Berita

Mata uang dolar AS dan rupiah/Net

Publika

Penyempurnaan Kerusakan Ekonomi Indonesia

MINGGU, 13 NOVEMBER 2022 | 09:53 WIB | OLEH: SALAMUDDIN DAENG

ADA dua indikator utama ekonomi negara itu menuju kerusakan atau menuju perbaikan, yakni penerimaan negara  sebagai indikator pemeirntah berhasil cari uang atau gagal. Kedua, nilai tukar sebagai indikator pemerintah berhasil berdagang secara internasional atau gagal. Dari dua indikator tersebut ternyata pemerintahan Jokowi akan berakhir dengan kerusakan ekonomi Indonesia yang makin parah.

Jaman pemerintahan SBY awal penerimaan negara terhadap Gross Domestic Product (GDP) berada pada posisi 13 persen lebih. Diujung pemerintahan SBY penerimaan negara merosot menjadi 10,8 persen terhadap GDP. Dalam ekonomi GDP adalah indikator yang utama. GDP adalah total output yang dihasilkan dalam ekonomi. Makin tinggi GDP seharusnya penerimaan negara makin besar. Kalau sebaliknya berarti banyak yang maling, korupsi atau nyolong di negara itu.

Pemerintahan Jokowi selanjutnya menyempurnakan kerusakan dalam penerimaan negara. Meskipun laju eksploitasi sumber daya alam berlangsung masif dan rakyat dipajakin makin intensif, tapi penerimaan negara terhadap GDP jatuh sampai titik terendah.


Menurut data Bank Dunia, sejak tahun 2014 begitu pemerintahan Jokowi dimulai penerimaan negara terhadap GDP terus meluncur secara pasti tanpa ada kemampuan mengatasinya. Tahun 2020 penerimaan negara terhadap GDP hanya sebesar 8,3 persen. Ini adalah yang paling buruk sejak tahun 1981 di mana penerimaan negara terhadap GDP saat itu sempat mencapai 21,8 persen

Kerusakan paling besar yang telah mengakibatkan makin terpuruknya indonesia dalam pergaulan global dan perdagangan internasional adalah terpuruknya nilai tukar rupiah.

Di masa awal pemerintahan SBY nilai tukar rupiah terhadap dolar AS senilai Rp. 8700 per dolar AS. Seiring berjalannya pemerintahan SBY nilai tukar rupiah terhadap dolar AS meluncur sampai akhir pemerintahan SBY  menjadi Rp 12 300 per dolar AS. Tetapi rata rata kurs sepanjang pemerintahan ini adalah Rp 10.000 per dolar AS.

Nah pemerintahan Jokowi membawa nilai tukar mata uang Indonesia makin tidak berharga. Menyempurnakan Kerusakan dalam nilai mata uang negara. Nilai rupiah terhadap USD sepanjang pemerintahan Jokowi talah merosot 50 persen lebih.

Sekarang nilai tukar rupiah terhadap dolar AS adalah Rp 15.700 per dolar AS. Jika pada masa pemerintahan SBY nilai tukar rupiah rata rata Rp 10.000 per dolar AS,. Maka selama pemerintahan Jokwi rata rata nilai tukar rupiah Rp 15.000 per dolar AS.

Ini mengerikan! Ini sama artinya dengan kekayaan ekonomi Indonesia telah merosot separuh, namun pada saat bersamaan kewajiban Indonesia terhadap asing yakni utang dalam mata uang dolar telah meningkat separuh. Ibarat negara ini sudah jatuh, masih ditimpa tangga.

Kerusakan tampaknya akan terus berlanjut. Jika belajar dari pengalam sekarang transisi antara SBY Pemerintahan Jokowi. Maka transisi pemerintahan Jokowi ke pemerintahan baru menuju pemilu serentak 2024 bisa jadi akan membuat  rupiah akan kehilangan nilai lebih banyak lagi. Hal ini dikarenakan menjelang peristiwa politik besar seperti pemilu gonjang ganjing politik dan ketidakpastian makin buruk.

Rupiah akan mengarah ke Rp 20.000 hingga Rp 25.000 per dolar AS. Sebab pundamentalnya adalah hampir tidak ada penahan tergerusnya cadangan devisa Indonesia yang tergantung pada impor dan kewajiba membayar utang luar negeri yang sangat besar.

Penulis adalah peneliti Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI)

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

Deteksi Dini, Lapas Cianjur Periksa Kesehatan Warga Binaan dan Pegawai

Jumat, 25 September 2026 | 20:20

Tahu Manuver Pelindo, Kejagung Serahkan Eksekusi Silfester Matutina ke Kejari Jaksel

Jumat, 25 September 2026 | 20:16

Antam Serap 9 Ton Emas Freeport hingga Agustus 2026

Jumat, 25 September 2026 | 19:43

160 Ribu Orang Ikut Rekrutmen BI, Lulusan Teknologi Masih Minim

Jumat, 25 September 2026 | 19:36

Ratusan Hotel di Bandung Dijual, Pemerintah Jangan Tutup Mata!

Jumat, 25 September 2026 | 19:09

Kata IPW, Ombudsman Melampaui Kewenangan Saat Sidak Lapas Cibinong

Jumat, 25 September 2026 | 19:08

Xiaomi 18 Fold Smartphone Lipat Canggih Bertenaga Kamera Leica

Jumat, 25 September 2026 | 18:41

Bogasari Dorong UMKM Surabaya Naik Kelas

Jumat, 25 September 2026 | 18:37

KPU Harus Terang Benderang Jelaskan Verifikasi Syarat Pendidikan Gibran

Jumat, 25 September 2026 | 18:28

DPR Segera Panggil Ombudsman dan Ditjenpas soal Sidak Lapas Cibinong

Jumat, 25 September 2026 | 18:18

Selengkapnya