Berita

Pakar kebijakan publik, Achmad Nur Hidayat/Net

Publika

Pertumbuhan Ekonomi Kuartal 1-2022 Kurang Berkesan

SENIN, 09 MEI 2022 | 15:52 WIB | OLEH: ACHMAD NUR HIDAYAT

PERTUMBUHAN ekonomi 5.01 persen penikmat terbesarnya (65,74 persen) adalah pengusaha sawit, pengusaha batubara, pemilik infrastruktur, importir vaksin dan obat kesehatan lainnya.

Badan Pusat Statistik (BPS) baru saja merilis data pertumbuhan ekonomi RI pada Senin 9/5. Tercatat ekonomi RI di kuartal I-2022 tumbuh 5,01 persen secara year to year (yoy).

Pertumbuhan Kuartal I-2022 hanya dinikmati oleh segelintir orang atau oligarki, sementara mayoritas publik tidak menikmati pertumbuhan tersebut.
Meskipun  pertumbuhan ekonomi RI di kuartal I-2022 terbilang cukup tinggi, namun penikmat terbesar pertumbuhan tersebut adalah pengusaha sawit, pengusaha batubara, pemilik infrastruktur, importir vaksin dan obat kesehatan lainnya.

Meskipun  pertumbuhan ekonomi RI di kuartal I-2022 terbilang cukup tinggi, namun penikmat terbesar pertumbuhan tersebut adalah pengusaha sawit, pengusaha batubara, pemilik infrastruktur, importir vaksin dan obat kesehatan lainnya.

Situasi ekonomi kuartal 1-2022 diwarnai dengan kenaikan harga pangan, harga minyak goreng, tingginya harga komoditas ekspor seperti sawit dan batubara serta kenaikan belanja pemerintah terutama di sektor konstruksi.

Hal ini dilihat dari 65,74 persen pertumbuhan ekonomi disumbang oleh sektor perdagangan, pertanian, pertambangan dan konstruksi.

Sektor perdagangan dan pertanian dinikmati oleh pengusaha minyak sawit. Sektor pertambangan mayoritas dinikmati oleh pengusaha batubata dan sektor konstruksi dinikmati para BUMN konstruksi.

Sektor yang banyak melibatkan tenaga kerja yaitu industri pengolahan berkontribusi kecil yaitu 1.06 persen meski pertumbuhannya tinggi 19,19 persen.

BPS melaporkan bahwa pengungkit tumbuhnya di industri pengolahan tumbuh di subsektor tekstil dan pakaian jadi 12,45 persen.

Industri makanan minuman 3,75 persen. Jelas sektor ini bangkit sejalan dengan relaksasi pembatasan mobilitas penduduk imbas berkurangnya kasus positif Covid-19.

Sektor lain yang cukup tinggi tumbuha adalah industri kimia farmasi dan obat tradisional yang tumbuh 4,67 persen. Penikmat terbesar pertumbuhan ini adalah para importir vaksin dan obat-obatan untuk pemulihan imunitas tubuh akibat Covid-19.

Jika dilihat dari sisi pengeluaran. Maka terlihat konsumsi rumah tangga masih dibawah ambang normal sebelum Covid-19. Kuartal 1-2022 konsumsi rumah tangga tumbuh 4,34 persen jauh dibawah konsumsi publik yang normalnya adalah 5.0 persen.

Hal ini menunjukkan daya beli masyarakat meningkat namun masih dibawah situasi normal. Disinilah Pemerintah membutuhkan daya ungkit untuk meningkatkan purchasing power dari masyarakat.

Lebih dalam lagi melihat bahwa peningkatan konsumsi rumah tangga juga tercatat di sektor tersier seperti hotel, angkutan, restoran dan sebagainya.

Ini menunjukan rumah tangga yang meningkat belanja adalah kalangan atas sementara kalangan menengah ke bawah berjuang menghadapi kenaikan harga.

BPS mencatat inflasi April 2022 sebesar 3,47 persen jika dibandingkan dengan April 2021. Sementara secara year to date, inflasi tercatat 2,15 persen.

Kenaikan inflasi tersebut adalah yang tertinggi sejak Januari 2017. Inflasi 2022 ini akan meningkatkan risiko kontraksi pertumbuhan ekonomi.

Ekonomi Indonesia diprediksi dibawah target pemerintah yaitu 5.03 persen di akhir tahun 2022. Karena Inflasi dan resiko kenaikan suku bunga kredit akibat perang rusia dan kenaikan FED rate menyebabkan Ekonomi Indonesia akan tumbuh mencapai maksimal 4,5 persen-5.0 persen.

*Penulis adalah Pakar Kebijakan Publik dan Kepala Studi Ekonomi Politik LKEB UPN Veteran Jakarta dan Co-Founder Narasi Institute

Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

Hologram di Ijazah UGM Jadi Kuncian Mati, Jokowi Nyerah Saja!

Senin, 26 Januari 2026 | 00:29

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

Rektor UGM Bikin Bingung, Jokowi Lulus Dua Kali?

Rabu, 28 Januari 2026 | 22:51

KPK Amankan Dokumen dan BBE saat Geledah Kantor Dinas Perkim Pemkot Madiun

Rabu, 28 Januari 2026 | 11:15

UPDATE

Jokowi Jadikan PSI Kendaraan Politik demi Melanggengkan Dinasti

Senin, 02 Februari 2026 | 10:15

IHSG "Kebakaran", Sempat Anjlok Hingga 5 Persen

Senin, 02 Februari 2026 | 09:49

Ketegangan Iran-AS Reda, Harga Minyak Turun Hampir 3 Persen

Senin, 02 Februari 2026 | 09:47

Tekanan Pasar Modal Berlanjut, IHSG Dibuka Anjlok Pagi Ini

Senin, 02 Februari 2026 | 09:37

Serang Pengungsi Gaza, Israel Harus Dikeluarkan dari Board of Peace

Senin, 02 Februari 2026 | 09:27

BPKN Soroti Risiko Goreng Saham di Tengah Lonjakan Jumlah Emiten dan Investor

Senin, 02 Februari 2026 | 09:25

Komitmen Prabowo di Sektor Pendidikan Tak Perlu Diragukan

Senin, 02 Februari 2026 | 09:14

Menjaga Polri di Bawah Presiden: Ikhtiar Kapolri Merawat Demokrasi

Senin, 02 Februari 2026 | 09:13

Emas Melandai Saat Sosok Kevin Warsh Mulai Bayangi Kebijakan The Fed

Senin, 02 Februari 2026 | 09:07

Nikkei Positif Saat Bursa Asia Dibuka Melemah

Senin, 02 Februari 2026 | 08:49

Selengkapnya