Berita

Ilustrasi

Publika

Hikmah Ramadhan dan Sisi Kelam Pemicu Korupsi

SABTU, 09 APRIL 2022 | 05:48 WIB | OLEH: H. FIRLI BAHURI

SYUKUR Alhamdulillah, hari-hari indah Ramadhan, bulan penuh nikmat, rahmat, berkah, hidayah serta inayah dari Allah SWT, dapat kembali kita nikmati bersama tiap detiknya sampai tiba waktunya Idul Fitri, Hari Kemenangan yang sejatinya adalah kemenangan bagi segenap umat manusia di dunia.

Layaknya semburat mentari pagi yang hangat, teduh menyuluh hati, jiwa dan raga, Ramadhan senantiasa menggugah kesejukan, kenyamanan dan menciptakan atmosfer kedamaian bagi umat manusia dan seluruh alam semesta.

Bukan hanya penuh berkah, ampunan, dan rahmat yang berlimpah, Ramadhan sebagai Syahrul Tarbigah (bulan pendidikan), tentunya sarat dengan nilai-nilai kehidupan serta tauladan baik, sehingga kita seyogianya menjadikan Ramadhan sebagai momentum untuk mendidik jiwa, serta meneguhkan integritas dalam perang melawan hawa nafsu di fananya dunia ini.


Namun sayangnya, tidak sedikit oknum penyelenggara negara, pejabat, kepala daerah, politisi, dan oknum penegak hukum dinegeri ini yang terdidik ilmu pengetahuan dan agama dengan baik, tetapi tak sepenuhnya menjiwai nilai esoteris  dari hikmah puasa Ramadan, yang tak lain adalah ketaqwaan.

Sungguh ironis, di satu sisi mereka termasuk kaum terpelajar, memiliki akses pengetahuan yang memadai dan mengerti ajaran agama, namun sangat minim bahkan tidak memiliki integritas yang luhur, jauh dari kata berbudi karena gemar mengais harta dengan cara batil, yakni korupsi.

Seyogianya mereka adalah teladan bagi anak bangsa dinegeri ini. Namun defisit akhlak, moral dan etika telah menggiring serta mereka ke dalam barisan kelam, barisan para koruptor. Keterlibatan kaum terpelajar dalam kubangan korupsi bukan isapan jempol belaka, mengingat hal ini memang nyata dan benar adanya.

Tak pernah puas dan selalu merasa kurang atas nikmat rezeki dan harta yang dimilikinya, para koruptor telah kehilangan sisi-sisi kemanusiaan, kini berperangi layaknya binatang, se-ekor tikus yang tak lagi memiliki rasa malu, dosa, simpati apalagi empati saat memakan uang rakyat, untuk memenuhi rasa laparnya yang tak kunjung usai.

Lihat saja para koruptor yang kami cokok, sebagian besar dari mereka menyandang gelar sarjana, S1, S2, S3 bahkan Profesor. Tanpa mengecilkan peran para pendidik, kita harus berani jujur bahwasanya hari-hari ini bangsa ini masih menyaksikan hal berbeda nan tercela dari oknum kaum terpelajar tersebut, yang kontradiktif dengan tujuan dan cita-cita pendidikan itu sendiri.

Melihat hal ini, KPK memandang perlu mendesain pendidikan di republik ini agar tetap memiliki integritas yang berakhlakul karimah, dengan mengajarkan idealisme yang sarat dengan nilai-nilai ANTIKORUPSI yakni kesederhanaan, kejujuran dan rasa tanggung jawab tinggi, untuk membentuk karakter kuat bangsa Indonesia sebagai bangsa ANTIKORUPSI.

KPK melihat pola pendidikan yang saat ini lebih banyak mengandalkan porsi pengajaran dan pembelajaran yang bermuara pada peningkatan akal, jasmani, serta keterampilan, dan itu tidak salah.

Namun pola pendidikan tersebut seyogianya dapat ditambahkan unsur dan nilai-nilai ANTIKORUPSI sejak dini, mulai dari usia anak Kelompok Bermain (KB) hingga Mahasiswa dan berlanjut sampai mereka bekerja, untuk membentuk sekaligus menjaga karakter anak bangsa ANTIKORUPSI.

Berbicara tentang hikmah puasa di Bulan Ramadhan, tentu memiliki esensi dan pandangan multidimensi yang positif, bagi siapapun yang menghayati, memahami dan mencerna dengan baik nilai-nilai puasa dalam kehidupan sehari-hari.

Hikmah puasa menurut orang-orang yang beriman adalah untuk menggapai ketaqwaan, dimana ketaqwaan itu sifatnya universal dan sangat luas.

Saya teringat firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang sering kita dengar dan selalu disampaikan berulang kali oleh para khotib dalam khutbahnya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa” (QS. Al Baqarah[2]: 183).

Menurut bahasa, kata taqwa berarti "memelihara" atau "menghindari". Sederhananya, taqwa adalah perwujudan Amar Ma'ruf Nahi Munkar , melaksanakan segala perintah dan menjauhi seluruh larangan Allah SWT.

Menurut pandangan saya, memerangi korupsi salah satu bentuk ketaqwaan kita kepada Allah SWT. Puasa di Bulan Ramadhan seyogianya menjadi stimulus bagi segenap umat manusia untuk belajar membiasakan diri berbuat jujur dan sederhana agar terhindar dari perilaku koruptif, senantiasa teguh mempertahankan nilai-nilai kebaikan dan kebajikan yang sejatinya menjadi Keutamaan Ramadhan.

Jika sudah membudaya, Keutamaan Ramadhan akan membentuk kultur dan budaya ANTIKORUPSI dalam setiap tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara direpublik ini, dimana keindahan Nur Ramadhan Insya Allah senantiasa mewarnai karakter masyarakat dan bangsa.

Dengan semangat ANTIKORUPSI, mari kita jadikan Bulan Suci Ramadhan sebagai sarana untuk membentuk imun ANTIKORUPSI, agar cita-cita dan tujuan berbangsa dan bernegara yang tak lain mewujudkan kesejahteraan dan kemakmuran bagi segenap bangsa dan rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke, mulai Miangas hingga Pulau Rote dapat benar-benar terwujud apabila korupsi benar-benar sirna dari NKRI.

Pada kesempatan ini, perkenankan-lah saya Firli Bahuri beserta keluarga, menghaturkan Permohonan Maaf Lahir Batin, atas segala khilaf, utamanya lisan yang tidak berkenan, sikap yang dipandang menyakitkan, janji terucap namun terabaikan, mengingat kami hanya manusia biasa, tentunya tak luput dari khilaf dan dosa.

Semoga kita diberi umur panjang yang barokah, bahagia, tentram dan sehat wal'afiat dalam Ridha Allah SWT, sehingga dapat kembalu dipertemukan dengan Bulan Suci Ramadan ditahun-tahun berikutnya.

Allaahumma sallimnaa Ramadhanaa wasallimnaa ramadhanaa, waghfir lanaa dzunubanaa
Aamiin Yaa Rabbal'aalamiin.

Marhaban yaa Ramadan.

Penulis adalah Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) RI



Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

UPDATE

Ini Pesan Denny Indrayana Jelang Putusan MK

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:23

IHSG Melesat 1,21 Persen, Rupiah Jauhi Rp18.000 per Dolar AS

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:12

Menhaj Godok Kunjungan Wisata Jemaah Haji dan Umrah ke Yordania

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:11

Prabowo Hadiri Penyerahan Uang Sitaan Negara Rp13,2 Triliun di Kejagung

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:09

Penempatan Manajer Sesuai Karakter Wilayah Jadi Kunci Keberhasilan Kopdes

Selasa, 06 Oktober 2026 | 16:04

Komisi III DPR Dukung Perombakan Pejabat Polri untuk Regenerasi

Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:58

Komoditas Pangan Jadi Penyumbang Utama Inflasi di Jakarta

Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:50

Ferry Juliantono Dorong Kolaborasi Kampus dan Pemda Kembangkan Koperasi

Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:44

KPK Ingatkan Nusron Wahid soal Kewajiban Hadiri Panggilan Penyidik

Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:40

Penampakan Tumpukan Uang Sitaan Negara Rp13,2 Triliun di Kejagung

Selasa, 06 Oktober 2026 | 15:39

Selengkapnya