Berita

Mantan Duta Besar Inggris untuk Myanmar, Vicky Bowman/Net

Dunia

Junta Myanmar Tangkap Mantan Dubes Inggris, Balas Dendam?

JUMAT, 26 AGUSTUS 2022 | 09:49 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Junta Myanmar dilaporkan telah menahan mantan Duta Besar Inggris untuk negara tersebut, Vicky Bowman bersama dengan suaminya, Htein Lin.

Pasangan tersebut ditangkap pada Rabu (24/8) dan ditahan di penjara Insein. Mereka didakwa karena pelanggaran UU imigrasi serta terancam hukuman lima tahun penjara.

Bowman, pernah menjabat sebagai Dubes Inggris untuk Myanmar pada periode 2002 hingga 2006, dan memiliki pengalaman lebih dari tiga dekade di negara itu. Sementara suaminya, Htein Lin, merupakan seorang seniman terkenal di Burma dan mantan tahanan politik selama lebih dari enam tahun yang menentang kepemimpinan junta sebelumnya.


Dari laporan RFA News, Bowman sebelumnya telah memperoleh izin tinggal untuk menetap di Yangon, tempat ia menjalankan organisasi nirlabanya. Tetapi ia pindah ke rumah suaminya di kotapraja Kalaw, negara bagian Shan, antara 4 Mei 2021 hingga 9 Agustus 2022 tanpa memberi tahu pihak berwenang terkait perubahan alamatnya ini.

Banyak pihak menganggap penangkapan ini hanya mengada-ada, karena terjadi setelah Inggris mengumumkan sanksi baru pada junta Myanmar.

“Saya melihat ini sebagai bentuk balas dendam karena pemerintah Inggris mengumumkan sanksi baru-baru ini. Karena Vicky Bowman adalah mantan dubes Inggris, dia dan suaminya terjebak di tengah-tengah,” ujar pengamat Myanmar, Wai Hmuu Thwin.

Banyak kecaman yang datang kepada junta Myanmar terkait penangkapan Bowman. Salah satunya adalah dari Phil Robertson, seorang wakil direktur Asia untuk Human Rights Watch yang berbasis di New York.

Ia mengecam keputusan untuk menangkap pasangan itu sebagai tindakan yang tidak masuk akal, konyol dan penuh dendam.

Saat ini, Myanmar berada dalam kekacauan politik dan ekonomi sejak militer menggulingkan pemerintah terpilih pada awal 2021 lalu.

Menurut laporan dari Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik, pihak berwenang di Myanmar telah menangkap lebih dari 15.200 orang sejak awal kudeta, serta membunuh hampir 2.250 warga sipil.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

KPK Sita Rumah Mewah Milik Vinna Ledy Anggraheni di Jaksel

Selasa, 01 September 2026 | 11:03

UPDATE

Budi Arie Bakal Dipolisikan soal Ucapan Percepatan Pemilu 2029

Senin, 07 September 2026 | 22:28

Teluk Bayur: Jangan Membangun Aset Tanpa Kargo

Senin, 07 September 2026 | 22:10

PLTP Gunung Ungaran Miliki Sejumlah Manfaat, Eksplorasi Layak Dilanjutkan

Senin, 07 September 2026 | 21:55

Purbaya Tak Ambil Pusing Pramono Ngotot Terbitkan Obligasi DKI Rp5,2 Triliun

Senin, 07 September 2026 | 21:35

BRI dan Serikat Pekerja BRI Tandatangani PKB 2026-2028

Senin, 07 September 2026 | 21:28

Wakapolri Minta Kecakapan Personel dalam Penanganan Bencana dan Konflik Sosial

Senin, 07 September 2026 | 21:15

Dua Pimpinan DPRD Kota Bengkulu Kompak Mangkir Panggilan KPK

Senin, 07 September 2026 | 20:50

Prabowo Instruksikan BRI dan BSI Siapkan Rekening untuk Masyarakat

Senin, 07 September 2026 | 20:48

OJK Tegaskan Tak Ada Ruang bagi Pelanggaran Keterbukaan Informasi

Senin, 07 September 2026 | 20:46

Pemerintah Siapkan OMC Atasi Sebaran Abu Anak Krakatau di Empat Provinsi

Senin, 07 September 2026 | 20:31

Selengkapnya