Berita

Ilustrasi/Net

Publika

Proses Kematian Suntik Bokong

KAMIS, 23 JUNI 2022 | 10:39 WIB | OLEH: DJONO W OESMAN

KEMATIAN mahasiswi I di Apartemen Cipulir Jakarta, dipastikan akibat suntik silikon di bokong. "Penyuntiknya, L (Lisa) bukan dokter," kata Kapolres Jakarta Selatan, Kombes Budhi Herdi Susianto di konferensi pers, Rabu (22/6).

Kepastian ini hasil otopsi bedah mayat I (31, semula disebut polisi 22 tahun) di RS Polri Sukanto, Kramatjati, Jakarta Timur.

Hasil otopsi dikonfrontir dengan keterangan tersangka Lisa (29) selaku penyuntik. Lisa mengakui, menyuntikkan silikon ke bokong I. "Sehingga ada kecocokan," ujar Kombes Budhi.


Dengan kepastian ini, kasusnya jadi jelas. Tidak ada spekulasi. Tulisan di kolom ini, kemarin menduga, kematian I akibat suntikan filler, disebut Brazilian Butt Lift (BBL). Ternyata suntikan silikon di bokong.

BBL dengan silikon berbeda. Jauh. Sama-sama disuntikkan ke bokong, tapi beda cara.

BBL adalah memindahkan lemak, dari titik tertentu yang dkehendaki pasien (biasanya perut), dipindah ke titik tertentu (dalam kasus ini: bokong). Prosesnya sedot dan suntik.

Suntik silikon cuma satu kali suntik saja, cairan silikon langsung ke bokong. Hasil otopsi, I mati akibat overdosis silikon di bokong. Ambyar... Menyumbat pembuluh darah. Sakit luar biasa. Mati.

Kombes Budhi: "Kami tangkap satu tersangka lagiinisial RH (41) juga transpuan. Peran RH (aliasn Bella) adalah merekomendasi korban I, agar disuntik silikon oleh L (Lisa). Dan, RH mendapat komisi dari L atas pasien yang jadi korban."

Lisa dan Bella, sama-sama transpuan. Polisi tidak menyebut nama pria mereka. Tapi disebut polisi, korban I kenal akrab dengan Bella. Lantas, minta pertimbangan suntik silikon. Oleh Bella, korban I diarahkan ke Lisa.

Lisa dan Bella sama-sama mengelola salon. Sedangkan, salon Lisa adalah apartemen, atau TKP terbunuhnya I.

Dikutip dari situs United States Food and Drug Administration (FDA) suntik silikon ke bokong, jauh lebih mematikan dibanding BBL. Artinya, jumlah korban mati akibat suntik silikon jauh lebih banyak dibanding BBL.

Dr. Clyde Ishii, Presiden American Society for Aesthetic Plastic Surgery (ASAPS) mengatakan, FDA melarang penggunaan suntik silikon untuk kosmetika sejak 1990-an. Karena sangat berbahaya.

FDA melarang BBl, apalagi suntik silikon. Tapi praktik ilegal tetap saja ada di Amerika. Tarif BBL (ilegal) di sana berkisar 10 ribu dolar AS (sekitar Rp 140 juta). Sedangkan, suntik silikon sepersepuluhnya. Atau setara Rp 14 juta.

Dr Ishii tidak memungkiri, ada banyak suntik silikon yang sukses. Dilakukan dokter ahli bedah plastik. Pasien tetap hidup. Hasilnya, bokong jadi montok, seksi. Ia katakan begini:

"Awalnya terlihat bagus. Tapi seiring waktu, di bokong terbentuk jaringan parut. Kian lama kian melebar. Terus tumbuh dan berkembang. Mengapa bisa begitu? Karena, silikon menjalin jalan ke jaringan tubuh. Lama-lama menjadi kental dan keras, dan tidak mungkin untuk dihilangkan. Karena silikon sudah menyatu dengan jaringan tubuh.”

Dr Ishii tidak memastikan, berapa lama munculnya parut bokong sejak saat disuntik? Karena, tergantung daya tahan masing-masing orang. Tapi kisarannya, tiga sampai lima tahun setelah disuntik.

Persoalan lain, bahan silikon. Ada bahan silikon farmasi yang memang untuk kepentngan medis. Tentunya, harga mahal. Ada yang menggunakan bahan silikon bukan medis. Ini biasa dilakukan oleh bukan dokter.

"Mereka membeli silikon dari Home Depot atau Lowe's," jelas Dr Ishii. Maksudnya, itu toko material bahan bangunan, kalau di Indonesia seperti Mitra 10.

Silikon jenis ini biasa digunakan tukang bangunan untuk menutup garis, pertemuan antar pasangan keramik lantai. Bahasa tukang kita disebut 'nat;.

"Silikon jenis ini jauh lebih murah daripada silikon kelas medis," tulis Dr Ishii.

Selain soal bahan, juga keahlian penyuntik. Harus dilakukan dokter ahli bedah plastik. Dengan dosis silikon medis maksimal 300 mililiter. Mengapa begitu" Dr Ishii menjelaskan, begini:

Jika penyuntiknya bukan dokter ahli bedah plastik, maka arah suntikannya spekulatif. Kita sebut: Untung-untungan.

Jika arahnya benar, maka bisa sukses. Tapi, dengan munculnya parut bokong, seperti penjelasan di atas. Sedangkan, kalau meleset, suntikan masuk ke pembuluh darah.

Kemudian, silikon terbawa darah, menuju jantung atau paru-paru. Di situlah aliran darah tersumbat. Mengakibatkan pasien mengalami sakit luar biasa. Akhirnya aliran darah macet. Pasien mati.

Di kasus Apartemen Cipulir, polisi belum mengumumkan, silikon jenis apa yang disuntikkan ke bokong I, dan berapa volumenya? Polisi hanya menyebutkan, over-dosis silikon.

Tapi, lihatlah ini. Dari tersangka, polisi menyita sejumlah barang bukti. Di antaranya, 1 jeriken (ukuran 5 liter) berisi cairan ethanol 96%, 1 jeriken (ukuran  liter) berisi cairan silikon, 1 kardus berisi suntikan kosong yang masih tersegel, dan satu wadah obat bius merek LIDOCAINE.

Dr Ishii menyebut, maksimal suntikan 300 mililiter silikon, di kasus ini, dari barang bukti yang disita polisi, disiapkan literan silikon. Juga, literan ethanol.

Mungkin saja, maksud tersangka antisipatif, begini: "Siapa tau silikonnya kurang."

Penulis adalah Wartawan Senior

Populer

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

UPDATE

Jenderal Agus Subiyanto Tinjau Gladi Bersih Upacara HUT Ke-81 TNI

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 18:11

Rayakan Milad ke-81, GPI Gelar Sidang Dewan Organisasi di Bogor

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 17:22

Jalan Panjang Brigjen Ami Prindani Hingga Jadi Kadensus 88 Polri

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:47

Kurikulum Berbasis Cinta Dorong Pesantren Tanamkan Kesadaran Ekologi

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:47

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

PKPA Peradi Profesional Raih Rekor MURI Peserta Terbanyak

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 15:52

Trump Pangkas Dana Iklim Global, Program Konservasi Orangutan RI Ikut Kena Imbas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 15:22

Ekspor Lesu - Stok Melonjak: Harga Minyak Sawit Mentah Catat Penurunan Mingguan Kedua

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 14:57

PP GPI Apresiasi Gebrakan Reformasi Suyudi di Tubuh Polri

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 14:45

DOJ Tutup Kasus Powell, Proyek Renovasi Fed Masih Berujung Audit

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 14:31

Selengkapnya