Berita

Presiden China Xi Jinping/Net

Dunia

Soal Taiwan, China Harusnya Bisa Ambil Pelajaran dari Kegagalan Rusia di Ukraina

JUMAT, 09 SEPTEMBER 2022 | 12:04 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Ambisi China untuk menguasai Taiwan dibuktikan Presiden Xi Jinping dengan menetapkan batas waktu pendudukan Taipei bagi militernya pada 2027, hanya lima tahun dari sekarang.

Ditambah lagi dengan ketegangan yang diluncurkan China di Selat Taiwan dengan melakukan pelatihan dan uji coba militer, telah banyak menimbulkan kekhawatiran strategis terkait prospek invasi jangka pendek yang akan dilakukan.

Wakil Menteri Pertahanan (Wamenhan) Amerika Serikat (AS), Colin H. Kahl, mengatakan meskipun China sangat ingin memperluas pengaruh politik dan militernya di kawasan Indo-Pasifik, tetapi langkah agresif terhadap Taiwan kemungkinan besar akan dilakukan Beijing dengan lebih hati-hati.


"Saya tidak berpikir bahwa China ingin menempatkan posisi seperti Rusia saat ini yang menyerang tetangga demokratisnya. Saya pikir jika itu terjadi, maka China akan menanggung biaya politik dan ekonomi yang sangat signifikan," ujarnya, seperti dikutip dari laman Departemen Pertahanan AS pada Jumat (9/9).

Khal mengatakan jika China bisa saja mengambil pelajaran dari invasi Rusia ke Ukraina selama enam bulan terakhir, dan berharap Beijing akan berfikir untuk tidak melakukan hal yang sama.

"Saya berharap mereka akan mengambil pelajaran dari pengalaman Rusia, bahwa mungkin seharusnya kita tidak melakukan itu," lanjutnya.  

Percepatan batas waktu penyatuan China dengan Thaiwan yang diinginkan Xi Jinping menurut Kahl tetap ada potensi untuk dilakukan. Namun sejauh ini, Kahl tidak melihat indikasi Xi akan melakukannya dalam waktu dekat.

Sementara itu, bagi Kahl, kekhawatiran yang lebih besar sebenarnya terjadi ketika China menjadi semakin tegas untuk merubah status quo Taiwan dan menghadapi AS yang merupakan sekutu Taipei.

Menurut Kahl, Rusia memang tidak menimbulkan tantangan bagi AS dan tatanan internasional berbasis aturan dalam jangka panjang seperti yang dilakukan China. Tetapi dalam jangka pendek, Beijing akan menjadi aktor yang cukup berbahaya.

"Untuk itu, AS dan sekutunya harus mewaspadai tindakan agresif angkatan laut dan angkatan udara Tentara Pembebasan Rakyat China yang berisiko menimbulkan insiden internasional," pungkasnya.

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

Jokowi Injak Kepala Kerbau saat Terima Gelar Adat Lampung, Apa Maknanya?

Selasa, 30 Juni 2026 | 18:21

Safari Politik Jokowi Bukti Kepemimpinan Gibran dan Kaesang Lemah

Selasa, 30 Juni 2026 | 18:21

Jokowi dan PSI, Duri dalam Daging Pemerintahan Prabowo

Selasa, 30 Juni 2026 | 18:09

Daftar Wilayah yang Berpotensi Terdampak El Nino 2026

Selasa, 30 Juni 2026 | 18:05

Keiko Fujimori Akhirnya Bernasib Sama Seperti Prabowo

Selasa, 30 Juni 2026 | 18:03

KPK Sebut 10 Orang Diamankan dalam OTT Kuansing

Selasa, 30 Juni 2026 | 17:57

Panitia Minta Jokowi Datang Setelah Acara Adat, Kunjungan Malah Batal

Selasa, 30 Juni 2026 | 17:50

Koperasi Beri Ruang Bagi Mahasiswa Berwirausaha

Selasa, 30 Juni 2026 | 17:37

Tutup Perdagangan Akhir Bulan: IHSG Merosot ke 5.643, Rupiah Loyo Dekati Rp18 Ribu

Selasa, 30 Juni 2026 | 17:28

Ketum AHY: Genap 25 Tahun, Partai Demokrat Ingin jadi Bagian Solusi

Selasa, 30 Juni 2026 | 17:19

Selengkapnya