Berita

Menteri Lingkungan Hidup Taiwan, Chang Tzi-chin/Ist

Dunia

Taiwan Siap Bangun Kerja Sama Internasional Demi Tercapainya Emisi Nol Bersih Tahun 2050

JUMAT, 04 NOVEMBER 2022 | 16:28 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Saat ini negara-negara di dunia mulai memiliki kesadaran atas dampak besar perubahan iklim dan berjalan menuju transisi emisi nol bersih sebagaimana komitmen mereka yang tertuang dalam Perjanjian Paris.

Menteri Lingkungan Hidup Taiwan, Chang Tzi-chin, dalam sebuah artikelnya menyatakan jika negaranya berkomitmen untuk mengatasi perubahan iklim global dan memajukan transisi energi.

"Taiwan bersedia dan mampu bekerja sama dengan mitra internasional untuk bersama-sama mencapai transisi nol bersih, memobilisasi aksi iklim global, dan memastikan lingkungan yang berkelanjutan bagi generasi mendatang," paparnya.


Taiwan tengah melakukan upaya iklim yang substansial dan dengan giat memajukan transisi energi.  

"Hingga Mei 2022, kapasitas energi terbarukan secara kumulatif telah mencapai 12,3 GW, meningkat  60 persen dari tahun 2016," paparnya.

Tzi-chin membuktikan jika ekonomi Taiwan bahkan tetap tumbuh saat negara itu gencar-gencarnya menerapkan kebijakan transisi energi.

"Dari tahun 2005 hingga 2020, PDB Taiwan tumbuh sebesar 79 persen.  Dalam periode yang sama, intensitas emisi gas rumah kaca turun 45 persen, menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi telah terpisahkan dari emisi gas rumah kaca," jelasnya.

Tzi-chin menyebut jika komitmen itu juga direalisasikan Taiwan melalui pedoman Langkah Taiwan menuju Emisi Nol Bersih pada tahun 2050 yang dirilis pada Maret lalu.

Selain itu, Undang-Undang Pengurangan dan Pengelolaan Gas Rumah Kaca sedang diamandemen dan akan diganti namanya menjadi Undang-Undang Penanganan Perubahan Iklim.

Kontribusi Taiwan untuk mengatasi iklim sejauh ini dinilai Tzi-chin sangat banyak, namun tetap tidak maksimal karena negaranya telah dikeluarkan dari organisasi internasional.

"Namun, karena faktor politik, Taiwan dikeluarkan dari organisasi internasional dan tidak dapat berpartisipasi secara substantif dalam diskusi tentang isu-isu iklim global," kata Tzi-chin.

Tzi-chin memperkirakan bahwa akan sulit bagi Taiwan untuk tetap mengikuti perkembangan saat ini dan melaksanakan tugas terkait dengan benar.

"Jika tidak dapat terhubung dengan mulus dengan mekanisme kerja sama internasional di bawah Perjanjian Paris, ini tidak hanya akan mempengaruhi proses industri hijau Taiwan, tetapi juga akan merusak stabilitas rantai pasokan internasional," tegasnya.

Untuk itu, kata Tzi-chin, Taiwan harus diberi kesempatan yang sama untuk bergabung dengan mekanisme kerja sama internasional dalam menanggapi perubahan iklim.

"Kami berharap komunitas internasional bisa mendukung Taiwan untuk berpartisipasi secara cepat, adil, dan bermakna," pungkasnya.

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Lie Putra Setiawan, Mantan Jaksa KPK Dipercaya Pimpin Kejari Blitar

Selasa, 13 Januari 2026 | 00:04

Pemangkasan Produksi Batu Bara Tak Boleh Ganggu Pasokan Pembangkit Listrik

Selasa, 13 Januari 2026 | 00:00

Jaksa Agung Mutasi 19 Kajari, Ini Daftarnya

Senin, 12 Januari 2026 | 23:31

RDMP Balikpapan Langkah Taktis Perkuat Kemandirian dan Ketahanan Energi Nasional

Senin, 12 Januari 2026 | 23:23

Eggi Sudjana-Damai Hari Lubis Ajukan Restorative Justice

Senin, 12 Januari 2026 | 23:21

Polri dan TNI Harus Bersih dari Anasir Politik Praktis!

Senin, 12 Januari 2026 | 23:07

Ngerinya Gaya Korupsi Kuota Haji

Senin, 12 Januari 2026 | 23:00

Wakapolri Tinjau Pembangunan SMA KTB Persiapkan Kader Bangsa

Senin, 12 Januari 2026 | 22:44

Megawati: Kritik ke Pemerintah harus Berbasis Data, Bukan Emosi

Senin, 12 Januari 2026 | 22:20

Warga Malaysia Ramai-Ramai Jadi WN Singapura

Senin, 12 Januari 2026 | 22:08

Selengkapnya