Berita

Ketua Badan Pengkajian MPR RI Djarot Saiful Hidayat/RMOL

Politik

Djarot Syaiful Hidayat: PPHN Harus Filosofis dan Beri Blue Print Arah Indonesia

SENIN, 25 JULI 2022 | 16:37 WIB | LAPORAN: RAIZA ANDINI

Ketua Badan Pengkajian MPR RI Djarot Saiful Hidayat mengatakan bahwa hasil pembahasan dan temuan badan kajian telah disampaikan kepada parlemen dalam hal ini MPR RI, DPR RI dan kelompok DPD RI.

Salah satu hasil badan kajian adalah terkait isi Pokok-Pokok Haluan Negara (PPHN) yang di dalamnya mendeskripsikan substansi dan juga pilihan bentuk hukum pada PPHN.

Hasilnya, dalam rapat gabungan yang dilakukan hari ini Senin (25/7), seluruh fraksi di parlemen sepakat membentuk panitia adhoc. Nantinya panitia adhoc yang akan memutuskan hasil terobosan badan pengkajian yang di dalamnya tersurat tidak akan mengamandemen UUD 45 pada periode ini.


“Alhamdulillah sudah diterima. Jadi tugas dari badan pengkajian untuk merumuskan atau mengkaji tugas dari majelis itu sudah selesai,” kata Djarot usai rapat gabungan, Gedung Nusantara V, Komplek Parlemen, Senayan, Senin (25/7).

Mantan Gubernur DKI Jakarta itu juga sempat minyinggung terkait usulan badan pengkajian terkait wacana PPHN dibentuk menjadi undang-undang atau konvensi ketatanegaraan oleh tim panitia adhoc nantinya.

Kata Djarot, badan kajian MPR RI telah menyampaikan substansi dari isi PPHN. Pihaknya berharap, PPHN lebih filosofis ketika diputuskan oleh panitia adhoc.

Ia memandang, seharusnya PPHN lebih filosofis. Sebab PPHN memiliki tujuan memberikan arah kebijakan.

"Kemudian lebih bersifat directive, memberikan blue print arah kita ke depan, maka bahasanya adalah bahasa yang garis-garis besar, mau ke mana negara ini mau dibawa? Kemudian itu didasarkan kepada visi misi negara. Visi misi negara itu ada di pembukaan UUD 1945,” jelasnya.

Legislator dari Fraksi PDIP ini mengatakan bahwa badan kajian telah menerjemahkan isi PPHN dalam tiga bidang pembangunan yang utama. Pertama, pemerintah harus membangun mental, karakter, berkaitan SDM. Kemudian, tata kelola sistem pemerintahan dan sistem politik juga pembangunan ekonomi.

"Kalau bahasan seperti ini, maka apa dasar hukumnya? Nah pilihan dasar hukum ada beberapa macam, pertama, apakah PPHN itu dimasukan langsung ke dalam UUD 1945, kalau dimasukan ke sini, susah, berarti amandemen terus menerus. Berarti ini kami tolak,” ucapnya.

Kemudian yang kedua, lanjut Djarot terkait kemungkinan PPHN dalam bentuk Tap MPR. Menurutnya, hal itu mungkin bisa dilakukan dengan cara amandemen terbatas dan konvensi ketatanegaraan.

“Melaui apa? pertama, amandemen terbatas UUD 1945, khususnya di pasal 3. Sekali lagi, terbatas. Kemudian, yang kedua, melalui konvensi ketatanegaraan. Nah badan pengkajian kemudian menyepakati untuk tidak melakukan amandemen terhadap UUD 1945. Jadi kami tidak mengambil jalan amandemen terbatas. Berati bagaimana dengan konvensi? Tolong ini nanti dikaji,” ujarnya.

"Ketiga, dengan undang-undang. Kalau dengan UU apa cocok? Karena bentuk dan isinya itu bukan teknokratis. Bentuk dan isinya lebih directive, lebih filosofis dan garis besar. Makanya ini juga perlu dikaji,” demikian Djarot.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Pergantian Kapolri untuk Antisipasi Putusan MK soal Gibran

Kamis, 01 Oktober 2026 | 18:19

UPDATE

Trump Tunjuk Katie Zacharia Jadi Sekretaris Pers Gedung Putih

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 10:27

Saat Outing Kantor Bergeser Jadi Strategi Korporat

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 10:09

Harga Emas Meroket di Akhir Pekan Jadi Semahal Ini

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:57

FORU Anjlok 11,39 Persen, Transaksi Tembus Rp253 Miliar saat IHSG Rebound

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:44

Komisi V DPR Wanti-wanti Tiga Kementerian Jangan Saling Lempar Tanggung Jawab Soal Ojol

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:30

Harga Logam Dunia Bangkit Usai Aksi Borong di Level Rendah

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:01

Tiga Anggota OPM Meninggal Dunia Usai Kontak Tembak di Maybrat

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:46

Teguh Santosa: Pepera 1969 Sejalan dengan Prinsip Self Determination

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:31

Kapolri Pimpin Sertijab di Mabes Polri, Komjen Asep Resmi Jadi Irwasum

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:17

Wall Street Tutup Pekan Kedua di Zona Hijau

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:05

Selengkapnya