Berita

Duta Besar China untuk Rusia Zhang Hanhui/Net

Dunia

Diplomat China: Strategi AS, Terus Kirim Senjata sampai Pasukan Rusia Kelelahan

JUMAT, 12 AGUSTUS 2022 | 06:01 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Tudingan bahwa Amerika Serikat sengaja memperpanjang konflik di Ukraina untuk melemahkan Moskow kembali muncul. Kali ini klaim datang dari Duta Besar China untuk Rusia Zhang Hanhui.

Berbicara dalam sebuah wawancara dengan kantor berita Rusia TASS, Zhang mengungkap sejumlah upaya Washington untuk menciptakan konflik berkepanjangan.

"AS telah memprakarsai lima putaran ekspansi NATO ke arah timur, mengarahkan 'revolusi warna' di Ukraina dan menggiring Rusia ke sudut dalam hal keamanan," kata Zhang.


Menurut diplomat itu, semua faktor ini digabungkan, sehingga menjadi menyebabkan kian bertambahnya konflik saat ini di Ukraina.   

Dia melanjutkan dengan menggambarkan AS sebagai pemrakarsa dan 'otak' pembakar krisis Ukraina.

Zhang mengklaim bahwa dengan menampar Moskow lewat sanksi yang belum pernah terjadi sebelumnya dan memberikan lebih banyak senjata kepada Kiev, Washington berusaha untuk memperpanjang konflik bersenjata selama mungkin.

"Strategi ini bertujuan agar pasukan Rusia kelelahan, sehingga mudah menghancurkannya," katanya.

Zhang juga mencatat bahwa dia melihat adanya kesejajaran antara konflik di Ukraina dan eskalasi terbaru di sekitar Taiwan. Dia menuduh Gedung Putih menyebarkan jenis alat yang sebelumnya digunakan di negara Eropa Timur itu.   

Zhang mengatakan klaimnya itu datang berdasarkan fakta bahwa AS sedang "melenturkan ototnya" di depan pintu China. Berusaha membangun berbagai kelompok anti-China, dan sekarang secara terbuka melintasi semua perbatasan dalam persoalan Taiwan. Zhang menjuluki ini sebagai "versi Asia-Pasifik dari 'ekspansi ke timur NATO'.  

Di Taiwan, AS secara efektif mengejar tujuan yang sama seperti yang dilakukan di Ukraina, yaitu untuk menghambat perkembangan dan kebangkitan China, ikut campur dalam urusan internalnya serta menghabiskan dan menahannya dengan bantuan perang dan sanksi.

"Krisis di Ukraina dan kunjungan terakhir Nancy Pelosi ke Taiwan menunjukkan bahwa Washington berniat menghidupkan kembali mentalitas Perang Dingin," kata Zhang.  

"Perang Dingin baru ini sudah berlangsung," ujarnya.

Zhang kemudian menggambarkan AS sebagai kekuatan yang menghancurkan aturan internasional dan menyebabkan ketidakstabilan dan ketidakpastian di seluruh dunia.

"Hegemoni dan ketergantungan Washington pada kekuatan adalah tantangan terbesar bagi kemajuan dan perkembangan damai peradaban manusia,” ujarnya.

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Andre Rosiade Sambangi Bareskrim Polri Usai Nenek Penolak Tambang Ilegal Dipukuli

Senin, 12 Januari 2026 | 14:15

Cuaca Ekstrem Masih Akan Melanda Jakarta

Senin, 12 Januari 2026 | 14:10

Bitcoin Melambung, Tembus 92.000 Dolar AS

Senin, 12 Januari 2026 | 14:08

Sertifikat Tanah Gratis bagi Korban Bencana Bukti Kehadiran Negara

Senin, 12 Januari 2026 | 14:03

KPK Panggil 10 Saksi Kasus OTT Bupati Lampung Tengah Ardito Wijaya

Senin, 12 Januari 2026 | 14:03

Prabowo Terharu dan Bangga Resmikan 166 Sekolah Rakyat di Banjarbaru

Senin, 12 Januari 2026 | 13:52

Kasus Kuota Haji, Komisi VIII Minta KPK Transparan dan Profesional

Senin, 12 Januari 2026 | 13:40

KPK Periksa Pengurus PWNU DKI Jakarta Terkait Dugaan Korupsi Kuota Haji

Senin, 12 Januari 2026 | 13:12

Prabowo Tinjau Sekolah Rakyat Banjarbaru, Ada Fasilitas Smartboard hingga Laptop Persiswa

Senin, 12 Januari 2026 | 13:10

Air Naik hingga Sepinggang, Warga Aspol Pondok Karya Dievakuasi Polisi

Senin, 12 Januari 2026 | 13:04

Selengkapnya