Berita

Kerusuhan di Sri Lanka akibat krisis ekonomi/Net

Dunia

Sri Lanka Butuh Rp 43 Triliun dalam Enam Bulan untuk Atasi Krisis Ekonomi

MINGGU, 10 APRIL 2022 | 09:34 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Sri Lanka membutuhkan sekitar 3 miliar dolar AS atau setara dengan Rp 43 triliun selama enam bulan ke depan untuk menghadapi krisis ekonomi parah yang membelnggu.

Menteri Keuangan Sri Lanka, Ali Sabry mengatakan, miliaran dolar itu akan membantu memulihkan pasokan barang-barang penting, termasuk bahan bakar dan obat-obatan.

"Ini tugas besar," ujar Sabry dalam wawancaranya pada Sabtu (9/4), seperti dikutip Reuters.


Ia mengatakan, saat ini Kolombo tengah melakukan negosiasi dengan Dana Moneter Internasional (IMF) untuk mendapatkan pendanaan tersebut.

"Seluruh upaya bukan untuk melakukan default yang sulit. Kami memahami konsekuensi dari default yang sulit," kata Sabry.

Negara ini akan berupaya untuk merestrukturisasi obligasi negara internasional dan mencari moratorium pembayaran. Kolombo yakin dapat bernegosiasi dengan pemegang obligasi atas pembayaran 1 miliar dolar AS yang jatuh tempo pada Juli.

Analis J.P. Morgan memperkirakan pembayaran utang bruto Sri Lanka akan mencapai 7 miliar dolar AS tahun ini pada pekan ini, dengan defisit transaksi berjalan sekitar 3 miliar dolar AS.

Negara ini memiliki 12,6 miliar dolar AS obligasi yang beredar, dan cadangan devisa 1,9 miliar dolar AS pada akhir Maret.

"Prioritas pertama adalah melihat agar kita kembali ke saluran pasokan normal dalam hal bahan bakar, gas, obat-obatan, dan dengan demikian listrik sehingga pemberontakan rakyat dapat diatasi," jelas Sabry.

IMF sendiri mengatakan telah memulai keterlibatan tingkat teknis dengan Kementerian Keuangan Sri Lanka dan pejabat bank sentral untuk program pinjaman.

Sri Lanka menghadapi krisis ekonomi parah yang memicu aksi protes lantaran warga kesulitan mendapatkan bahan bakar dan naiknya harga barang-barang pokok. Sementara itu, terjadi pemadaman listrik hingga 13 jam sehari lantaran pemerintah Sri Lanka tidak memiliki cukup devisa untuk membeli bahan bakar.

Populer

Mantan Jubir KPK Tessa Mahardhika Lolos Tiga Besar Calon Direktur Penyelidikan KPK

Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26

Connie Nilai Istilah Sabotase KSAD Berpotensi Bangun Framing Ancaman di Tengah Bencana

Rabu, 31 Desember 2025 | 13:37

Kejagung Copot Kajari Kabupaten Tangerang Afrillyanna Purba, Diganti Fajar Gurindro

Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48

Sarjan Diduga Terima Proyek Ratusan Miliar dari Bupati Bekasi Sebelum Ade Kuswara

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06

Mantan Wamenaker Noel Ebenezer Rayakan Natal Bersama Istri di Rutan KPK

Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01

8 Jenderal TNI AD Pensiun Jelang Pergantian Tahun 2026, Ini Daftarnya

Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17

Dicurigai Ada Kaitan Gibran dalam Proyek Sarjan di Kabupaten Bekasi

Senin, 29 Desember 2025 | 00:40

UPDATE

Dana Asing Banjiri RI Rp2,43 Triliun di Akhir 2025

Sabtu, 03 Januari 2026 | 10:09

Pelaku Pasar Minyak Khawatirkan Pasokan Berlebih

Sabtu, 03 Januari 2026 | 09:48

Polisi Selidiki Kematian Tiga Orang di Rumah Kontrakan Warakas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 09:41

Kilau Emas Dunia Siap Tembus Level Psikologis Baru

Sabtu, 03 Januari 2026 | 09:19

Legislator Gerindra Dukung Pemanfaatan Kayu Hanyut Pascabanjir Sumatera

Sabtu, 03 Januari 2026 | 09:02

Korban Tewas Kecelakaan Lalu Lintas Tahun Baru di Thailand Tembus 145 Orang

Sabtu, 03 Januari 2026 | 08:51

Rekor Baru! BP Tapera Salurkan FLPP Tertinggi Sepanjang Sejarah di 2025

Sabtu, 03 Januari 2026 | 08:40

Wall Street Variatif di Awal 2026

Sabtu, 03 Januari 2026 | 08:23

Dolar AS Bangkit di Awal 2026, Akhiri Tren Pelemahan Beruntun

Sabtu, 03 Januari 2026 | 08:12

Iran Ancam Akan Targetkan Pangkalan AS di Timur Tengah Jika Ikut Campur Soal Demo

Sabtu, 03 Januari 2026 | 07:59

Selengkapnya