Berita

Pompa minyak terlihat di Distrik Almetyevsky, Republik Tatarstan, Rusia/Net

Dunia

Di Tengah Sanksi Pelarangan Impor, AS Membeli Gas dari Rusia dan Menjualnya Kembali ke Eropa

RABU, 06 APRIL 2022 | 06:38 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Di tengah tekanannya kepada sekutu Eropa agar tidak membeli minyak Rusia, AS justru dilaporkan sedang membuat langkah kontras dengan meningkatkan pasokan minyak mentah dari Rusia sebesar 43 persen, atau 100.000 barel per hari, selama seminggu terakhir.

Wakil Sekretaris Dewan Keamanan Rusia Mikhail Popov mengatakan apa yang dilakukan AS itu jelas menunjukkan bahwa AS hanya mengejar kepentingannya sendiri dengan mengorbankan sekutu Eropanya.

"Selain itu, Washington mengizinkan perusahaannya untuk mengekspor pupuk mineral dari Rusia. AS jelas mengakui mereka sebagai barang penting," kata Popov.


Sejak invasi Rusia dimulai, AS dan Eropa beramai-ramai meluncurkan sanksinya untuk Moskow, termasuk pelarangan impor minyak Rusia meskipun pada kenyataannya Eropa sangat bergantung pada Rusia untuk minyak mentah dan gas alamnya.

Eropa menghadapi tekanan dari AS dan Inggris untuk memberlakukan larangan minyak Rusia di tengah kebutuhan tinggi akan pasokan itu. Inggris bahkan telah mengumumkan bahwa mereka akan menghapus impor minyak Rusia pada akhir tahun. Sementara Departemen Keuangan AS telah menetapkan tenggat waktu untuk mengakhiri kesepakatan impor minyak dan batu bara dari Rusia hingga 22 April.

Cui Heng, asisten peneliti dari Center for Russian Studies of East China Normal University, mengatakan kepada Global Times, kebijakan AS terhadap Rusia berpusat pada dua aspek. Pertama, menjadi liberalisme untuk melawan sistem politik dan ideologi Rusia, dan kedua adalah pragmatisme untuk melayani kepentingan nasional AS.

"Untuk kebutuhan secara ideologis, AS merayu sekutu agar memberikan sanksi kepada Rusia. Sementara karena kebutuhan realitas, AS membeli energi Rusia dengan harga lebih murah dan menjualnya ke Eropa dengan harga lebih tinggi. Pada akhirnya, Eropa menjadi korban - kekayaan Eropa mengalir ke AS dan membantu mengkonsolidasikan keuntungan dolar terhadap euro," kata Cui.

Ekspor gas alam cair AS naik hampir 16 persen bulan lalu ke rekor tertinggi, menurut data awal Refinitiv, dengan pengiriman ke Eropa terus mendominasi.

LNG AS saat ini dalam permintaan tinggi karena negara-negara Eropa sedang mencoba untuk tidak lagi meminta gas dari Rusia.

Media lokal melaporkan bahwa Eropa telah menjadi importir utama LNG AS selama empat bulan berturut-turut, mengambil sekitar 65 persen dari ekspor AS.

Dalam kesepakatan bersama, AS mengumumkan pada 25 Maret untuk menyediakan setidaknya 15 miliar meter kubik lebih banyak gas alam cair ke Eropa tahun ini, berusaha untuk mengakhiri ketergantungan blok tersebut pada ekspor energi Rusia. Volume tambahan LNG ini diperkirakan akan meningkat ke depan, kata Gedung Putih dalam sebuah pernyataan.

Analis mengatakan penerima manfaat terbesar dari krisis Rusia-Ukraina dan larangan minyak Rusia adalah AS.

Mick Wallace, anggota Parlemen Eropa, men-tweet video pidato parlementernya, mengatakan bahwa Eropa memang harus melepaskan ketergantungannya pada energi Rusia, tetapi tidak boleh menggantinya dengan "Gas kotor" AS, yang telah menyerbu negara lain lebih dari bangsa lain di dunia, menurut laporan media.

Beberapa netizen mengejek langkah AS sebagai menjerat sekutu Eropa-nya.

"Saya yakin target AS (dalam memberikan sanksi kepada Rusia) sebenarnya bukan benar-benar menyasar untuk  Rusia, tetapi justru menargetkan negara-negara Eropa," komentar salah satu netizen China.

Dengan membeli minyak dari Rusia dan menjualnya kembali ke Eropa, AS bisa mendapat untung, kata beberapa pengguna Twitter.

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

Ahli Waris Laporkan Dugaan Aset Tak Wajar Mantan Pejabat Negara ke KPK

Rabu, 22 Juli 2026 | 16:58

Kiprah Yadyn, Jaksa yang Antar Febrie Adriansyah ke KPK

Sabtu, 25 Juli 2026 | 21:55

UPDATE

Kopilot Malaysia Ngaku Diupah Rp220 Juta Selundupkan 26 Kg Ekstasi ke Jakarta

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 00:20

Merdeka dalam Keserakahan: Ilusi Kemerdekaan di Usia 81 Tahun

Sabtu, 01 Agustus 2026 | 00:02

Polda Metro Masih Selidiki Dugaan Pencabulan oleh Oknum Pendeta

Jumat, 31 Juli 2026 | 23:52

Loyalis Anies Dicecar KPK soal Jual Beli Properti di Kasus TPPU Rita Widyasari

Jumat, 31 Juli 2026 | 23:25

Begini Respons Deddy Sitorus Usai Dilaporkan KWP ke MKD

Jumat, 31 Juli 2026 | 23:02

Warga Tuban Terdampak Debu Pabrik, Semen Indonesia Mangkir Dipanggil DPRD

Jumat, 31 Juli 2026 | 22:11

Terjang Ombak, Dedikasi Mantri BRI Buka Jalan Akses Finansial Pulau Seram

Jumat, 31 Juli 2026 | 22:02

Bea Cukai Ciduk Kopilot Kurir Narkoba, Duit Negara Rp207,9 Miliar Selamat

Jumat, 31 Juli 2026 | 21:41

Transformasi Danantara Dongkrak Pendapatan Telkom hingga Tembus Rp75,9 Triliun

Jumat, 31 Juli 2026 | 21:22

Polda Metro Jaya Cokok 728 Tersangka Curanmor

Jumat, 31 Juli 2026 | 21:06

Selengkapnya