Berita

Sudarnoto Abdul Hakim/Net

Publika

Melawan Islamophobia

KAMIS, 31 MARET 2022 | 14:11 WIB | OLEH: SUDARNOTO A HAKIM

PBB melalui sidang umumnya (general assembly) telah mengeluarkan sebuah resolusi penting yang menetapkan tanggal 15 Maret sebagai hari internasional melawan Islamophobia. Ide ini diajukan oleh Pakistan atas nama OKI.

Majelis Ulama Indonesia, tanggal 30 Maret, kemudian melaksanakan sebuah webinar  yang dihadiri oleh tokoh-tokoh puncak ormas Islam Indonesia, tokoh muslim di Amerika pemimpin Nusantara Foundation Ust Shamsi Ali, dan perwakilan OKI. Webinar dengan tema “Turn Back Islamophobia: Pengarusutamaan Moderasi Untuk Menangkal Islamophobia” ini disamping menyambut gembira dan mengapresiasi atas terbitnya resolusi SU PBB juga berupaya menggali pikiran dan memperkokoh komitmen bersama umat Islam Indonesia untuk tampil melawan Islamophobia yang sudah muncul dan berkembang cukup lama di banyak wilayah dunia.

Webinar ini melahirkan pernyataaan bersama MUI dan ormas-ormas Islam Indonesia untuk melawan Islamophobia. Terkait dengan resolusi dan pernyataan bersama MUI ini, ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan:


Pertama, keberhasilan SU PBB melahirkan resolusi ini adalah sebuah momentum penting secara global bahwa Islamophobia yang dilakukan oleh banyak kelompok kepentingan di manapun adalah sebuah kebodohan dan kesalahan besar. Tidak semata-mata menggambarkan sikap anti terhadap Islam sebagai agama dan umat Islam dengan berbagai bentuknya yang dilakukan oleh para Islamophobe, akan tetapi Islamophobia juga menginjak-injak secara nyata paling tidak universal declaration of human rights dan dengan demikian menjadi musuh kemanusiaan universal; musuhnya semua orang dan bangsa yang sadar dan sehat.

Kebodohan, kesalahan dan kezaliman yang diawetkan oleh masayarakat dan negara manapun yang terjadi di mana-mana di belahan dunia ini harus dikoreksi total karena ini hanya akan merusak tatanan kehidupan dan perdamaian abadi. Karena itu, resolusi SU PBB ini disamping diapresiasi, juga harus dikawal oleh siapapun dan negarapun yang berakal sehat.

Kedua, bagi semua negara anggota PBB, penetapan tanggal 15 Maret sebagai hari internasional melawan Islamophobia adalah momentum penting untuk semakin memperkokoh PBB benar-benar menjadi sebuah badan internasional yang efektif dan kuat terutama dalam menciptakan perdamaian dunia. Fakta menunjukkan bahwa banyak resolusi penting yang terkait dengan hidup mati akan tetapi kemudian diveto karena kepentingan sepihak.

Contoh yang sangat kongkrit adalah aneksasi dan genosida yang dilakukan oleh Israel terhadap bangsa dan rakyat Palestina yang tidak dilakukan dalam waktu yang panjang. Veto Amerika benar-benar telah memberikan keuntungan bagi Israel dan two state solution menjadi tidak berlaku.

Cara pandang baru haruslah dibangun dan perkuat sehingga semua negara anggauta PBB termasuk negara-negara besar seperti Amerika benar-banar berkomitmen tinggi untuk melaksanakan amanah yang tertuang dalam universal declaration of human rights. Dengan cara ini, diharapkan tatanan dunia benar-benar adil. Karena itu, resolusi terkait dengan Islamophobia ini adalah pelajaran yang sangat berharga bahwa langkah-langkah yang lebih manusiawi bisa dilakukan melalui PBB dalam menangani berbagai kasus kemanusiaan.

Ketiga, bagi negara anggota OKI termasuk Indonesia, resolusi ini juga merupakan ruang dan kesempatan besar untuk melakukan langkah-langkah strategis baik sendiri maupun bersama-sama secara kolaboratif. Diantara langkah ini ialah pengarusutamaan Washotiyatul Islam melalui berbagai program yang juga terpadu. Khusus Indonesia, ini menjadi peluang besar untuk membuktikan  bahwa Indonesia bisa menjadi pusat Washatiyatul Islam global, sebagaimana yang pernah dinyatakan oleh Presiden Jokowi beberapa waktu yang lalu.

Waktunya tidak lagi memperbanyak retorika, akan tetapi bekerja keras untuk Washotiyatul Islam ini sehingga Rahmatan lil alamin benar-benar bisa terwujud dan dirasakan. Ini sekaligus juga menjadi peluang bagi Indonesia untuk melakukan konsolidasi kebangsaan secara internal sehingga semua pihak benar-benar berkomitmen tinggi untuk membangun Indonesia sebagai negara dan bangsa yang relijius berketuhanan yang maha esa, berkeadilan, dan berkeadaban memperteguh kesatuan menegakkan musyawarah sebagaimana yang amanah Pancasila. Tidak boleh ada yang menyakiti dan tersakiti karena ini bisa memicu ekstrimisme dan menggoyah sendi kebangsaan.

Keempat, Islamophobia adalah juga satu bentuk lain dari ekstrimisme yang sangat membahayakan bagi siapapun. Namun demikian, menangkal dan melawan Islamophobia ini juga harus dilakukan dengan cara-cara yang manusiawi dan beradab, tidak dengan cara-cara ekstrim dan dzolim.

Karena itu, kerjasama dengan berbagai pihak dalam menyusun dan mengimplementasikan program menangkal dan melawan Islamophobia ini menjadi sangat penting. Dan bulan Ramadhan ini seharusnya bisa dimanfaatkan untuk memperteguh atau memperkuat semangat melawan Islamophobia dengan cara memperkuat Washotiyatul Islam.

*Penulis adalah Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

UPDATE

Bareskrim Gerebek 9 Lokasi Rawan Narkoba di Sumut, Puluhan Pengedar dan Pemakai Diamankan

Senin, 12 Oktober 2026 | 12:28

Pasar Serdang Kemayoran Segera Direvitalisasi

Senin, 12 Oktober 2026 | 12:15

Hadiah Bibit Korupsi

Senin, 12 Oktober 2026 | 12:01

Aparat Usut Dugaan Investasi Emas Bodong Rp25 Miliar yang Seret Sejumlah Artis

Senin, 12 Oktober 2026 | 11:55

Putusan MK soal Gibran Bergulir ke Ranah Politik

Senin, 12 Oktober 2026 | 11:39

Karhutla Belum Tuntas, Pemerintah Kaji Langkah Penanganan Terbaik

Senin, 12 Oktober 2026 | 11:34

Kemenhub Catat 1.673 Penerbangan Terdampak Karhutla: 907 Batal

Senin, 12 Oktober 2026 | 11:17

Radja Nainggolan Ungkap Penyesalan Besar Belum Pernah Bela Timnas Indonesia

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Trump Pertimbangkan Bantu Arab Saudi Perangi Houthi

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:48

Selengkapnya