Berita

Ilustrasi/Net

Publika

Semiotika Warisan Kepemimpinan

SENIN, 18 APRIL 2022 | 14:18 WIB | OLEH: YUDHI HERTANTO

BERKAH sekaligus musibah! Warisan memiliki makna berganda. Bergantung pada apa yang diwariskan dan bagaimana mengelolanya. Termasuk tentang warisan kepemimpinan.

Legacy. Disebut sebagai mahakarya yang dikenang oleh publik dari keberadaan seorang pemimpin. Kemampuan kepemimpinan dapat dilihat dari sejauh mana dukungan dan kepercayaan diberikan oleh masyarakat atas kinerja yang dihasilkan.

Seorang pemimpin, ingin selalu diingat dalam benak masyarakat akan keberhasilannya dan atas semua hasil positif yang dicapai. Dengan itu, upaya yang dilakukan untuk masuk ke dalam memori kolektif publik perlu dibentuk secara langsung -hasil karya nyata, maupun tidak langsung -konstruksi media.


Tidak mengherankan, pembangunan dalam napas kemajuan dan modernitas ditampilkan sebagai ikon fisik. Pendekatan atas aspek manusia, menjadi tertinggal dalam proyek tersebut. Hal ini yang kemudian membuat pembangunan, justru kerap bersinggungan dengan publik itu sendiri.

Para pemimpin adalah mereka yang memiliki kuasa, untuk memutuskan apa saja yang dianggap perlu. Salah satu godaan terbesar pemimpin, adalah keinginan untuk terus memimpin, karena memiliki sifat yang menentukan serta berkuasa atas segala sesuatu di bawahnya.

Tergelincirnya pemimpin, kerap mampu menggunakan persuasif hingga tindakan koersif untuk membuat tunduk serta patuh. Berkuasa penuh, lantas mempersonalisasi kekuasaan. Persis Raja Louis yang menyebut l’etat c’est moi -negara adalah saya.

Setidaknya keinginan untuk terus melanjutkan kekuasaan memiliki dua makna berbeda, (i) memiliki kemampuan untuk mengelola kepemimpinan bagi kepentingan publik yang luas, (ii) mempertahankan kursi kuasa guna mendapatkan akses sumberdaya.

Keduanya jelas berbeda. Pijakan yang pertama jelas sesuai dengan aspirasi publik, suara mayoritas yang berkembang ditengah masyarakat. Sedangkan makna kedua bertujuan untuk melakukan akumulasi dari sekelompok kepentingan yang terbatas.

Kehendak publik, kerapkali diambil alih oleh segelintir kepentingan di sekeliling kepemimpinan, dengan tujuan berbeda. Sebagian di antaranya menyebut, mengkhawatirkan keberlanjutan pembangunan yang tengah berjalan saat ini dapat terhenti, karena perbedaan visi suksesor kepemimpinan.

Begitulah isu dimainkan untuk mempertahankan status quo. Publik disodorkan pada ketakutan yang belum terjadi, untuk membenarkan posisi strategis menambah durasi kekuasaan. Padahal, akumulasi waktu berkuasa cenderung merubah watak dan karakter kepemimpinan.

Benarkah pembangunan berpotensi terhenti? Di mana kuasa publik sebagai pemilik kedaulatan? Lalu seperti apa semiotika -aspek tanda yang hendak ditawarkan melalui masa berkuasa dan warisan pemimpin?

Warisan tentu bukan sekedar apa yang dikenang pada masa lalu, melainkan tentang apa yang sudah dipersiapkan untuk kepentingan di masa depan.

Disamping itu, warisan tidak melulu hadir dalam proyek raksasa yang monumental dan fenomenal. Tetapi warisan dalam hadir melalui sikap kearifan, bahkan dalam spektrum yang tidak terlihat serupa nilai etika dan moralitas.

Karena itu, warisan pemimpin bukan sekedar tugu prasasti, melainkan pada kemauan untuk berlega sekaligus berbesar hati untuk memberikan ruang pada tumbuhnya kepemimpinan baru. Keberhasilan regenerasi kepemimpinan inilah yang sesungguhnya menjadi warisan penting.

Selama ini, publik kerap menyebut “politik itu kotor” dikarenakan pragmatisme politik yang terjadi dari apa yang tampil ke hadapan publik demikian adanya. Padahal politik adalah koridor sempit yang memiliki tugas suci untuk memastikan hajat kehidupan dalam kebaikan bersama tercapai.

Gelanggang politik menjadi sedemikian kotor, karena area bersih itu kemudian melepaskan diri dari akar nilai etika dan moralitas, sehingga hanya mempertontonkan syahwat berkuasa.

Problemnya menjadi begitu pelik, manakala politik yang suci itu kemudian menjadi sarana kepentingan yang menyebabkan polarisasi dan keterbelahan publik. Kita belajar dari kemelut krisis di Sri Lanka bahwa upaya konsolidasi kekuasaan dalam satu tangan, hanya menghasilkan wajah despotik.

Dengan begitu, sirkulasi pemimpin menjadi sarana yang tidak memungkinkan kesewenang-wenangan terjadi. Kekuasan bukan tidak terbatas, justru harus dibatasi agar tidak bersifat merusak.

Kita tentu berharap warisan kepemimpinan adalah terwujudnya kesadaran etik, bahwa kekuasaan sejatinya dipergunakan bagi sebesar-besarnya kemakmuran publik, bukan sekedar menjadi tujuan dari ekspresi ambisi berkuasa yang memabukkan.

Program Doktoral Ilmu Komunikasi Universitas Sahid

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

UPDATE

Dudung Resmi Jabat Menko Polkam, Geser Djamari Chaniago

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:23

Pelantikan Suyudi Momentum Perkuat Profesionalisme Polri

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:20

Kuseryansyah Perlu Jelaskan Absen di Kejagung Terkait Kasus PT Crowde

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:19

Profil Suyudi Ario Seto, Kapolri Baru Pengganti Listyo Sigit

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:18

Harta Menko PMK Sugiono Tembus Rp13,15 Miliar

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:10

Prabowo Lantik Dua Wamenkeu Baru untuk Bantu Suahasil

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:08

7 Kali Reshuffle Kabinet Prabowo-Gibran, Ini Daftarnya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:55

Inflasi Tahunan September 2026 Capai 3,28 Persen, Ini Biang Keroknya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:55

Utang BLBI Lunas, Hak Tagih Negara Rp 110 Triliun Belum Tuntas

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:50

Pulung Agustanto: Pendidikan dan Dunia Usaha Harus Berjalan Seiring

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:46

Selengkapnya