Berita

Militer Myanmar/Net

Dunia

Pakar: China Gunakan Pakistan sebagai Proxy untuk Pasok Senjata ke Junta Myanmar

MINGGU, 09 OKTOBER 2022 | 20:50 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Kedekatan China dengan junta Myanmar telah banyak dipertanyakan, dengan Beijing diduga telah banyak mengekspor alutsista ke rezim militer tersebut di tengah perlanggaran HAM di Burma.

Baru-baru ini, muncul sebuah skenario yang dianalisis para pakar terkait upaya China mempersenjatai junta Myanmar, yaitu melalui negara ketiga.

Lewat tulisannya di The Irrawaddy, analis politik Yan Naing menilai Beijing telah berhati-hati untuk terlibat, tidak hanya dengan junta tetapi juga dengan Pemerintah Persatuan Nasional (NUG), sejak kudeta Myanmar pada Februari 2021.


Beijing waspada terhadap sentimen anti-China di Myanmar dan kemungkinan serangan balasan jika terlihat memasok senjata ke junta.

"Tetapi China bukanlah tetangga yang dapat dipercaya, dan dukungan Beijing yang dirahasiakan untuk militer Myanmar sedang dipantau secara ketat. Tidak seperti Rusia, China tidak dapat secara terbuka menjual senjata kepada rezim tersebut,” kata Yan, yang menggunakan nama samaran.

Mengutip sumber intelijen, Yan menuturkan, China menggunakan Pakistan sebagai perantara untuk menjual dan mengekspor perangkat keras militer ke junta Myanmar.

Hal itu dilakukan lantaran Myanmar mulai melakukan pendekatan dengan Rusia. Pemimpin kudeta Jenderal Min Aung Hlaing bahkan melakukan beberapa kunjungan ke Rusia untuk menyatakan niat membeli jet tempur, helikopter, dan rudal.

"China khawatir akan kehilangan Myanmar sebagai pelanggan senjatanya," ujar Yan.

Dalam beberapa tahun terakhir, khususnya sejak kudeta, hubungan keamanan dan kerjasama pertahanan Pakistan dengan Myanmar telah meningkat. Pakistan dilaporkan mengirimkan dua pesawat JF-17 Thunder Block-II ke Angkatan Udara Myanmar.

Saat ini, Yan mengungkap, junta militer juga mempertimbangkan untuk membeli senapan mesin berat dan peluncur granat dari Pakistan.

Populer

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

TNI Tegas dalam Kasus Andrie Yunus, Beda dengan Polri

Sabtu, 21 Maret 2026 | 05:03

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

Polisi Diminta Profesional Tangani Kasus VCS Bupati Lima Puluh Kota

Jumat, 20 Maret 2026 | 00:50

Pertemuan Megawati-Prabowo Menjungkirbalikkan Banyak Prediksi

Sabtu, 21 Maret 2026 | 04:12

UPDATE

KH Sholeh Darat Diusulkan jadi Pahlawan Nasional

Senin, 30 Maret 2026 | 05:59

Pentingnya Disiplin Informasi dalam KUHP Baru

Senin, 30 Maret 2026 | 05:43

Dikenal Warga sebagai Orang Baik, Pegawai Ayam Geprek Ditemukan Tewas

Senin, 30 Maret 2026 | 05:16

Aburizal Bakrie Kenang Juwono Sudarsono sebagai Putra Terbaik Bangsa

Senin, 30 Maret 2026 | 04:57

Mitra MBG Jangan Coba-coba Markup Harga Bahan Baku

Senin, 30 Maret 2026 | 04:40

Ikrar Setia ke NKRI

Senin, 30 Maret 2026 | 04:23

Pertamina Fasilitasi Pemudik Balik ke Jakarta dengan Lancar

Senin, 30 Maret 2026 | 03:59

Merajut Hubungan Sipil-Militer

Senin, 30 Maret 2026 | 03:50

Hadapi Bulgaria, Timnas Indonesia Bakal Tertolong Dukungan Suporter

Senin, 30 Maret 2026 | 03:27

BGN Dorong Penguatan Ekosistem Peternakan Demi Serap Lapangan Kerja

Senin, 30 Maret 2026 | 02:59

Selengkapnya