Berita

Presiden Rusia, Vladimir Putin, akan memaksa negara-negara yang memberi sanksi kepada mereka untuk membayar dengan rubel atas gas yang mereka butuhkan/Net

Dunia

Seluruh Transaksi Ekspor Gas Rusia kepada Negara-negara "Tidak Bersahabat" Wajib Pakai Rubel

KAMIS, 24 MARET 2022 | 03:41 WIB | LAPORAN: SULTHAN NABIL HERDIATMOKO

Konflik antara Rusia dengan negara-negara pendukung Ukraina, tampaknya kian memanas. Terlihat dari rencana Rusia untuk menjadikan rubel sebagai media transaksi penjualan gasnya ke negara-negara yang "tidak bersahabat".

Presiden Rusia, Vladimir Putin pada Rabu (23/3) mengatakan, ke depannya seluruh transaksi ekspor gas Rusia ke negara-negara "tak bersahabat" wajib menggunakan rubel sebagai media transaksinya.

"Rusia akan terus, tentu saja, akan memasok gas alam sesuai dengan volume dan harga tetap dalam kontrak yang disepakati sebelumnya," ujar Putin dalam pertemuan dengan para menteri tinggi pemerintah, seperti dikutip Reuters, Rabu (23/3).


"Perubahannya hanya di mata uang pembayaran yang kami terima, yakni diubah menjadi rubel Rusia," tambahnya.

Lanjut Putin, pemerintah dan bank sentral memiliki satu minggu untuk menemukan solusi tentang bagaimana memindahkan operasi ini ke mata uang Rusia.

Ia juga memerintahkan raksasa gas Rusia, Gazprom, untuk membuat perubahan yang sesuai pada kontrak gas yang sudah ada. Sejauh ini, gas Rusia menyumbang sekitar 40 persen dari total konsumsi gas Eropa.

Menurut laporan Gazprom, 58 persen dari penjualan gas alam ke Eropa dan negara-negara lain pada 27 Januari diselesaikan dalam euro. Lalu dolar AS menyumbang sekitar 39 persen dari penjualan kotor, dan poundsterling sekitar 3 persen.

Namun itu akan berubah menjadi murni rubel, sesuai dengan keinginan Putin.

"Prosedur pembayaran yang dapat dimengerti dan transparan harus dibuat untuk semua pembeli asing, termasuk memperoleh rubel Rusia di pasar mata uang domestik kita," jelas Putin.

Rusia pun telah menyusun daftar negara-negara "tidak bersahabat" itu, sesuai dengan negara-negara yang memberlakukan sanksi kepada mereka.

Adapun daftar negara "tidak bersahabat" yang diumumkan oleh Rusia itu adalah Amerika Serikat, negara-negara anggota Uni Eropa, Inggris, Jepang, Kanada, Norwegia, Singapura, Korea Selatan, Swiss, dan Ukraina.

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

KPK Panggil VP PT Valbury Asia Futures di Kasus Gratifikasi Mantan Sekjen MPR

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:31

Karhutla Ancam Orangutan, Puluhan Satwa Dievakuasi

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:23

Kepala BPGMN hingga Menkopolkam Merapat ke Istana Jelang Ratas Karhutla

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:22

Ancaman MSCI, Sudah Tepat OJK Sanksi Emiten Milik Prajogo Pangestu dan Franky Widjaja

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:20

Pemerintah Jangan Anggap Remeh Hasil Survei

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:09

Kasus Dugaan Suap, KPK Panggil Pejabat Pemkab Lombok Barat dan Staf Hotel

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:09

Roadmap IHT Dibutuhkan untuk Jamin Kepastian Usaha

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:05

Terancam Turun Kelas, BEI Temui MSCI Sore Ini

Senin, 19 Oktober 2026 | 13:51

Kasus Suap Asuransi Perkapalan Pelni, KPK Panggil Petinggi Pialang Asuransi

Senin, 19 Oktober 2026 | 13:45

Komisi III DPR Dukung Kapolri Dorong MUI Kaji Fatwa soal Vape

Senin, 19 Oktober 2026 | 13:39

Selengkapnya