Berita

Para penggarap lahan sawit/Net

Publika

Perkebunan Sawit: Cultuurstelsel yang Diawetkan

OLEH: MUKHAER PAKKANNA
JUMAT, 13 MEI 2022 | 08:13 WIB

USAI Sholat Idulfitri 2 Mei lalu, kami menghabiskan waktu 4 hari di Pulau Selayar dan Pulau Bahuluang, ujung selatan. Sepanjang perjalanan, kami selalu disuguhi nyiur melambai perkebunan kelapa rakyat nan eksotik. Entah berapa ratus ribu hektare luas lahan itu.

Di tengah perjalanan, saya masih menemukan masyarakat yang nyaris tiap hari mengepulkan asap. Mengeringkan daging buah kelapa menjadi kopra.

Olahan kopra selayar ini, terutama kopra putih, dulunya diekspor ke pelbagai negara tujuan. Ini menjadi unggulan ekspor. Zaman sebelum Indonesia mengenal kelapa sawit dan CPO, dulunya masyarkat Selayar dan daerah-daerah lain hidup dari kearifan lokal petani kelapa rakyat dan usaha kopra.


Komoditas kelapa rakyat, sekali lagi, dulunya, justru mampu mendongkrak kesejahteraan dan kemakmuran rakyat. Kita pun hanya mengenal minyak kelapa dari hasil kelapa rakyat dan produk turunannya. Dan, tampaknya, minyak kelapa tradisional itu, jauh lebih higienis dan ramah lingkungan dibanding minyak nabati yang populer di Tanah Air saat ini.

Namun, setelah kelapa sawit ditanam massal, dengan obsesi meningkatkan devisa negara dari minyak nabati ini, pemerintah memberi keistimewaan bagi pemodal kakap untuk menggarap perkebunan sawit. Kelapa rakyat kemudian “dianaktirikan”.

Puluhan juta hektare lahan hutan "dipaksa" dikonversi menjadi lahan perkebunan sawit. Ujungnya, perkebunan sawit ini menjadi tambang "emas hijau" yang terus-menerus menjadi sumber pemasukan utama pemodal kakap. Mirip di zaman cultuurstelsel (sistem tanam paksa) di era kolonial Belanda.

Makanya, terasa sulit menemukan pemodal kakap di Tanah Air yang tidak bermain di perkebunan kelapa sawit dan industri CPO. Mereka yang usaha awalnya hanya tukang jualan  rokok di Pulau Jawa saja justru makin menambal pundi-pundinya di usaha sawit ini. Merambah lahan Sumatera dan Kalimantan.

Demikian juga yang bergerak di sektor keuangan ikut berjibaku di usaha sawit ini. Benar-benar menggiurkan, tidak ada ruginya. Bahkan, mereka yang modal tanggung saja, asal mau bercumbu alias berkolaborasi alias menjadi komprador dari pemodal jumbo pemilik perkebunan sawit, pasti akan kecipratan kekayaannya secara eksponensial.

Dan, harap diingat mereka inilah yang salah satunya bertanggung jawab kenapa harga minyak goreng terkerek naik. Karena mereka pasti tahu siapa sesungguhnya pelaku kartel CPO dan migor itu.

Nun jauh di Selayar sana, dan daerah-daerah penghasil kopra atau kelapa rakyat di Tanah Air, kebijakan afirmatif terhadap nasib petani kelapa rakyat tak pernah ditengok oleh pemerintah pusat.

Mereka dibiarkan beradu dengan ganasnya alam. Keinginan untuk mengapitalisasi secara serius kelapa dan kopra rakyat tidak pernah muncul dalam bentuk kebijakan. Koperasi kopra pun tidak pernah beringsut naik nasibnya. Cerita kelapa rakyat hanya nyanyian pengantar tidur: "nyiur hijau di tepi pantai, siar-siur daunnya melambai".

Sementara, perlakuan terhadap perkebunan  kelapa sawit dan industri CPO terus dimanja. Padahal dari hulu hingga hilir, sawit selalu bermasalah. Mulai soal tanaman ini yang rakus air, monokultur, eksploitasi unsur hara dan kesuburan tanah, hingga selalu melahirkan cerita kepincangan penguasaan lahan.

Cerita lahan sawit selalu menumpahkan air mata kesedihan bagi rakyat. Karena banyak cerita ketidakadilan dan penindasan. Coba tanyakan, darimana mereka itu memperoleh jutaan hektare lahan sawit, kalau bukan karena koneksi dentgan oligarki politik negara.

Penulis adalah Rektor Institut Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan (ITB-AD)

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harta Zita Anjani PAN Melonjak Seribu Persen dalam Dua Tahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 17:30

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

UPDATE

Dialog BEM di Makassar: Gerakan Mahasiswa Harus Independen dan Berbasis Data

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:17

DPR Apresiasi Perbaikan Haji di Era Prabowo, Antrean Jemaah Turun Jadi 26 Tahun

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:14

KPK Soroti Nama Besar yang Muncul dalam Persidangan Kasus Bea Cukai

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:59

Polri Serius Garap Universitas Kepolisian yang Bisa Diakses Masyarakat Umum

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:42

Tiyo Ardianto dan Tradisi Panjang Anak Rakyat dalam Sejarah Pergerakan Indonesia

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:33

RUU Perkoperasian Buka Jalan Koperasi Jadi Soko Guru Perekonomian

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:25

Masyarakat Kemuning Ngadu ke BAM DPR soal Klaim Kawasan Hutan

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:21

FPHI Ultimatum OJK, Minta Kejelasan Laporan Keuangan Danantara

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:10

KPK Tagih Perbaikan Sistem MBG di Era Kepala BGN Baru

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:56

Kinerja Bertumbuh, Pelindo Setor Rp7,81 Triliun kepada Negara

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:50

Selengkapnya