi peserta Pemilu Serentak 2024 telah disetor Prima secara lengkap.


"Tapi di Papua menyatakan bahwa rekapan tidak memenuhi syarat. Akan tetapi data yang sudah masuk di KPU ini, dalam kurun waktu 30 menit akan berubah di tangan KPU RI," ujar sang orator.

Tak cuma itu, orator itu juga menyampaikan permintaan Prima agar hasil rekapitulasi data keanggotaan yang dilakukan KPU RI seharusnya dilakukan audit.

"KPU RI harus transparan terhadap rakyat, menyampaikan apa yang diduga oleh saudara-saudara lain yang diubah oleh kawan-kawan (KPU RI), di luar sana atau publik supaya tidak menjadi bumerang bagi masyarakat," katanya.

Lebih lanjut, sang orator mewanti-wanti kepada pimpinan KPU RI untuk menyampaikan secara terbuka hasil verifikasi administrasi yang sudah berjalan pada Oktober 2022 lalu.

Jika tidak, Prima mengancam akan kembali menggeruduk kantor KPU RI, dan menganggap ada pihak-pihak yang memiliki kekuatan modal telah mempengaruhi lembaga penyelenggara pemilu ini.

"Bukan saya mengancam. Bahwa ketika tidak mempertanggungjawabkan perbuatan, tidak demokratis, maka kami akan yakinkan, akan kami datangkan yang lebih besar dan kami duduki," ucap sang orator.

"Ternyata KPU RI adalah penyelenggara yang bukan lagi fatal, ternyata disusupi oleh oligarki para pemodal yang sengaja menjegal rakyat biasa yang tidak memiliki alat politik, kekuatan sampai dibiarkan dengan kemiskinan," tandasnya.

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Kasus MBG Melebar, Tersangka Sebut 30 Tokoh Besar Terlibat

Sabtu, 06 Juni 2026 | 23:39

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

iPhone Raffi Ahmad Dikirim dari AS Tanpa Disebut dalam Dokumen

Selasa, 09 Juni 2026 | 00:01

UPDATE

Penumpang Kereta Bandara Tembus 6,2 Juta Pelanggan Hingga Mei 2026

Selasa, 16 Juni 2026 | 14:20

Fantastis! Harta Menteri dari PAN Trenggono Melejit Setengah Triliun dalam Setahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 14:15

Prabowo Dorong WNI Masuk Pasar Kerja Teknologi Jerman

Selasa, 16 Juni 2026 | 14:11

Warna-warni Kendaraan Hias Meriahkan Perayaan 1 Muharam

Selasa, 16 Juni 2026 | 14:10

Oktasari: Kritik Boleh, Tapi Jangan Abaikan Kerja Pemerintah

Selasa, 16 Juni 2026 | 13:46

Prabowo Sampaikan Ucapan Selamat Tahun Baru Islam 1448 Hijriah

Selasa, 16 Juni 2026 | 13:20

Belum Lapor LHKPN 2025, Mendes Yandri Punya Harta Rp20,95 Miliar Saat Awal Menjabat

Selasa, 16 Juni 2026 | 13:20

Israel Masih Tak Terima Rencana Damai Iran-AS

Selasa, 16 Juni 2026 | 13:12

Kekayaan Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan Naik 83 Persen dalam Dua Tahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 12:52

Universitas Binawan Buka Akses Penyetaraan Kualifikasi Nakes Indonesia di Uni Eropa

Selasa, 16 Juni 2026 | 12:44

Selengkapnya