Berita

Pakar ekonomi senior, Profesor Didik J. Rachbini/Net

Politik

Profesor Didik Minta Pemerintah Bijaksana Hadapi Dilema Kenaikan Pertalite

MINGGU, 14 AGUSTUS 2022 | 13:52 WIB | LAPORAN: RAIZA ANDINI

Inflasi yang terjadi dihampir 60 negara di dunia usai pandemi Covid-19 tidak boleh dianggap sepele. Ini merupakan ancaman serius bagi negara-negara lain, termasuk Indonesia yang belum mencapai pemerataan kesejahteraan.

Pakar ekonomi senior, Profesor Didik J. Rachbini menilai bahwa inflasi global yang mendera dunia akan masuk ke Indonesia dan menjadi ancaman besar bagi pemerintah.

"Harga-harga naik dan golongan bawah tidak bisa mencapai kesejahteraan seperti yang dilakukan sebelumnya. Mereka akan bertambah miskin secara relatif dibandingkan waktu sebelumnya dari kenaikan harga pangan, BBM, dan lain-lain,” ujarnya kepada wartawan, Minggu (14/8).


Indonesia, sambung Didik, terdapat kondisi yang bisa menambah laju ekonomi nasional, sekaligus dilema bagi pemerintahan Jokowi saat ini.

Pertama, Indonesia akan menerima rezeki dari kenaikan harga sawit, karet, dan batubara dunia yang meningkat, sehingga Kemenkeu/APBN berlimpah dana.

Tetapi pada saat yang sama, harga Pertalite telah mencapai Rp17 ribu hingga 20 ribu per liter. Harga Pertalite domestik dijual separuhnya, yang berarti anggaran APBN, pajak, dan PNBP diambil oleh mereka yang punya mobil.

“Sementara jika harga Pertalite dinaikkan, maka harga-harga akan beranjak naik. Ada dilema yang dihadapi Pemerintah sekarang,” terangnya.

Rektor Universitas Paramadina ini menambahkan, jika subsidi pemerintah yang Rp 500 triliun digunakan untuk membangun rumah rakyat, sekolah, dan lain-lain akan bermanfaat banyak.

"Ironisnya yang menikmati subsidi itu juga para orang kaya. Penghematan harus dilakukan rakyat. Meski kondisinya tidak seperti Pakistan atau Sri Lanka yang rusuh,” ucapnya.

Dia mengatakan kondisi Indonesia saat ini relatif lebih baik, namun tidak dapat dikatakan baik-baik saja jika pemerintah tidak mengeluarkan kebijakan yang bijaksana untuk rakyat.

"Jika kebijakan masa sulit ini bisa dilakukan dengan baik maka masa sulit terlewati. Sebaliknya, jika kebijakan yang dilakukan sembrono, APBN dibiarkan jebol maka ekonomi Indonesia akan menghadapi masalah,” tutupnya.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Pergantian Kapolri untuk Antisipasi Putusan MK soal Gibran

Kamis, 01 Oktober 2026 | 18:19

UPDATE

Pengusaha Tembakau Dicecar KPK soal Dugaan Gratifikasi Oknum Bea Cukai

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 00:41

Resmi Dilantik, 13 Pengurus DPD Peradi Profesional Siap Kawal Keadilan di Sulsel

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 00:13

Sekolah Tahfidz Al-Qur’an Puan Maharani Mulai Dibangun di Malang

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 00:10

Perbup Bogor soal Site Plan jadi Sorotan Usai Kasus HGB Summarecon Bergulir

Jumat, 09 Oktober 2026 | 23:49

BEI Tagih Penjelasan Emiten Haji Isam soal Gadai Saham ke Bank Mandiri

Jumat, 09 Oktober 2026 | 23:24

Rocky Gerung Dicurigai Sengaja Dipasang untuk Serang Gibran dari Dalam Kekuasaan

Jumat, 09 Oktober 2026 | 22:42

Kasus TPPU Rita Widyasari Menyeret Bos Dealer VW-Audi

Jumat, 09 Oktober 2026 | 22:28

Penyederhanaan BUMN: Pengaturan Outsourcing Lewat Anak Perusahaan Jadi Sorotan

Jumat, 09 Oktober 2026 | 22:18

PDIP soal Ijazah Gibran: Anak dan Bapak Masalahnya Sama Saja

Jumat, 09 Oktober 2026 | 21:57

Pegawai Bea Cukai Dedi Congor Mangkir Lagi

Jumat, 09 Oktober 2026 | 21:42

Selengkapnya