Berita

Jaya Suprana/Net

Jaya Suprana

Stop Ngrumpi Rendang Babi

SENIN, 13 JUNI 2022 | 17:42 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

KONON di kawasan Kelapa Gading, Jakarta ada yang buka rumah makan menyajikan rendang babi. (Saya sengaja menggunakan kata konon, sebab saya hanya mendengar desas-desus dari berbagai sumber tanpa recheck kenyataan secara langsung on the spot sumber sas-sus medsos yang lebih kerap tidak bisa dipercaya ketimbang dipercaya kebenarannya).

Terlepas hoax atau tidak, fakta membuktikan bahwa kasus rendang babi memang langsung viral lalu berkembang menjadi bahan pergunjingan warganet berkelanjutan merajela ke sana ke mari seolah lepas kendali bak layang-layang putus tali.

Yang kontra di samping menegaskan bahwa daging babi haram bagi umat Islam yang mayoritas di Indonesia juga menganggap rendang babi mencemarkan citra keluhuran rendang sebagai warisan kebudayaan adiboga Minang.


Yang pro menganggap rendang babi tidak masalah selama tidak dipaksakan untuk dikonsumsi umat Islam sambil memberi contoh bahwa di Malaysia ada perusahaan yang resmi memproduksi makanan dalam kaleng dengan label Rendang Babi yang bukan mustahil diekspor ke Indonesia.

Sebuah contoh yang bisa dipatahkan oleh contoh lain misalnya belum tentu ada hidangan rendang babi di Brunei Darrusalam dan Saudi Arabia. Sementara rendang sapi bisa dianggap melukai perasaan umat Hindu akibat bagi umat Hindu, sapi merupakan sosok mahkluk suci yang disakralkan. Bahkan masalah menjadi makin ruwet karena mendadak beredar berita (semoga hoax) bahwa ada sebuah produk kondom dengan rasa rendang meski bukan babi tetapi ayam.

Andaikata Gus Dur belum meninggalkan dunia fana ini, bukan mustahil beliau bersikap gitu aja kok repot mirip dahulu ketika Indonesia heboh bumbu masak mengandung minyak babi. Dalam menghadapi kasus rendang babi, kemungkinan besar Gus Dur akan menganjurkan agar yang menganggap rendang babi haram sebaiknya jangan beli apalagi makan rendang babi. Habis perkara!

Sebagai penggemar sate babi dan babi guling jelas saya tidak bisa bersikap obyektif terhadap rendang babi, apalagi kebetulan saya sudah terlanjur memuja rendang sapi sebagai mahakarya kuliner Nusantara terlezat di planet bumi ini. Saya juga lebih suka sate babi dan babi guling ketimbang rendang babi akjbat menurut selera subyektif lidah saya daging babi memang kurang cocok diolah dengan santan. Gulai kambing menurut selera saya juga jauh lebih lezat ketimbang gulai babi.

Munafik jika saya setuju penyajian hidangan rendang babi di Indonesia, sebab saya menganut mashab ngono yo ngono ning ojo ngono plus peribahasa di mana langit dijunjung di sana bumi dipijak atau sebaliknya di mana bumi dipijak di sana langit dijunjung sebagai kearifan yang melekat pada falsafah Bhinneka Tunggal Ika pendukung pengejawantahan Pancasila terutama sila Persatuan Indonesia. Adalah lebih bijak jika rendang babi disajikan di kawasan di mana daging babi tidak dianggap haram misalnya di Flores, Singapura, Penang, Shanghai atau Hongkong.

Maka saya sungguh bersyukur bahwa telah terberitakan (semoga bukan hoax) bahwa pihak pemilik rumah makan yang menyajikan hidangan rendang babi di kawasan Kelapa Gading , Jalarta sudah sukarela  menutup rumah makannya. Perilaku pemilik legowo menutup rumah makan rendang babi miliknya merupakan bukti nyata sikap toleransi terhadap sesama warga Indonesia yang menganggap rendang babi haram.

Berarti polemik rendang babi sudah tidak perlu dilanjutkan lagi apabila kita memang ingin benar-benar tulus bersama menjaga keutuhan Persatuan Indonesia. Jangan biarkan rendang babi memecah-belah bangsa Indonesia.

Merdeka!

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

UPDATE

Wall Street Hijau di Tengah Harapan Meredanya Konflik AS-Iran

Selasa, 04 Agustus 2026 | 08:23

Di Balik Sensor Istana: Diksi Nuklir Prabowo dan Bantahan Kilat Teheran

Selasa, 04 Agustus 2026 | 08:10

Pelatih Vietnam Bongkar Rahasia Usai Permalukan Indonesia 3-0

Selasa, 04 Agustus 2026 | 08:04

Tanggapi MK, Menkeu Pastikan Anggaran MBG Tidak Mengganggu APBN

Selasa, 04 Agustus 2026 | 07:47

Menhaj Lantik 6 Pejabat Kemenhaj untuk Perkuat Pelayanan Haji dan Umrah

Selasa, 04 Agustus 2026 | 07:46

Bunga Pinjaman Turun, Bulog Hemat hingga Rp1,07 Triliun per Tahun

Selasa, 04 Agustus 2026 | 07:35

Pasar Logam Mulia Tertekan, Emas Masih Berkutat di 4.000 Dolar AS

Selasa, 04 Agustus 2026 | 07:18

Bursa Eropa Cetak Rekor, DAX 40 Tembus 26.000 Poin

Selasa, 04 Agustus 2026 | 07:07

Sekolah Nasional Terintegrasi: Tantangan Pendidikan dan Implementasi Rekonstruksi

Selasa, 04 Agustus 2026 | 06:46

BGN Anggap Putusan MK Justru Perkuat Program MBG

Selasa, 04 Agustus 2026 | 06:27

Selengkapnya