Berita

Ilustrasi/Net

Politik

Masyarakat Sipil Harus Kompak Melawan Penundaan Pemilu

MINGGU, 27 MARET 2022 | 14:29 WIB | LAPORAN: RAIZA ANDINI

Wacana penundaan pemilu 2024 mencuat dari elit partai politik koalisi pendukung pemerintahan Presiden Joko Widodo, dibarengi oleh dua anak buah Jokowi yakni Menko Marves Luhut Binsar Panjaitan dan Menteri Investasi Bahlil Lahadalia turut menggaungkannya.

Managing Director Paramadina Public Policy Institute Achmad Choirul Umam meminta agar seluruh masyarakat harus kompak melawan usulan penundaan pemilu dan diminta untuk waspada adanya pergerakan para elit politik yang berusaha menyetir isu tersebut.
 
“Seluruh elemen masyarakat sipil harus terus waspada dengan gerakan kampanye penundaan pemilu. Hal ini karena meski wacana ini memang cenderung melemah karena derasnya kritik publik, tapi potensi berubahnya arah masih terbuka mengingat operasi politik masih terus dilakukan,” kata Achmad Choirul Umam dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi Kantor Berita Politik RMOL, Minggu (27/3).


Pengamat politik dari Universitas Paramadina ini menambahkan, apa yang dilakukan elit politik dengan wacana penundaan pemilu yang kemungkinan tidak terjadi namun bisa saja berbelok disebutnya sebagai ‘time-buying’ strategy.
 
“Strategi ini dilakukan bersamaan dengan strategi lain yaitu ‘face-saving’ strategy, yaitu semacam langkah antisipatif penyelamatan muka jika operasi ini gagal. Inilah yang dilakukan melalui dikeluarkannya pernyataan-pernyataan yang ambigu dan tidak tegas menyikapi isu ini,” katanya.
 
Menurutnya, jika isu penundaan pemilu 2024 terus berkembang dan tidak mampu dibendung oleh masyarakat, maka tidak mustahil akan ada perubahan konstitusi seperti yang dilakukan negara sahabat.
 
“Jika masyarakat sipil dan seluruh elemen tidak waspada, maka bukan mustahil pengubahan konstitusi untuk mengakomodasi perpanjangan kekuasaan dapat terealisasi sebagaimana yang telah terjadi di sejumlah negara yang memiliki basis demokrasi lemah seperti Argentina, Brasil, Kolombia, Pakistan, atau Rusia,” tutupnya.


Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

Prabowo Diminta Tindak Tegas Kelompok yang Masih Persoalkan Hasil Pilpres 2024

Selasa, 22 September 2026 | 23:16

UPDATE

Gudang yang Terbakar di Cikarang Milik PT Emudah Fulfillmen, Penyedia Jasa Logistik E-Commerce

Sabtu, 26 September 2026 | 16:18

Mahkamah Agung Diminta Periksa Dugaan Kejanggalan Perkara Harta Bersama

Sabtu, 26 September 2026 | 15:28

SBY: Guruh Soekarnoputra Telah Melakukan Banyak Hal untuk Negeri Ini

Sabtu, 26 September 2026 | 15:03

Dulu Dipandang Sebelah Mata, Kini Dunia Barat Mulai Melirik Halal Indonesia

Sabtu, 26 September 2026 | 14:50

Sinyal Damai AS-Iran Bikin Harga Minyak Terpukul

Sabtu, 26 September 2026 | 14:26

Surya Paloh Kenang Guruh sebagai Budayawan dan Seniman

Sabtu, 26 September 2026 | 14:05

Palet Plastik dan Barang Marketplace Ludes dalam Kebakaran di Cikarang

Sabtu, 26 September 2026 | 13:50

Bitcoin Turun Tipis di Bawah 84.000 Dolar AS

Sabtu, 26 September 2026 | 13:33

Surya Paloh Ungkap Alasan Guruh Soekarnoputra Pilih Fokus ke Seni Ketimbang Pimpin PDI

Sabtu, 26 September 2026 | 13:10

Kapolri Pimpin Kenaikan Pangkat 50 Pati dan 4 PNS Polri

Sabtu, 26 September 2026 | 12:35

Selengkapnya