Berita

Ilustrasi pengemis/Net

Politik

Arus Eril

SABTU, 11 JUNI 2022 | 04:00 WIB | LAPORAN: ANGGA ULUNG TRANGGANA

KALAU di sungai Indonesia, orang tenggelam seperti putra sulung Ridwan Kamil itu akan mengapung dalam 3 hari. Maju sehari atau mundur sehari.

Sedang jenazah Emmeril Kahn Mumtadz baru mengapung setelah 13 hari. Eril, begitu nama panggilannya, memang tenggelam di Swiss. Di negara dingin. Di sungai yang Anda sudah tahu: Aare.

Suhu di dalam sungai itu, untuk musim seperti ini bisa 5 derajat Celsius. Bandingkan dengan suhu umumnya sungai di Indonesia: 29 derajat. Perbedaan suhu itu memengaruhi lamanya proses pembusukan mayat. Semakin banyak udara mengisi bagian dalam mayat semakin membuat mayat cepat mengapung.


Sampai saat ini belum jelas benar bagaimana Eril bisa tenggelam. Ia pemuda yang sehari-hari suka berenang. Menurut penuturan orang dekat keluarga itu renanglah olahraga yang paling sering dilakukan Eril –di samping sepak bola.

"Waktu kecil mah sukanya petak umpet," ujar Kang Hendar yang mengasuh Eril sejak kecil.

Eril suka renang di Gegerkalong. Yakni di kolam renang Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), yang kalau di Bandung sering dipelesetkan sebagai singkatan dari universitas padahal IKIP.
Maka wajar kalau setibanya di Bern, Eril ingin segera berenang. Di ibu kota Swiss itu kolam renang paling besar adalah di sungai Aare.

Di pagi hari udara Bern sekitar 15 derajat Celsius. Tidak terlalu dingin untuk ukuran orang Bandung. Tapi di dalam sungai Aare bisa jadi masih sangat dingin, bisa sekitar 5 derajat.

Tubuh kita bisa dengan cepat mengalami hypothermia. Pada suhu air 5 derajat, kalau menyelam harus sudah memakai pakaian khusus, dry suite. Yang bisa memberikan thermal insulation bagi tubuh kita dari air sekeliling kita yang dingin.

Kota Bern –duh, indahnya– memang di ketinggian sekitar 550 meter. Kota ini praktis di lereng gunung yang hampir selalu bersalju. Air lelehan salju itulah yang mengalir ke Aare. Yakni sungai yang panjangnya lebih 200 Km –untuk kemudian bermuara di sungai Rhein, menuju laut di utara Jerman.

Sebagai mahasiswa teknik mesin IT, hampir lulus, mestinya Eril tahu logika-logika itu.

Memang sungai ini, mestinya, tidak punya arus yang kuat. Ia tahu itu. Air sungai Aare ditahan oleh dam. Tidak terlalu jauh dari lokasi Eril berenang ada dam terkenal: Marzili Freibad. Itu bendungan tua. Dibangun tahun 1930-an.
Banyak bendungan seperti itu di sepanjang sungai Aare. Yakni untuk mengendalikan banjir. Mengurangi erosi. Menghasilkan listrik.

Arus deras air sungai Aare harusnya dihentikan oleh dam seperti itu. Maka di bagian pusat kota Bern, air sungai Aare sangat dalam. Termasuk di bagian Tierpark, tempat Eril memasuki sungai Aare.

Banyak titik di sepanjang sungai Aare itu yang biasa dipakai ''turun'' ke sungai. Yang paling populer memang yang di Tierpark itu. Inilah bagian sungai yang paling dekat dengan pusatnya pusat kota. Yakni bagian kota yang paling bersejarah di Bern.

Tidak jauh dari tempat Eril masuk ke sungai ada jembatan kecil. Bukan jembatan utama. Banyak orang hanya berjalan kaki menyeberangi jembatan ini. Dari Bern sisi sini ke Bern sisi ''sono''. Sambil menikmati indahnya sungai Aare di bawah jembatan.

Jembatan-jembatan besar yang menghubungkan dua sisi kota Bern dibangun lebih ke bagian utara kota. Ada sembilan jembatan besar yang melintas di atas Aare di dalam kota Bern. Jembatan-jembatan itu sangat sibuk oleh lalu-lintas. Bising. Itulah kendaraan antar kota dan antar negara di Eropa.

Sedang di bagian sekitar Tierpark-nya Eril ini ketenangan Bern tidak terganggu oleh hiruk pikuk semua itu. Kanan kiri sungai penuh dengan taman. Bahkan ada kebun binatangnya –dengan 3.000-an koleksi.

Di taman-taman di pinggir sungai Aare ini sering terlihat wisatawan menggelar lesehan. Duduk-duduk di situ. Melamun. Telentang di situ. Berjemur. Terutama di musim hangat seperti sekarang ini.

Di taman-taman pinggir sungai itulah beberapa papan besi dipasang. Isinya pengumuman. Ditulis dalam beberapa bahasa –tidak ada Jepang, Mandarin dan Indonesia.

Eril memenuhi syarat papan pengumuman itu. Ia muda. Perenang. Pinter. Sudah punya pacar –pasti tidak mau pacarnya kehilangan dirinya. Dan cuaca baik-baik saja. Sangat baik. Sejuk. Cerah. Indah.

Di sepanjang pinggir sungai Aare juga tersedia pelampung. Banyak. Gratis. Tinggal mengembalikan ke tempatnya kalau sudah selesai dipakai.

Saya minta maaf. Saya gagal mendapat keterangan ini: apakah Eril masuk ke air Aare lewat pinggir sungai –ada tangga untuk masuk ke air– atau terjun dari jembatan di Tierpark yang sering dipakai jalan-jalan itu.
Tidak ada larangan terjun dari jembatan itu. Beberapa perenang melakukannya.

Keterangan detail peristiwa ini memang sangat terbatas. Keluarga Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil memang sangat berduka. Tidak banyak bicara soal peristiwa.

RK memang sempat menulis agak panjang di medsos. Tapi lebih banyak berisi sikap batinnya atas kehilangan anak sulungnya itu. Hanya sedikit pernah disinggung di medsos RK: bahwa pagi itu Eril sempat melemparkan pelampung kepada adiknya. Hanya itu.

Siapa yang duluan masuk ke air belum terungkap. Apakah Eril langsung menyelam belum tahu. Apakah perbedaan suhu badannya yang masih lelah, dengan air yang masih dingin jadi penyebabnya, tidak tahu.

Kesedihan keluarga RK tentu sangat dalam. Apalagi tidak segera ada kepastian di mana Eril. Kalau menyelam kok lama. Kalau tenggelam kok mustahil.

Yang jelas Eril tidak segera muncul dari dalam air. Pun sampai sore harinya. Sampai besoknya. Lusa. Lusanya lagi. Seminggu kemudian. Pun sampai Eril dinyatakan sudah meninggal tanpa tahu kebenarannya.
Sang ayah akhirnya merelakannya. Demikian juga Sang ibu. Dan seluruh keluarga. Mereka pun pulang ke Indonesia dengan begitu duka.

Saya masih di pedalaman Kaltim ketika berita duka itu sampai ke publik. Saya pun bikin janji untuk bertemu RK. Mestinya Jumat kemarin. Dengan komitmen hanya untuk ikut berduka. Tidak sedikit pun menyinggung soal peristiwa. Alasannya: RK masih sering menangis kalau bercerita soal itu.

Ya sudah. Saya pun ke Jakarta untuk menuju Bandung. Ternyata RK harus berangkat ke Swiss lagi. Ada berita dari sana: sesosok jenazah ditemukan mengapung di bendungan Engehalde.

Di bendungan tua itu. Hampir pasti itu anak RK. Tapi harus dipastikan secara ilmiah apakah itu Eril. Kedatangan RK ke sana untuk pencocokan DNA. Sekalian mengurus kepulangan jenazah. Yang diperkirakan tiba di Bandung hari ini. Atau besok pagi.

Eril adalah simbol perjuangan hidup rumah tangga RK. Begitu lulus teknik arsitektur Institut Teknologi Bandung (ITB) RK mencari beasiswa khusus. Yakni yang bisa kuliah S-2 sekaligus bisa magang di kantor arsitek terkemuka.

Ia dapatkan beasiswa itu. Di Amerika. Sekaligus bisa magang. Tujuan magang itu dua: cari pengalaman langsung dan mendapatkan gaji.

Eril lahir di New York ketika RK dalam status magang itu. Tapi kantor magangnya lagi mengurangi tenaga kerja. RK terkena ''PHK'' justru ketika istrinya akan melahirkan Eril.

Di Amerika, RK mendalami perencanaan kota. Ia lantas bekerja di perusahaan arsitek di Hong Kong. Saat itulah RK sering ke Tiongkok. Ia ikut merancang banyak proyek di berbagai kota di Tiongkok.

RK punya karya arsitektur sangat banyak. Sering juga memenangkan penghargaan. Arsitektur masjid-masjid yang ia rancang sangat kontemporer.

Saya juga sempat mendapat jasanya: ia merancang hotel bintang lima milik BUMN di Nusa Dua, Bali. Bagus sekali. Hotel Inaya.
RK tidak hanya merancang untuk orang lain. Rumahnya sendiri, di Bandung, menjadi icon kota itu. "Rumah Botol" ujar orang Bandung. Pagar rumah itu terbuat dari ribuan botol kaca.


Eril memilih tinggal di rumah itu ketika orang tua mereka pindah ke rumah dinas gubernur Jabar. Eril ingin mandiri. Ia punya usaha kecil-kecilan. Salah satunya: menyewakan mobil VW untuk pengantin. Kadang ia sendiri yang menjadi sopirnya.

Eril tidak mengikuti jejak bapaknya sebagai arsitek. Tapi ia ikut cara sang ayah untuk melanjutkan pendidikan.

Ia ke Swiss antara lain untuk mencari beasiswa S-2. Ia akan berhasil –seandainya tidak tenggelam pagi itu. Sudah garis tangannya: lahir di Amerika, meninggal di Eropa. (Saddam/Angga)

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

Berpeluang Kalah, Wajar Pengacara Profesional Menolak Bela Jokowi

Kamis, 25 Juni 2026 | 07:47

Dianggap Sakit Jiwa, Ini Jawaban KPK Soal Tuntutan Ringan Bos Blueray

Jumat, 26 Juni 2026 | 14:45

UPDATE

Prabowo Tindak Lanjuti Usulan Tambah Beasiswa S3 bagi Dosen

Minggu, 28 Juni 2026 | 16:09

Panitia Ogah Disusupi Politik, Jokowi Batal Ikut Kirab Budaya di Lampung Timur

Minggu, 28 Juni 2026 | 16:06

Sekolah Rakyat Bogor Padukan Panorama Alam dan Fasilitas Pendidikan Modern

Minggu, 28 Juni 2026 | 15:43

400 Lajang Ikut Golek Garwo, Kemenag Dorong Lahirnya Keluarga Sakinah

Minggu, 28 Juni 2026 | 15:35

Dana SAL Kemenkeu Perkuat Likuiditas dan Intermediasi Bank Mandiri

Minggu, 28 Juni 2026 | 15:29

Prabowo Target Pangkas BUMN dari 1.000 Jadi 250 Perusahaan

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:47

Safari Politik Jokowi Bareng PSI Picu Sorotan

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:28

Daftar 32 Tim yang Lolos Piala Dunia 2026, Lajut Fase gugur

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:16

Australia Gandakan Denda Platform Medsos Nakal hingga Rp1 Triliun

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:06

Membaca Sinyal di Balik Ritual Jokowi Injak Kepala Kerbau di Lampung

Minggu, 28 Juni 2026 | 13:56

Selengkapnya