Berita

Duta Besar Republik Islam Afghanistan Faizullah Zaki ketika menghadiri buka puasa bersama Kantor Berita Politik RMOL di Kopi Timur, kawasan Pondok Kelapa, Jakarta Timur, Jumat (15/4)/RMOL

Dunia

Mengapa Afghanistan Kembali Jatuh?

RABU, 20 APRIL 2022 | 01:49 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Pertengahan Agustus tahun lalu, dunia terkejut. Taliban kembali menguasai Afghanistan. Dengan mudah. Tanpa menghadapi perlawanan yang berarti. Presiden Ashraf Ghani yang telah berkuasa di negara itu sejak 2014 memilih melarikan diri ke Qatar, meninggalkan rakyatnya dalam kebingungan.

Beberapa politisi senior Afghanistan memilih bertahan. Mantan Presiden Hamid Karzai dan pemimpin rekonsiliasi nasional Abdullah Abdullah, misalnya. Mereka mengupayakan dialog sedemikian rupa dengan Taliban, untuk mencegah situasi bergerak ke arah yang lebih buruk lagi.

Keberhasilan Taliban merebut kekuasaan Afghanistan itu bagi kebanyakan orang sungguh mengherankan. Bukankah, sejak Taliban berhasil dikalahkan koalisi Aliansi Utara dan Amerika Serikat tahun 2001, Afghanistan mendapatkan bantuan yang tidak sedikit, sangat banyak bahkan, dari komunitas internasional?


"What went wrong?" tanya wartawan senior dan CEO RMOL Network Teguh Santosa.

Yang ditanyanya adalah Duta Besar Republik Islam Afghanistan Faizullah Zaki yang menghadiri undangan buka puasa bersama yang diselenggarakan Kantor Berita Politik RMOL di Kopi Timur, di kawasan Pondok Kelapa, Jakarta Timur, Jumat (15/4).

Dubes Zaki yang duduk di sebelah kanan Teguh berusaha untuk memberikan jawaban terbaik yang ia punya dan mengaitkannya dengan supra struktur politik yang dibentuk Afghanistan melalui Loya Jirga, sebuah forum "adat" tertinggi yang diikuti kepala-kepala suku dan tokoh-tokoh masyarakat berpengaruh.

Loya Jirga menyepakati satu sistem pemerintahan yang akhirnya bersifat sangat kaku, yang oleh Dubes Zaki disebut sebagai sistem pemerintahan yang sangat tersentralisir. Di mana Presiden memiliki kekuasaan yang begitu besar. Sedemikian besar kekuasaan presiden, sehingga "check and balances" yang penting dalam praktik demokrasi tidak dapat ruang.

Sementara tanpa "check and balances", penguasa menjadi tidak akuntabel.

"Rakyat tidak bisa mengontrol kekuasaan. Hasilnya satu, yaitu korupsi yang menyebar luas dan tampak jelas," urai Dubes Zaki.

Dubes Zaki menuturkan, ketika kekuasaan tersentralisasi di tangan satu orang, dan orang itu dikelilingi oleh kelompok "Yes Man" yang tidak memiliki kapabilitas, maka kekuasaan tersebut akan hancur.

"Ini alasan utamanya, super-centralized government dan korupsi," pungkasnya.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

Perdana sebagai Anggota Penuh, Prabowo Hadiri KTT BRICS di India

Sabtu, 12 September 2026 | 12:20

Serda Ahmad Muzammil Tewas, POMAU Periksa 4 Personel

Sabtu, 12 September 2026 | 12:06

Menteri Imipas Penuhi Janji, 82 WNI Dipulangkan dari Malaysia

Sabtu, 12 September 2026 | 11:52

Kemendikdasmen Prioritaskan Revitalisasi Ribuan Sekolah, Ini Kategorinya

Sabtu, 12 September 2026 | 11:37

Pertamina Patra Niaga Tingkatkan Pasokan BBM ke SPBU Sulsel

Sabtu, 12 September 2026 | 11:28

Soal Life Jacket yang Ditemukan, Pemilik Kapal Buka Suara

Sabtu, 12 September 2026 | 11:10

Hari Pelanggan, Manfaat Perlindungan Kesehatan Tembus Rp1,1 Triliun

Sabtu, 12 September 2026 | 11:01

LRT Jabodebek Beroperasi Normal Usai Gempa M5,9 Guncang Jakarta

Sabtu, 12 September 2026 | 10:50

Emas Antam Naik di Akhir Pekan, Satu Gram Jadi Segini

Sabtu, 12 September 2026 | 10:45

DPR Desak Usut Tuntas Penembakan Tiga Pegawai Pertanian Jayawijaya

Sabtu, 12 September 2026 | 10:28

Selengkapnya