Berita

Wakil Ketua MPR RI dari Fraksi Partai Demokrat, Syarief Hasan/RMOL

Politik

Telkomsel Investasi Rp 5 Triliun ke GOTO, Wakil Ketua MPR: Itu Duit Rakyat!

JUMAT, 20 MEI 2022 | 13:44 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Investasi PT Telkomsel ke GOTO (Perusahaan merger Gojek dan Tokopedia) yang mencapai 370 juta dolar AS atau setara Rp5 triliun jadi sorotan keras masyarakat.

Pasalnya, harga saham GOTO terus anjlok hingga 50 persen lebih sejak IPO, sudah menyentuh angka Rp 194/lembar. Artinya, investasi yang dilakukan Telkomsel berpotensi merugi.

Menurut Wakil Ketua MPR RI dari Fraksi Partai Demokrat, Syarief Hasan, anjloknya harga saham GOTO itu seolah menunjukkan tidak adanya perhitungan yang matang atau risk management yang baik dalam investasi yang dilakukan PT Telkomsel yang merupakan anak perusahaan BUMN PT Telkom.


Harga saham GOTO turun hingga 26,9 persen dari harga pembelian yang dilakukan oleh Telkomsel sebesar Rp 265,5 per lembar.

Syarief Hasan menilai, investasi yang dilakukan oleh Telkomsel sangat merugikan, apalagi uang triliunan yang diinvestasikan itu adalah uang rakyat. Untuk itu, penegak hukum harus mendalami kasus besar tersebut.

“Telkomsel yang telah menyuntik GOTO hingga Rp 5 triliun adalah uang rakyat. Kita melihat juga adanya potensi konflik kepentingan di dalam persoalan ini. Bagaimana tidak, pemilik saham besar GOTO adalah lingkaran keluarga dari beberapa nama pejabat pemerintahan di negeri ini sehingga banyak masyarakat yang bertanya-tanya," kata Syarief Hasan saat dikonfirmasi, Jumat (20/5).

Anggota Majelis Tinggi Partai Demokrat ini juga mempertanyakan poin perjanjian kerjasama Telkomsel dengan GOTO hingga berani mengucurkan dana triliunan rupiah.

Hal ini, ditegaskan Syarief, harus dijelaskan secara terbuka dan transparan oleh Telkomsel, dan sebaiknya diaudit untuk kemudian hasilnya disampaikan ke rakyat.

"Perlu diingat bahwa PT Telkomsel adalah anak perusahaan BUMN PT Telkom. Perusahaan ini adalah milik negara, sehingga merugikan perusahaan akibat kebijakan yang salah tentu masuk kategori merugikan negara," imbuhnya.

Lebih lanjut, Syarief Hasan juga mengingatkan Menteri BUMN Erick Tohir agar melakukan evaluasi menyeluruh terhadap investasi tersebut.

“Menteri BUMN harus mengambil tanggungjawab untuk melakukan evaluasi dan harus menghindari konflik kepentingan. Kita tidak ingin mendengar BUMN rugi karena kebijakan keliru dan cenderung merugikan negara akibat adanya kepentingan pribadi," demikian Syarief Hasan.

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

UPDATE

NATO Turun Gunung Usai Trump Mau Tarik 5 Ribu Pasukan dari Jerman

Minggu, 03 Mei 2026 | 00:03

Komdigi Dorong Sinergi Penegakan Hukum Ruang Digital

Sabtu, 02 Mei 2026 | 23:45

Wamenkeu soal Purbaya Masuk RS: Insya Allah Sehat, Doakan Saja!

Sabtu, 02 Mei 2026 | 23:32

Negosiasi Berjalan Buntu, Trump Tuding Iran Tidak Punya Pemimpin Jelas

Sabtu, 02 Mei 2026 | 23:19

Pernyataan Amien Rais di Luar Batas Kritik Objektif

Sabtu, 02 Mei 2026 | 22:51

Sekolah Tinggi, Disiplin Rendah: Catatan Hardiknas

Sabtu, 02 Mei 2026 | 22:38

Aktivis 98: Pernyataan Amien Rais Tidak Cerminkan Intelektual

Sabtu, 02 Mei 2026 | 22:18

Wakil Wali Kota Banjarmasin Dinobatkan Sebagai Perempuan Inspiratif

Sabtu, 02 Mei 2026 | 21:48

KAI Pasang Pemasangan Palang Pintu Sementara di Perlintasan Jalan Ampera

Sabtu, 02 Mei 2026 | 21:34

Paguyuban Tak Pernah Ideal, Tapi Harus Berdampak

Sabtu, 02 Mei 2026 | 20:52

Selengkapnya