Berita

Ilustrasi/Net

Politik

Polemik Penyesuaian Harga BBM, Pengamat: Dana Subsidi Bisa Dimanfaatkan untuk Sektor Produktif

SENIN, 29 AGUSTUS 2022 | 23:24 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Pemerintah mewacanakan penyesuaian harga BBM bersubsidi karena sudah membebani APBN dan tidak tepat sasaran. Tidak sedikit yang menolak rencana ini, walau sebagian lainnya memberikan dukungan.

Bagi Pengamat dari Energy Watch Mamit Setiawan, subsidi BBM saat ini kontrapoduktif karena justru memperlebar jurang kesenjangan sosial antara masyarakat mampu dan tidak mampu.

"Subsidi BBM menjadi mubazir karena tidak dimanfaatkan sebagaimana mestinya. Sudah cukup kita membakar dana APBN kita di jalan raya, kita bisa memanfaatkan APBN di sektor produktif," kata Mamit Setiawan kepada wartawan, Senin (29/8).


Mamit menjelaskan, penyesuaian harga BBM subsidi harus dijelaskan dengan baik kepada masyarakat karena kondisi Indonesia saat ini bukan lagi sebagai net eksportir BBM melainkan sudah menjadi net importir.

"Nilai impor kita mencapai 1,6 juta barel per hari, sementara produksi hanya 600 ribu barel per hari, belum lagi pengaruh nilai tukar rupiah dengan dolar, sehingga nilai rupiah kita bisa terdepresiasi lebih dalam," terangnya.

Kata Mamit, mekanisme subdisi BBM yang tidak tepat sasaran harus segera diubah agar yang menikmati subsidi adalah mereka yang memang membutuhkan.

Menurut Mamit, harus segera dilakukan reformasi subsidi BBM, tidak lagi subsidi BBM tetapi subsidi orang sehingga tepat sasaran dan tidak membebani APBN.

"Data masyarakat kecil sudah ada, tinggal di-upgrade data sehingga masyarakat yang butuh akan mendapatkan subsidi. Sekarang kan banyak yang menikmati subsidi BBM ada mobil mobil mewah," kata Mamit.

Sementara itu, pengamat ekonomi dari Indonesia Next Policy Fithra Faisal Hastiadi mengatakan, wacana kenaikan harga BBM jangan dibiarkan berlarut karena akan berdampak pada angka inflasi yang lebih tinggi.

Dia juga meyakini pemerintah sudah menyiapkan sejumlah langkah untuk masyarakat yang membutuhkan, seperti kebijakan yang baru ini sedang disiapkan adalah penyaluran bantuan sosial.

"Sekarang defisit APBN di bawah 3 persen, itu akan terlampaui lagi dan membuat APBN tidak sehat dalam jangka menengah panjang. (Subsidi BBM) akan menjadi beban yang sangat berat apalagi hanya 2 persen masyarakat miskin yang menikmati subsidi BBM," demikian Fithra.

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

Pelaku Penembakan Rombongan Tito Karnavian Diringkus

Jumat, 03 April 2026 | 19:59

UPDATE

Nasdem Ingatkan Ancaman El Nino dan Dampak Geopolitik ke Pangan Nasional

Selasa, 07 April 2026 | 14:17

Istana Kaji Wacana Potong Gaji Menteri, Belum ada Keputusan

Selasa, 07 April 2026 | 14:14

Pemerintah Genjot Biofuel untuk Redam Dampak Kenaikan Harga Pangan

Selasa, 07 April 2026 | 14:02

Benteng Etika Digital: Pemerintah Godok Dua Perpres untuk Jinakkan Risiko AI

Selasa, 07 April 2026 | 13:53

KPK Panggil Petinggi 5 Perusahaan Travel Haji

Selasa, 07 April 2026 | 13:34

Seruan Saiful Mujani Tak Digubris, Istana: Prabowo Fokus Agenda Strategis

Selasa, 07 April 2026 | 13:33

Monitoring Ketat Jadi Kunci WFH ASN Tetap Produktif

Selasa, 07 April 2026 | 13:21

Pemerintah Klaim Ketahanan Pangan Nasional Stabil hingga 11 Bulan ke Depan

Selasa, 07 April 2026 | 13:17

Jangan Adu Domba Rakyat dengan Pemerintah Soal BBM

Selasa, 07 April 2026 | 13:11

Kasus Suap Pemkab Bekasi: KPK Periksa Istri Ono Surono Sebagai Saksi

Selasa, 07 April 2026 | 13:08

Selengkapnya