Berita

Anggota Komisi V DPR RI, Mulyadi/Repro

Politik

Legislator Gerindra: Keberpihakan Negara terhadap Masyarakat Desa Baru Sebatas Retorika dan Seremoni

KAMIS, 08 SEPTEMBER 2022 | 08:59 WIB | LAPORAN: AGUS DWI

Keberpihakan pemerintah terhadap pemerintah desa dan masyarakat desa dinilai masih sebatas retorika dan seremonial belaka. Padahal, saat ini mayoritas penduduk Indonesia justru tinggal di desa-desa.

Hal ini disampaikan anggota Komisi V DPR RI, Mulyadi, saat menghadiri forum Rapat Dengar Pendapat Wakil Rakyat dengan Kementerian Desa Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, Rabu kemarin (7/9).

"Mohon maaf dengan segala hormat, kita tidak boleh terjebak dalam konsep retorika dan seremonial saja. Katanya pembangunan harus dimulai dari desa karena sebagian besar masyarakat kita tinggal di desa. Tapi sayangnya, keberpihakan terhadap masyarakat desanya hanya seperti menggugurkan kewajiban," tutur Mulyadi, melalui keterangannya, Kamis (8/9).


Selain itu, kata salah satu anggota Banggar DPR itu, selama ini negara membebankan target muluk kepada Kementerian Desa Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi tanpa ditunjang oleh anggaran yang memadai.

"Ekspektasi terhadap Kementerian Desa tinggi, tapi dikasih kendaraan dengan cc di bawah seribu. Sementara kita berharap mereka melakukan improvisasi dengan cc kendaraan di atas tiga ribu," ungkapnya.

Bagi Mulyadi, wajar saja jika selama belasan tahun belakangan improvisasi dari Kementerian Desa belum kelihatan. Sebab, selama ini keberpihakan negara terhadap masyarakat desa baru sebatas seremonial dan retorika.

Tentu Mulyadi bukan asal cuap. Sebagai wakil rakyat dari Dapil Bogor ia menemukan masih banyak desa-desa tertinggal di daerahnya.

Untuk membuktikan ucapannya, politikus Partai Gerindra itu mengundang pihak kementerian dan anggota dewan lainnya untuk datang langsung ke lokasi.

"Kan miris, radius tidak jauh dari pusat kekuasaan, Jakarta dan Istana Bogor, tapi masih banyak desa-desa tertinggal," katanya penuh sesal.

Oleh karena itu, Mulyadi pun meminta data status desa yang selama ini disampaikan oleh pemerintah untuk dikaji ulang.

"Kepada Menteri Keuangan sudah saya sampaikan, harus didefinisikan ulang apa yang dimaksud tingkat kemiskinan dan harus direview data-data yang dijadikan dasar informasi setiap keputusan dan kebijakan pusat," tegas Mulyadi.

"Di daerah saya terbukti ada masyarakat desa yang tidak bisa beli beras sampai 3 hari. Datang ke saya dengan kondisi yang memprihatinkan," imbuhnya.

Sebagai anggota dewan yang sehari-hari tampil gagah dengan setelan jas, dia jadi merasa malu saat menghadapi kenyataan seperti itu.

"Saya gagah nih, anggota DPR RI, pakai jas, disumpah jabatan untuk memperjuangkan Dapil, anggota Banggar pula yang membahas anggaran hingga tiga ribu triliun, yang saya bahas tiga ribu triliun. Tapi tiba-tiba di sms masyarakat yang meminta bantuan beras," demikian Mulyadi.

Menutup pembicaraan, ia meminta pemerintah berhenti mengumbar retorika dan fokus menyelesaikan permasalahn riil di masyarakat bawah.

"Saya meminta kepada Kepala Bapenas dan Gubernur BI supaya berhenti membicarakan di tataran atas, tapi bukti masyarakat di bawah kondisinya menyedihkan," pungkasnya.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

UPDATE

Jawab Tantangan Digital, Bawaslu Jadikan Kampus Laboratorium Demokrasi

Kamis, 01 Oktober 2026 | 05:54

DPD Ungkap Pola Investor ‘Berjudi’ Properti di Bali, Beli Aset Lalu Jual Lagi

Kamis, 01 Oktober 2026 | 05:24

Denny Indrayana Cs Debat Sengit dengan KPU soal Verifikasi Data Calon

Kamis, 01 Oktober 2026 | 04:50

Nakhoda KM Virgo Transport 8 Langsung Ditahan Penyidik

Kamis, 01 Oktober 2026 | 04:20

Digagas di Era Purbaya, Wacana Insentif Motor Listrik Masih Belum Jelas

Kamis, 01 Oktober 2026 | 03:59

Saksi Denny Indrayana Ungkap Tak Ada Bahasa Verifikasi Faktual Dokumen Capres-cawapres

Kamis, 01 Oktober 2026 | 03:34

Sjafrie Sematkan Tanda Kehormatan ke Tentara Jepang yang Bantu Atasi Karhutla

Kamis, 01 Oktober 2026 | 03:09

Kader PDIP Berpotensi Jabat Wapres Jika Gibran Didiskualifikasi

Kamis, 01 Oktober 2026 | 02:55

TNI Hormati Kejagung Imbas Penetapan Kolonel Budi Tersangka Korupsi MBG

Kamis, 01 Oktober 2026 | 02:42

Kemenperin Dukung Impor KRL Bekas dari Jepang, Ini Alasannya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 02:18

Selengkapnya