Berita

Elon Musk saat hadiri produksi awal Tesla di Cigafactory di Gruenheide/Net

Dahlan Iskan

Tuhan Matahari

SABTU, 26 MARET 2022 | 04:23 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

HARGA saham Tesla naik drastis lagi, itu Anda sudah tahu. Serangan Rusia ke Ukraina bisa juga membantu Amerika: mobil listrik kian laris. Akibat harga bensin terganggu. Dulu terganggu Arab Saudi. Kini, penganggunya Rusia.

Penyebab lain: pabrik Tesla yang di Jerman sudah mulai berproduksi. Tiga hari lalu. Elon Musk sampai joget kesenangan. Yakni saat ia menyerahkan 30 kunci pertama ke konsumen di Eropa.

Elon Musk seperti main satire ketika memilih lokasi pabrik itu: di Gruenheide, sebelah timur Berlin. Ia tanam modal sampai sekitar Rp 75 triliun untuk Tesla di situ. Itulah daerah yang dulu sangat dikenal sebagai basis tambang batu bara nan kotor di Jerman. Lalu ia bangun industri energi bersih situ.


Sentimen green energy, di Eropa, memang paling tinggi di dunia. Dasarnya: kesadaran memperbaiki iklim. Eropalah yang memulai industrialisasi dan mencemari lingkungan. Eropa pula yang kini memulai perbaikannya, setelah mereka sejahtera.

Maka Tesla bisa segera mengejar VW mobil listrik terlaris di Eropa saat ini. Produksi Tesla di Berlin itu 500.000 per tahun. Selama ini, tanpa punya pabrik di Eropa, Tesla sudah mencapai 13 persen pangsa mobil listrik di  Eropa didatangkan dari Amerika atau dari pabriknya yang di Shanghai, Tiongkok. Bayangkan setelah Tesla punya pabrik sendiri di Jerman. Tesla ibarat masuk ke kandang macan dan minta menang.

Memang Elon Musk sering mengeluh. Begitu banyak hambatan yang ia hadapi di Jerman. Sampai pun ada demo yang mengkhawatirkan pabrik itu akan memakan air terlalu banyak –mungkin yang untuk pendingin di pabrik baterainya.

Akhirnya pabrik itu baru jadi setelah dua tahun. Memang tidak mungkin bisa secepat ketika Tesla membangun pabrik di Tiongkok: hanya satu tahun! Padahal itu bukan sembarang pabrik. Itu giga factory –pabrik ukuran raksasa bengkak.

Pabrik Tesla pertama di California. Lalu di Shanghai. Yang ketiga ini di Jerman. Berikutnya lagi di Texas –sedang dibangun. Di luar itu masih punya banyak pabrik suku cadang, termasuk pabrik baterai seluas 1 juta hektare di Reno, Nevada utara.

Rusia sendiri masih terus melawan dunia. Setelah Migasnya diboikot negara-negara Barat, justru Rusia menyerang balik: negara yang tidak bersahabat dengannya harus membeli migas Rusia dengan mata uang rubel.

Rusia tahu: 40 persen keperluan migas Eropa datang dari Rusia cukup lewat pipa. Sedang dari Timur Tengah harus diangkut dengan kapal.

Maka Eropa bertekad segera pindah ke green energi dan Tesla dapat momentum serangan Rusia. Apalagi Tesla juga sudah membuktikan: power bank skala raksasanya sudah ada yang jadi. Yakni yang di Moss Landing, di California. Besarnya 182,5 MW.

Power bank itu bisa untuk melistriki rumah sebanyak 136.000 rumah –ukuran Amerika. Atau bisa untuk setengah juta rumah di kota tertentu di Indonesia.

Tentu untuk kapasitas sebesar itu power bank-nya tidak hanya satu. Di dekat Pantai Moss Landing itu sekitar 3 jam berkendara dari San Francisco ke arah selatan Tesla membangun 256 buah power bank raksasa. Si Raksasa dijejer-jejer di satu hamparan tanah luas. Saling dihubungkan.

Siang hari, di kala matahari bersinar terang, power bank itu menyimpan listrik dari solar cell. Malam hari, ketika matahari telah pergi, listrik dari power bank itu yang berfungsi.

Tentu melistriki rumah dengan cara ini sangat mahal. Sekarang ini. Tapi bagi negara maju kata mahal itu masih tetap terbeli –dikaitkan dengan pendapatan mereka.

Dan Tesla bukan satu-satunya yang membuat power bank raksasa seperti itu. Sudah banyak. Pun yang lebih besar.

Seperti juga mobil listrik, yang penting ada wujudnya dulu. Bukan hanya sebatas wacana. Dan mereka membuktikan itu. Dari sini bisa dihitung bagaimana menyeimbangkannya –dan menurunkan harganya.

Sepuluh tahun lalu, membicarakan hal seperti ini masih seperti mimpi. Kini mereka seperti sedang lomba lari: untuk menjadi yang terdepan dan terbesar.

Batubara itu pemberian Tuhan lewat bumi.

Tenaga surya juga pemberian Tuhan lewat matahari.

Otak manusia juga pemberian Tuhan –asal mau memakainya.

Populer

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

Terkejut Mantan Ajudan Jadi Tersangka KPK, Alexander Marwata Kenang Kinerja Dias

Kamis, 30 Juli 2026 | 11:52

Kerumunan Massa saat Jokowi ke NTT Direkayasa

Senin, 03 Agustus 2026 | 13:39

Kasus OTT Pemalang: Anggota Polri yang Bertugas di KPK Jadi Tersangka

Kamis, 30 Juli 2026 | 10:29

Wewenang Ditjen Bea Cukai Sudah Melampaui Namanya

Minggu, 02 Agustus 2026 | 02:12

UPDATE

Changhong Perpanjang Garansi Produk Elektronik hingga 25 Tahun, Ini Rinciannya

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:22

Tim Satgas Hanura Mulai Safari Panaskan Mesin Partai Menuju Pemilu 2026

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 21:58

Jangan Cuma Pembeli, Indonesia harus jadi Pusat Ekonomi Syariah Dunia

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 21:51

Bank Lokal Tumbuh Pesat, Citi Pilih Tinggalkan Bisnis Ritel Global

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 21:38

Investasi Danantara Jadi Kunci Serap Tenaga Kerja

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 20:47

Seskab Teddy Tiga Besar Jajaran Menteri dengan Kinerja Terbaik

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 20:14

Elite PBNU Sibuk Urus Tambang, Gagal Pimpin Jam'iyah

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 19:30

Banteng Jakarta FC Bidik Juara Soekarno Cup 2026

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 19:26

30 Eks Bankir Citibank Wariskan Pelajaran Karier Lewat Buku Growing with Purpose

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 18:50

Besok, Dishub DKI Jakarta Launching 3 Terobosan Mobilitas Warga

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 18:18

Selengkapnya