Berita

Presiden AS Joe Biden/Net

Dunia

Desak Kongres Larang Senjata, Biden: Berapa Banyak Lagi Pembantaian yang Harus Kita Alami?

JUMAT, 03 JUNI 2022 | 11:46 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Maraknya aksi penembakan massal di Amerika Serikat (AS) membuat Presiden Joe Biden mendesak Kongres untuk memperketat pengendalian senjata, termasuk melarang senjata serbu.

Dalam pidatonya di Gedung Putih pada Kamis petang (2/6) waktu setempat, Biden menyoroti banyaknya aksi penembakan baru-baru ini AS. Bahkan dalam sehari, pada Rabu (1/6), terjadi tiga penembakan massal di tiga lokasi berbeda.

"Demi Tuhan, berapa banyak lagi pembantaian yang harus kita alami?" tanya Biden, seperti dikutip Reuters.


Dalam pidatonya itu, ia menyerukan kata "Cukup!" untuk aksi penembakan di AS.

Ia juga mendesak Kongres untuk mengambil langkah nyata, sejumlah pembatasan kepemilikan senjata yang selama ini kerap ditentang oleh Partai Republik.

Langkah-langkah tersebut termasuk melarang penjualan senjata serbu dan magasin berkapasitas tinggi. Jika tidak dimungkinkan, maka diperlukan pembatasan, yaitu menaikkan usia minimum untuk membeli senjata menjadi 21 tahun dari 18 tahun.

Biden juga mendesak dicabutnya perlindungan produsen senjata dari tuntutan kekerasan yang dilakukan oleh konsumen mereka.

"Kita tidak bisa mengecewakan rakyat Amerika lagi," tekan Biden.

Menurut Biden, jika Kongres tidak bertindak, maka persoalan ini akan menjadi masalah utama selama pemilu paruh waktu pada November mendatang.

Namun Asosiasi Senapan Nasional menyebut proposal Biden itu justru akan melanggar hak-hak pemilik senjata yang taat hukum.

"Ini bukan solusi nyata, bukan kepemimpinan sejati, dan bukan yang dibutuhkan Amerika," kata asosiasi tersebut.

AS memiliki tingkat kematian senjata yang lebih tinggi daripada negara kaya lain.

Dalam beberapa pekan terakhir, sejumlah aksi penembakan massal terjadi. Pada Rabu (1/6), terjadi penembakan massal di sebuah sekolah di Texas, supermarket di New York, dan gedung medis di Oklahoma.

Populer

Menyorot Nuansa Politis Penetapan Direksi Pelindo

Senin, 02 Maret 2026 | 06:59

10.060 Jemaah Umrah Telah Kembali ke Tanah Air

Kamis, 05 Maret 2026 | 09:09

Harga Tiket Pesawat Kembali Tidak Masuk Akal

Selasa, 03 Maret 2026 | 03:51

Rusia dan China akan Dukung Iran dari Belakang Layar

Minggu, 01 Maret 2026 | 04:20

Kecelakaan Moge di Kulon Progo, Istri Bos Rokok HS Meninggal

Senin, 02 Maret 2026 | 18:54

KAI Wisata Hadirkan Kereta Panoramic Rute Jakarta–Yogyakarta dan Solo

Sabtu, 28 Februari 2026 | 15:37

PKB Kutuk Pembunuhan Ali Khamenei dan Desak PBB Jatuhkan Sanksi ke Israel-AS

Minggu, 01 Maret 2026 | 18:07

UPDATE

Tiga ABK WNI Hilang dalam Ledakan Kapal UEA di Selat Hormuz

Minggu, 08 Maret 2026 | 13:50

Kemenhaj Dorong UMKM Masuk Rantai Pasok Oleh-oleh Haji

Minggu, 08 Maret 2026 | 13:15

KPK Sempat Cari Suami Fadia Arafiq Saat OTT Kasus Korupsi Pemkab Pekalongan

Minggu, 08 Maret 2026 | 13:08

AWKI Ajak Pelajar Produksi Film Pendek Bertema Kebangsaan

Minggu, 08 Maret 2026 | 13:06

Sambut Nyepi, Parade Ogoh-Ogoh Meriahkan Bundaran HI

Minggu, 08 Maret 2026 | 12:32

Sekjen PSI Jalankan Amanah Presiden Prabowo Benahi Tata Kelola Hutan

Minggu, 08 Maret 2026 | 12:15

Balas Serangan Israel, Iran Bombardir Kilang Minyak Haifa

Minggu, 08 Maret 2026 | 12:10

15 Vaksinasi Wajib untuk Anak Menurut IDAI dengan Jadwalnya

Minggu, 08 Maret 2026 | 12:05

Zendhy Kusuma Soroti Bahaya Penghakiman Digital Usai Video Restoran Bibi Kelinci

Minggu, 08 Maret 2026 | 12:01

3 Gejala Campak yang Perlu Diwaspadai, Jangan Sampai Salah

Minggu, 08 Maret 2026 | 12:00

Selengkapnya