Berita

Ekonom senior Rizal Ramli/Net

Politik

Rizal Ramli: Mas Jokowi Sudah Jadi Lame Duck, Harus Menyingkir

JUMAT, 17 JUNI 2022 | 14:49 WIB | LAPORAN: JAMALUDIN AKMAL

Banyaknya persoalan di Indonesia hari ini, membuat Presiden Joko Widodo dianggap sebagai "bebek lumpuh" yang harus sadar diri untuk menyingkirkan diri dari jabatannya.

Hal itu disampaikan oleh ekonom senior Rizal Ramli dalam video yang diunggah kanal YouTube Pesantren Ojolali berjudul "Part 5 (Tamat) Rizal Ramli Blak-blakan. Pak Jokowi Gak Bisa Mimpin SPT Lame Duck (Bebek Lumpuh). Mundur!" yang diunggah pada Kamis (16/6).

Bebek lumpuh adalah ungkapan yang menggambarkan seorang pemimpin sudah tidak lagi mampu memimpin barisan. Dalam hal ini, berarti Jokowi sebagai presiden sudah tidak lagi diikuti oleh para bawahannya karena ketidakcakapan dalam memimpin.


Dalam video ini, awalnya RR berbicara soal prestasinya saat menjadi menteri di era Pemerintah Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Salah satunya adalah, menaikkan gaji pegawai negeri, baik ABRI maupun pegawai negeri sipil sebesar 125 persen.

"Ini maksudnya, supaya pegawai negeri mayoritas kan jujur, ABRI dan pensiunan punya uang, begitu dia punya uang, dia belanjain, akhirnya sektor ekonomi retail hidup, ekonomi kita pulih," ujar RR seperti dikutip Kantor Berita Politik RMOL, Jumat (17/6).

Saat disinggung cara-cara dan kemampuan RR jika dimanfaatkan di periode kedua Presiden Jokowi, maka diyakini ekonomi akan membaik.

"Ya kalau saya menkonya sih, udah pasti kinerjanya jauh lebih baik dari sekarang," kata RR.

Sehingga, RR menilai, dari banyaknya persoalan di Indonesia, yang seharusnya mengundurkan diri bukanlah menterinya, melainkan Presiden Jokowi sendiri.

"Ya kalau ini Mas Jokowi yang harus menyingkirkan diri, sudah payah soalnya. Mas Jokowi sudah gak bisa mimpin, sudah jadi lame duck (bebek lumpuh). Ya presidennya lah tau diri, wis Mas Jokowi wis," terang RR.

Selain itu, RR juga menyinggung soal proyek pemindahan Ibukota Negara (IKN) Nusantara. Menurutnya, jika Jokowi sudah tidak menjadi presiden, maka proyek tersebut akan dihentikan.

"Kalau itu sih gampang, Mas Jokowi nggak jadi presiden kita stop, proyek ngada-ngada itu, dan nggak benar," kata RR.

Menurutnya, jika tujuan membuat daerah lebih maju dan tidak terfokus di Jakarta, bukan dengan cara memindahkan ibukota. Akan tetapi, harus digunakan cara-cara yang sudah dilakukan era Presiden Gus Dur.

"Yaitu kita bikin UU tentang alokasi umum bagaimana membagi subsidi dari pusat ke daerah-daerah provinsi dan kabupaten, ada rumusnya, berdasarkan jumlah penduduk, berdasarkan luas," jelasnya.

Selanjutnya, kata RR, bikin UU tentang alokasi khusus, yaitu provinsi dan kabupaten yang menghasilkan hasil bumi, mendapatkan persentase ekspor.

"Jadi kalau kita betul-betul mau bikin daerah maju sederhana, kita ubah UU Alokasi Khusus. Misalnya, daerah penghasil ikan dapat sebagian dari persentase eksport ikan. Maka daerah NTT bakal maju, Maluku maju, Kepulauan Riau, lautan bakal maju," tutur RR.

Karena menurut RR, dengan cara itu, dampaknya ratusan kali lipat dibandingkan memindahkan ibukota.

"Jadi Mas Jokowi mohon maaf, Mas Jokowi ndak presiden yang kita batalin lah ini, kita pakai uangnya buat bikin rakyat Indonesia lebih makmur," pungkasnya.

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

UPDATE

Selamatkan Aset Negara, UIN Jakarta Jalankan Integrasi SMA/SMK Triguna

Sabtu, 04 Juli 2026 | 02:16

KPK Sita Uang Rp1 Miliar Lebih dan Puluhan Kg Platinum Hasil Korupsi Bupati Langkat

Sabtu, 04 Juli 2026 | 02:00

UI Angkat Bicara soal Kajian LGBT Mahasiswa, Begini Tanggapannya

Sabtu, 04 Juli 2026 | 01:48

Kronologi OTT Bupati Langkat, Mantan Anggota DPRD Sumut jadi Kurir Uang Suap

Sabtu, 04 Juli 2026 | 01:32

Badko HMI Sulbar Siap Kawal Kasus Kapolres Pasangkayu

Sabtu, 04 Juli 2026 | 01:16

Bupati Langkat juga Terima Cuan Jual Beli Jabatan Camat hingga Kepsek, Segini Nilainya

Sabtu, 04 Juli 2026 | 00:56

Sinergi Kemensos-ITB Visi Nusantara Serap Lulusan Sekolah Rakyat

Sabtu, 04 Juli 2026 | 00:37

Bupati Langkat Diduga Minta Fee 17 Persen ke Timses Usai Raup Proyek Rp10,2 Miliar

Sabtu, 04 Juli 2026 | 00:12

Arief Poyuono Apresiasi Danantara Gandeng KPK Bersih-bersih BUMN

Sabtu, 04 Juli 2026 | 00:03

Bupati Langkat Syah Afandin dan Tim Sukses Tersandung Kasus Suap

Jumat, 03 Juli 2026 | 23:48

Selengkapnya