Prof. Ginandjar Kartasasmita/Net
Perang yang terjadi antara Rusia-Ukraina adalah konflik ikutan paska bubarnya ideologi dan sistem politik komunis Rusia di bawah Perestroika Gorbachev. Kebijakan Gorbachev memicu disintegrasi Uni Soviet yang berujung pada pemisahan 3 negara bagian utama USSR Belarus, Rusia dan Ukraina.
Begitu yang dikatakan Prof. Ginandjar Kartasasmita dalam acara diskusi virtual “Security Dilemma†– Dan Kepentingan Nasional Indonesia dan Asia†(Belajar dari Kasus Rusia – Ukraina), Rabu (30/3).
Ginandjar menyampaikan setelah masing-masing menjadi negara merdeka timbul ketegangan Rusia-Ukraina. Sebabnya, ketegangan terkait soal aset dan infrastruktur militer Uni Soviet yang banyak terdapat di Ukraina. Begitupun soal Etnis Rusia di Ukraina, dan isu Krimea yang 65,3 persen warganya adalah etnis Rusia.
“Agresi Rusia ke Ukraina adalah soal prinsip keanggotaan Ukraina dalam NATO, yang terbuka kemungkinannya setelah amandemen konstitusi Ukraina pada 2019,†ucap Prof. Ginandjar.
Menurutnya, Rusia menganggap prospek keanggotaan Ukraina ke dalam NATO sebagai pelanggaran terhadap garis mera Rusia dan ancaman terhadap keamanan Rusia. Sementara sebagian negara-negara eks USSR juga sudah bergabung ke dalam NATO.
Dia menambahkan, perang Rusia-Ukraina saat ini adalah penyelesaian sengketa model Abad 20 yang ditandai dengan dua kali Perang Dunia serta beberapa perang besar Korea, Vietnam, Afghanistan dan lain-lain.
“Terdapat ofensif satu negara ke negara lain dan meninmbulkan korban jutaan warga sipil baik meninggal ataupun mengungsi,†imbuhnya.
Padahal, lanjut Ginandjar, selama dua dasawarsa Abad 21 dunia telah semakin mengglobal baik hubungan antar negara, kehidupan individu dan sosial, ekonomi, politik.
Hubungan itu, kata Ginandjar telah disatukan oleh kemajuan teknologi digital dan komunikasi yang sangat pesat (Dani Rodrik, March 2022 pada buku Hyper Globalization, Harvard University).
Berbagai model bisnis dan kegiatan ekonomi keuangan terinteraksi mendunia dengan berbagi aplikasi internet, Sosmed dan aneka gadget. Di dunia politik, perangkat teknologi membuka pintu datangnya era “Demokrasi Digitalâ€.
“Demokrasi kembali ke arah demokrasi langsung seperti zaman Athena Yunani, namun saat ini demokrasi langsung difasilitasi oleh kemajuan perangkat teknologi komunikasi dan digital,†tutupnya.