Berita

Pertemuan antara Wakil Presiden China Wang Qishan dan Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr/Net

Dunia

Hadiri Pelantikan Marcos Jr, Wapres China Lobi Filipina Tangani Sengketa Laut China Selatan dengan Baik-baik

MINGGU, 03 JULI 2022 | 10:40 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Sebagai sahabat, China dan Filipina perlu meningkatkan hubungan dengan menangani sengketa Laut China Selatan secara baik-baik.

Begitu yang dikatakan oleh Wakil Presiden China Wang Qishan ketika menghadiri upacara pelantikan Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr pada Kamis (30/6).

“Pihak Tiongkok selalu menempatkan Filipina sebagai prioritas dalam diplomasi tetangganya, dan berharap dapat bekerja sama dengan pemerintah Filipina yang baru untuk memajukan persahabatan, meningkatkan rasa saling percaya, dan melanjutkan kerja sama, sehingga dapat mengantarkan era emas baru untuk hubungan China-Filipina," kata Wang, seperti dikutip Xinhua.


Kehadiran Wang dalam upacara tersebut merupakan bagian dari tugasnya sebagai utusan khusus Presiden China Xi Jinping. Ia juga bertemu dengan pendahulu Marcos, Rodrigo Duterte.

"Kedua negara harus mematuhi penanganan sengketa yang tepat dan bersama-sama menjaga perdamaian dan ketenangan Laut China Selatan,” tuturnya.

China dan Filipina telah berselisih selama bertahun-tahun di Laut China Selatan. Beijing telah mengklaim kedaulatan atas hampir seluruh perairan, yang juga diklaim oleh Vietnam, Malaysia, Brunei, dan Taiwan.

Selama kampanye pemilihannya, Marcos mengatakan dia akan merundingkan kesepakatan dengan Beijing untuk menyelesaikan sengketa wilayah mereka di Laut Cina Selatan.

Menurut pengamat, terpilihnya Marcos mungkin melegakan China.

Selama enam tahun terakhir, Beijing telah menikmati hubungan yang lebih hangat dengan Manila di bawah kebijakan ramah-China oleh Duterte, dengan Beijiing menawarkan beberapa miliar dolar dalam investasi, termasuk kereta api, jalan dan jembatan.

Tetapi pada pekan lalu, pemerintah Filipina mengumumkan penghentian pembicaraan antara kedua negara mengenai kesepakatan eksplorasi energi bersama yang ditandatangani pada 2018, dengan alasan kendala konstitusional dan masalah kedaulatan sebagai alasannya.

Langkah tersebut dapat memungkinkan Marcos untuk mengejar peluang eksplorasi dengan negara lain.

Marcos mengatakan dia akan menggunakan keputusan arbitrase PBB 2016 untuk menegaskan hak teritorial negara atas Laut Cina Selatan. Ia bersumpah pemerintahannya tidak akan berkompromi pada masalah kedaulatan.

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Connie Nilai Istilah Sabotase KSAD Berpotensi Bangun Framing Ancaman di Tengah Bencana

Rabu, 31 Desember 2025 | 13:37

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Kubu Jokowi Babak Belur Hadapi Kasus Ijazah

Kamis, 01 Januari 2026 | 03:29

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Kesiapan Listrik dan Personel Siaga PLN Diapresiasi Warga

Sabtu, 10 Januari 2026 | 21:51

Megawati Minta Kader Gotong-Royong Bantu Sumatera

Sabtu, 10 Januari 2026 | 21:35

Muannas Peringatkan Pandji: Ibadah Salat Bukan Bahan Lelucon

Sabtu, 10 Januari 2026 | 21:28

Saksi Cabut dan Luruskan Keterangan Terkait Peran Tian Bahtiar

Sabtu, 10 Januari 2026 | 20:53

Rocky Gerung: Bagi Megawati Kemanusiaan Lebih Penting

Sabtu, 10 Januari 2026 | 20:40

Presiden Jerman: Kebijakan Trump Merusak Tatanan Dunia

Sabtu, 10 Januari 2026 | 19:53

Ostrakisme Demokrasi Athena Kuno: Kekuasaan Rakyat Tak Terbatas

Sabtu, 10 Januari 2026 | 19:31

Megawati Resmikan Pendirian Kantor Megawati Institute

Sabtu, 10 Januari 2026 | 18:53

Khamenei Peringatkan Trump: Penguasa Arogan Akan Digulingkan

Sabtu, 10 Januari 2026 | 18:06

NST 2026 Perkuat Seleksi Nasional SMA Kemala Taruna Bhayangkara

Sabtu, 10 Januari 2026 | 17:36

Selengkapnya