Berita

Jurnalis dan para pekerja ARY TV melakukan aksi protes karena pemerintah Pakistan mencabut izin siaran stasiun tv tersebut/AP

Dunia

Dituduh Sebarkan Kampanye Lawan Tentara, Pakistan Mencabut Izin Siaran Salah Satu Stasiun TV

SABTU, 13 AGUSTUS 2022 | 09:07 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

  Sebuah stasiun televisi swasta telah dicabut izin siarnya oleh pihak berwenang Pakistan pada Jumat(12/8) setelah stasiun televisi itu menayangkan wawancara dengan seorang pejabat partai oposisi yang diduga menghasut tentara untuk menentang kepemimpinan militer.

ARY TV stasiun televisi yang bertempat di pelabuhan selatan Karachi ini sebelumnya pada Senin menyiarkan wawancara dengan Shahbaz Gill, seorang pembantu dekat mantan Perdana Menteri Imran Khan dan kepala staff untuk partai oposisi Tehreek-e-Insaf, seperti dilaporkan The Associated Press.

Dalam wawancara tersebut, Gill mendesak pasukan dan perwira Pakistan untuk menolak mematuhi “perintah ilegal” dari militer, pernyataan ini dianggap sebagai hasutan untuk memberontak. Atas tuduhan tersebut Gill kemudian ditangkap dengan tuduhan pengkhianatan dan kemungkinan akan menghadapi hukuman mati.


Selain Gill, Direktur berita ARY TV, Ammad Yousaf juga ditahan oleh pihak berwenang, akan tetapi pada Kamis setelah protes muncul dari pengawas media, pembela hak serta pemimpin opisisi, ia kemudian dibebaskan.

Pihak ARY sendiri telah menekankan bahwa siaran itu bukan bagian dari kampanye melawan tentara. Namun, peraturan media Pakistan tetap menghentikan siaran stasiun tersebut dan telah menangguhkan lisensinya pada Jumat, dengan menggambarkan sebagai "laporan buruk dari agensi."
Langkah itu lantas menuai kecaman dari wartawan dan pemimpin oposisi. Pendiri ARY, Salman Iqbal, juga mengecam penangguhan tersebut.

Menurut Asad Kaleem, seorang produser eksekutif di ARY mengatakan bahwa ditutupnya stasiun tv akan berdampak kepada 4.000 karyawan yang akan kehilangan pekerjaan. Dia telah memohon kepada pemerintah untuk membatalkan keputusannya dan menghidupkan kembali ARY yang sangat populer.

Imran Khan, mantan Perdana Menteri yang berkuasa pada 2018, digulingkan pada masa kepemimpinannya dalam mosi tidak percaya di Parlemen pada bulan April lalu, Khan menyalahkan panglima militer Jenderal Qamar Javed Bajwa dibalik rencana penggulingannya. Atas dasar ini pemerintah Pakistan menuduh bahwa partai oposisi mempunyai dendam sehingga menyebarkan hasutan untuk menentang militer.

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

UPDATE

Ketua MPR: Peternak Sejahtera, Indonesia Makmur

Sabtu, 25 April 2026 | 22:13

PPN Tiket Pesawat Ekonomi Ditanggung Pemerintah Selama 60 Hari

Sabtu, 25 April 2026 | 21:55

Wapres Gibran Tunjukan Komitmen untuk Indonesia Timur

Sabtu, 25 April 2026 | 21:48

Babak Baru Kasus Hukum Rismon, Dilaporkan Gara-gara Buku "Gibran End Game"

Sabtu, 25 April 2026 | 21:25

Pengusaha Warteg Keberatan Zulhas Beri Sinyal Minyakita Bakal Naik

Sabtu, 25 April 2026 | 20:51

Bukan Soal PAN, Daya Beli juga Tertekan kalau Minyakita Naik

Sabtu, 25 April 2026 | 20:36

Prof Septiana Dwiputrianti Dikukuhkan Guru Besar Politeknik STIA LAN Bandung

Sabtu, 25 April 2026 | 19:52

Modus Ganjal ATM Terbongkar, Empat Pelaku Dicokok

Sabtu, 25 April 2026 | 19:39

The Impossible Journey, Kisah Perjalanan AS Kobalen

Sabtu, 25 April 2026 | 18:44

Kawal Distribusi Living Cost, BPKH Pastikan Efisiensi Dana Haji 2026

Sabtu, 25 April 2026 | 18:24

Selengkapnya