Berita

Mantan Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal (Purn) Chappy Hakim/Net

Publika

A Valuable & Victorious Friend and Mentor

OLEH: DIMAS A. KURNIAWAN
JUMAT, 27 MEI 2022 | 21:22 WIB

SAYA mempunyai sebuah channel Youtube bernama KurniawanTalks, di mana saya mengadakan podcast/siniar/bincang-bincang mengenai isu-isu global maupun nasional. Channel tersebut saya rintis sejak akhir tahun 2020, sembari mengisi waktu luang “lockdown” pandemi Covid-19 di rumah, yang juga awalnya merupakan salah satu tugas sekolah saya dalam mengerjakan project di sebuah pelajaran CAS (creativity, activity, service).

Sekarang, podcast tersebut sudah menjadi rutinitas saya yang saya laksanakan paling tidak 2 minggu sekali, atau bahkan beberapa kali dalam seminggu. Saya mengundang beberapa tokoh nasional hingga dunia, mulai dari para dubes, jenderal, hingga bahkan mantan PM Malaysia, Tun Mahathir Mohammad.

Salah satu tamu yang cukup menarik untuk berdiskusi dengan saya adalah seorang pensiunan TNI AU yang “built different”: ialah Marsekal TNI (Purn) Chappy Hakim, mantan Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU).


Satu hal yang lucu dari perkenalan saya dengan Om Chappy adalah saya mengalami kendala saat ingin mengundang dia pada podcast saya awalnya. Saya kontak nomor staf beliau yang diberikan oleh CH melalui kolom komentar di akun Instagramnya.

Pesan WA saya memang direspon dan saya juga diminta mengirim CV saya hingga daftar pertanyaan podcastnya. Namun begitu saja. Setelah itu tak ditanggapi selama berbulan-bulan request saya tadi, padahal saya bolak-balik mengirim pesan WA.

Saya sempat merasa gelisah, padahal sosok CH tak begitu sibuk tampaknya (dibandingkan marsekal-marsekal yang masih aktif di TNI AU), tapi mengapa kok belum berkenan ya hadir secara virtual. Saya pun kontak langsung beliau setelah beberapa bulan, melalui Direct Message (DM) Instagram, dan alhamdulillah dibalas. And so it begins…

Dua kata yang saya gunakan untuk mendeskripsikan sosok CH ini: Valuable & Victorious. Ia merupakan sebuah inspirasi bagi seluruh elemen masyarakat bangsa ini, yang membuat dirinya sangat valuable, dan karya-karyanya dalam bentuk buku yang selalu menakjubkan, membuat dirinya sebagai salah satu kemenangan bangsa ini dalam menjadi tokoh yang kredibel dan intelektual, dan juga tentu pengabdiannya selama puluhan tahun di Angkatan Udara kita.

“16 tahun? Surprising me!” Itulah ungkapan sosok marsekal bintang 4 ini saat tahu umur saya, pada saat saya podcast dengannya Juli 2021 lalu. Ia terkejut dengan betapa banyak sudah podcast/wawancara yang saya adakan dengan tokoh-tokoh nasional hingga internasional.

Saya merasa terhormat dengan mendengarkan betapa beliau bangga terhadap saya, bintang empat loh ini! Saya pun langsung bertanya berbagai hal mengenai “Air Power” Indonesia dan pasti langsung di jawab dengan lugas dan lengkap. Tak terasa, sudah hampir 2 jam saya berbincang dengan beliau, padahal target pembicaraan saya hanya 20–30 menit saja.

Tak hanya itu, beberapa kali saya bertemu beliau di Jakarta. Pertama sekali beberapa bulan yang lalu di Hotel Sultan Jakarta. Saya mendengar nasihat dan betapa elegannya sosok Marsekal ini berbicara tentang permasalahan apa pun itu, terutama tentang aviasi dan pertahanan udara.

Kritis namun elegan, suatu kredibilitas identitas yang setiap hari saya berusaha untuk bentuk dalam diri saya, dan pertemuan pertama saya dengan CH secara langsung sangat fruitful.

Kemudian, saya berjumpa lagi dengan beliau di Jakarta, dan terakhir kali minggu lalu di Jakarta. Lagi-lagi saya dibanjiri dengan ceramah yang tidak membosankan namun menarik, tentang politik global dan nasional serta masalah Air Power kita. Saya ingin terus menerus berdiskusi dengan beliau, karena orangnya sangat cerdas dan fair dalam memberikan penilaian terhadap apa pun itu.

Itulah mengapa saya sebutkan CH sebagai sosok yang valuable. Bintang dan tanda jasanya tak ada arti jika dibandingkan dengan intelektualitas dan moralitas positif dirinya, membuktikan betapa kita hidup bukan untuk disegani tapi untuk menginspirasi satu sama lain.

Baru saja semalam saya berbicara di telepon dengan Om CH, saya berbincang tentang keinginan saya untuk dikenalkan ke beberapa tokoh, untuk saya undang ke podcast saya. Terlintas di pikiran saya dan langsung saya tanya, berapa banyak sudah buku yang ditulis oleh Om CH? 44.

Bayangkan, pensiunan KSAU, yang sudah menulis sejak puluhan tahun lalu, masih terus menulis mungkin sampai 100 buku nantinya. Unbelivable! Saya juga sudah membaca beberapa buku beliau termasuk Defence & Aviation 1 dan 2, Pelangi Dirgantara, Fenomena Pom Bensin, dan lain-lain.

Permasalahan mulai dari pendidikan hingga kompleksitas jenis mesin pesawat dikupas tuntas oleh CH dengan diksi yang elegan dan struktur yang rapi ibarat upacara pasukan AU yang ia pimpin dulu.

Saya sampai saat ini masih lapar untuk membaca lebih banyak lagi buku Om CH dengan isu-isu yang sangat menarik, meskipun harus kita akui tidak banyak diminati oleh orang-orang Indonesia saat ini yang lebih berminat dengan opini panas politik praktis atau gosip selebritas negeri ini.

Di sinilah sosok Chappy Hakim menjadi victorious, buku-bukunya ini merupakan kemenangan bagi dirinya, keluarganya, dan bangsa Indonesia. Hampir tidak ada di dunia ini purnawirawan jenderal yang sanggup menulis banyak artikel secara rutin, dan buku yang tiap tahun pasti terbit.

Saya rasa, jika saat ini kita masih malas membaca (apalagi menulis!), kita sudah berada di lubang kegagalan dan saya yakin buku CH akan membantu dalam pembentukan “tangga ilmu” yang akan membantu kita keluar dari lubang kegagalan menuju victory, dalam minat dan bakat masing-masing.

Demikianlah yang bisa saya tulis tentang sosok Marsekal Chappy Hakim ini, mantan KSAU yang juga pernah menjabat sebagai petinggi di Freeport, dengan segudang ilmu dan courage yang berapi-api tak pernah padam.

Pokoknya, saya akan selalu menjumpai CH jika saya mengunjungi Jakarta. Lumayan, dapat buku-buku baru sembari diskusi geopolitics dan juga masalah dalam negeri ini.

Viva CH, Viva Akal Sehat!

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

iPhone Raffi Ahmad Dikirim dari AS Tanpa Disebut dalam Dokumen

Selasa, 09 Juni 2026 | 00:01

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

UPDATE

Sejarah Baru! Hattrick Perdana Messi Bawa Argentina Libas Aljazair dan Samai Rekor Klose

Rabu, 17 Juni 2026 | 10:15

KPK Buka Peluang Kembangkan Penyidikan Kasus Bea Cukai yang Seret Nama Djaka Budi Utama

Rabu, 17 Juni 2026 | 10:01

Reog Sekolah Rakyat Ponorogo Raih Penghargaan di Ajang Piala Presiden

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:34

Pemerintah Hentikan Sementara MBG Selama Libur Sekolah

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:32

Mahfud MD Nilai Dadan Hindayana Layak Dihukum Mati Jika Terbukti Korupsi

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:23

Harga Minyak Brent Kembali ke Level 78 Dolar AS

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:19

Harta Wamenko Pangan Hanif Faisol Tembus Rp8,9 Miliar, Naik Tajam Sejak 2022

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:04

Bursa Asia Dibuka Merah, Kospi Pimpin Penurunan

Rabu, 17 Juni 2026 | 08:52

Bayan Resources Siap Tebar Dividen Rp 8,96 Triliun dari Laba Buku 2025

Rabu, 17 Juni 2026 | 08:40

Wall Street Variatif, Dow Jones Terbang Tinggi

Rabu, 17 Juni 2026 | 08:23

Selengkapnya