Berita

Brigadir Yosua/Net

Publika

Otopsi, Anti-klimaks Kasus Yosua

KAMIS, 28 JULI 2022 | 07:30 WIB | OLEH: DJONO W OESMAN

TANGIS pecah di makam Yosua. Ibunda Yosua, Rosti Simanjuntak histeris. Sebaliknya, Polri memakamkan kembali Yosua secara dinas, atas permintaan keluarga. Padahal, Polri mengumumkan, Yosua peleceh seks isteri jenderal.

Perkara hukum ini memang tidak biasa. Tidak bisa dibandingkan dengan perkara biasa. Perhatian warga Indonesia sangat tinggi.

Indikatornya, media massa mainstream memuat berita ini setiap hari. Selalu ada yang baru. Selalu update. Tanda, bahwa pers memprediksi, minat masyarakat sangat tinggi.


Perhatian publik tertuju ke otopsi ulang. Masyarakat awam menganggap, dengan otopsi maka kerumitan perkara langsung bisa terang-benderang. Mengurai kerumitannya. Blak-blakan.

Ternyata tidak begitu. Setidaknya, simaklah keterangan pers Ketua tim forensik autopsi ulang Yosua, Ade Firmansyah Sugiharto, dokter forensik dari RS Cipto Mangunkusumo Jakarta.

Perhatian warga Indonesia tertuju ke situ. Ade Firmansyah Sugiharto menjelaskan. Berikut ini:

Dijelaskan dulu proses otopsi. Selama enam jam, dimulai pukul 08.46, Rabu, 27 Juli 2022, di RSUD Sungai Bahar, Jambi.

Ade Firmansyah: "Bahwa autopsi pasti memiliki beberapa kesulitan. Jenazah sudah diformalin, dan sudah mengalami beberapa derajat pembusukan yang kita antisipasi memang akan terjadi. Namun itu semua alhamdulillah kita bekerja dan mendapatkan hasil yang patut kami syukuri."

Dilanjut: "Kami nyatakan, kami cukup yakin itu sebagian luka, sekalipun ada beberapa tempat yang memang diduga adalah sebuah luka yang harus kami konfirmasi juga, melalui pemeriksaan mikroskopi."

Saat Ade menyebut kata 'luka', semua wartawan peserta konferensi pers, berwajah mengkerut. Serius. Menunggu. Sebab, di situlah kunci: Luka apa? Tembakan, sayatan, lebam, jeratan, puntiran, atau apa?

Karena, kuasa hukum keluarga Yosua, Johnson Panjaitan mengatakan, berdasarkan bukti pemeriksaan jenazah Yosua oleh keluarga yang difoto dan divideokan, ada tanda bekas jeratan di leher Yosua.

Kuasa hukum keluarga Yosua juga, Komaruddin Simanjuntak, mengatakan, rahang Yosua bergeser, gigi rontok. Juga dibuktikan foto-foto dan video. "Bukti-bukti sudah kami serahkan ke Bareskrim Polri," katanya.

Apakah itu semua bisa terjawab dari otopsi, secara langsung?


Tidak bisa langsung. Jangan sembarangan menyimpulkan kasus ini, tanpa pernyataan resmi hasil forensik. Karena, dokter forensik Ade Firmansyah, menyatakan:

"Setelah kami lakukan pemeriksaan, semua sampel telah kami kumpulkan. Kemudian sampel ini semua akan kami bawa ke Jakarta, untuk kita periksa secara mikroskopi di Laboratorium Patologi Anatomi RSCM (Cipto Mangunsukumo)."

Mengapa mesti dibawa ke RSCM? "Karena di RSCM yang punya peralatan lengkap pemeriksaan mikroskopi," jawabnya.

Dilanjut: "Kemudian nanti itu akan membutuhkan waktu. Kenapa? Karena semua luka pun yang kami yakin sudah benar-benar terjadi, tentunya benar-benar berbentuk luka. Kami akan pastikan juga, apakah luka itu terjadi sebelum kematian ataupun terjadi setelah kematian."

Butuh waktu berapa lama?


Ade: "Lama pemeriksaan tentunya antara dua hingga empat minggu untuk memproses sampel jaringan itu hingga menjadi slide. Dan untuk kita bisa interpretasikan."

Dilanjut: "Jadi, dua hingga empat minggu itu proses sampel jaringannya. Setelah itu, tentunya kami akan periksa lagi, dan kami interpretasikan."

Intinya, berapa lama?


Ade: "Rentangnya... saya nggak ingin terlalu menggebu-gebu. Mungkin antara empat sampai delapan  minggu lah ya... Sampai keluar hasil yang bisa kita berikan kepada pihak penyidik, peminta dari ini."

Ringkasnya, setelah sekitar empat sampai delapan minggu ke depan, hasilnya keluar. Lantas, pihak tim forensik menyerahkan hasilnya ke penyidik Polri, selaku pihak peminta otopsi.

Penyidik Polri, diwakili Kadiv Humas Polri, Irjen Dedi Prasetyo kepada pers, Rabu, 27 Juli 2022, mengatakan, semua pihak diharapkan bersabar menunggu hasil otopsi.

Irjen Dedi: "Penyidik akan sangat berkepentingan untuk meminta hasil dari hasil autopsi yang dilakukan hari ini. Sebagai tambahan alat bukti, yang nanti akan dibuka dan diungkap di sidang pengadilan."

Pemakaman Ulang Secara Dinas


Di saat otopsi berlangsung, pihak keluarga Yosua minta ke pihak Polri, agar pemakaman kembali dilakukan upacara kedinasan. di situ negosiasi terjadi.

Kemudian, Polri menyatakan, pemakaman kembali jenazah Yosua dilaksanakan secara dinas. Seketika itu juga beberapa anggota Polri berlatih upacara pemakaman kedinasan. Disaksikan para perwira.

Sejak itu, pelaksanaan  pemakaman kembali dilakukan secara dinas. Sejak jenazah diangkut keluar dari RSUD Sungai Bahar. Lalu dibawa ambulance menuju ke lokasi makam.

Tampak beberapa anggota kepolisian berseragam, membawa senjata laras panjang yang biasa digunakan untuk tembakan salvo, saat pemakaman kedinasan.

Pemakaman kembali secara kedinasan, dilaksanakan. Peti jenazah diselimuti sang saka merah putih. Dalam upacara resmi. Dan, tembakan salvo menjelang pemakaman kembali.

Itu simbol, bahwa almarhum sangat dihormati oleh Polri, korps tempat almarhum dulu berdinas. Tidak lagi sebagai pelaku pelecehan seks. Otomatis, status hukum almarhum sudah berbalik.

Kronologi itu seharusnya tidak ditafsirkan macam-macam oleh publik. Bahwa pemakaman kedinasan adalah simbol penghormatan korps Polri terhadap almarhum, adalah keniscayaan. Tidak mungkin tidak.

Penulis adalah wartawan senior

Populer

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

UPDATE

Jenderal Agus Subiyanto Tinjau Gladi Bersih Upacara HUT Ke-81 TNI

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 18:11

Rayakan Milad ke-81, GPI Gelar Sidang Dewan Organisasi di Bogor

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 17:22

Jalan Panjang Brigjen Ami Prindani Hingga Jadi Kadensus 88 Polri

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:47

Kurikulum Berbasis Cinta Dorong Pesantren Tanamkan Kesadaran Ekologi

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:47

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

PKPA Peradi Profesional Raih Rekor MURI Peserta Terbanyak

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 15:52

Trump Pangkas Dana Iklim Global, Program Konservasi Orangutan RI Ikut Kena Imbas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 15:22

Ekspor Lesu - Stok Melonjak: Harga Minyak Sawit Mentah Catat Penurunan Mingguan Kedua

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 14:57

PP GPI Apresiasi Gebrakan Reformasi Suyudi di Tubuh Polri

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 14:45

DOJ Tutup Kasus Powell, Proyek Renovasi Fed Masih Berujung Audit

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 14:31

Selengkapnya