Berita

Dahlan Iskan/Net

Dahlan Iskan

Together Stronger

KAMIS, 17 MARET 2022 | 05:15 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

BAGAIMANA kalau Putin tidak bisa datang ke Bali? Untuk KTT G20 Oktober depan?

Mungkin Vladimir Putin sendiri ingin sekali datang ke Bali. Persoalannya: apakah pemimpin-pemimpin negara Barat tetap mau ke Bali kalau ada Putin di situ?

Saya pun membayangkan: betapa sibuknya Menlu kita, Ibu Retno Marsudi, sekarang ini. Berbagai jurus diplomasi harus ditemukan. Agar KTT G20 di Bali sukses.


Tapi, itu benar-benar tidak mudah.

Padahal, Indonesia ingin sekali bisa jadi ketua G20 yang hebat. Yang sukses. Yang jadi pembicaraan dunia. Bahwa Indonesia hebat.

Bali sudah berhias habis-habisan. Slogan-slogan berbahasa Inggris sudah dicanangkan. Termasuk slogan ini: Recover Together, Recover Stronger. Tepat sekali slogan itu. Untuk menandai berakhirnya pandemi Covid-19.

Kampanye G20 juga sudah meluas ke segala jurusan. Anda sudah tahu: Presiden Jokowi sendiri sering pakai jaket G20. Lihatlah ketika beliau berada di titik nol ibu kota baru Indonesia Senin-Selasa lalu. Jaket G20 warna merah dikenakannya di waktu malam. Di tenda kepresidenan. Di tengah hutan Kaltim.

Yang paling berat adalah bagaimana memberi tahu Putin untuk tidak perlu hadir. Bagaimana bisa tuan rumah tidak mengundang Rusia.

Tapi, tentu lebih baik satu tidak hadir daripada lebih dari sepuluh kepala negara lain yang absen. Apalagi kalau itu Amerika Serikat dan Inggris.
Tentu, tidak hadir satu –apalagi Putin– terasa sekali kurang lengkapnya.

Memang tahun lalu Putin juga tidak hadir di KTT Italia. Bahkan, ia sengaja keluar dari forum G8. Yakni, forumnya delapan negara industri. Rusia ngambek sejak negara-negara industri lainnya mengecam Rusia –yang menduduki Semenanjung Krimea milik Ukraina tahun 2014.

Serangan Rusia ke Ukraina kali ini ternyata tidak hanya memukul kita di bidang ekonomi. Tapi, juga menyulitkan kita di sektor diplomasi. Bahkan, serangan itu bisa merusak reputasi kita sebagai ketua G20.

Indonesia sudah berusaha berbaik-baik dengan kedua pihak. Namun, justru seperti terjepit. Pihak Barat menyalahkan Indonesia: mengapa tidak mau mengecam serangan Rusia itu.

Bahkan, duta besar Ukraina di Indonesia sampai menulis surat terbuka: kok Indonesia tidak malu bersikap tidak mau mengecam serangan Rusia.
Netizen di Indonesia menilai surat terbuka itu dianggap intervensi negara asing ke Indonesia.

KTT G20 di Bali memang masih lama: enam bulan lagi. Tapi, enam bulan itu tidak lama. Mungkin saja perang di Ukraina sudah selesai saat itu nanti. Tapi, luka-lukanya belum akan sembuh.

Maka, mengusahakan agar perang cepat selesai harus menjadi fokus Indonesia. Celah untuk damai itu tetap ada. Rusia tidak pernah menunjukkan minat untuk menduduki Ukraina. Rusia hanya menginginkan Ukraina menjadi negara netral. Agar tidak menjadi ancaman bagi Rusia.

Tapi, netral itu seperti apa?

Rusia kelihatannya tidak sampai mensyaratkan Ukraina harus menjadi senetral Swiss. Cukup kalau seperti Finlandia. Atau Austria.

Finlandia itu bukan anggota NATO. Bahwa Finlandia berada di organisasi Masyarakat Ekonomi Eropa, Rusia tidak mempermasalahkan.

Yang membuat Rusia sangat marah adalah perkembangan tahun 2019. Setelah Volodymyr Zelenskyy jadi presiden Ukraina.

Tahun itu upaya Ukraina untuk menjadi anggota NATO mencapai puncaknya. Keinginan untuk menjadi anggota NATO itu dimasukkan ke konstitusi Ukraina.

Padahal, sejak 2008 Rusia sudah menyatakan keberatan Ukraina masuk NATO. Di tahun itu memang ada pertemuan puncak negara-negara anggota NATO. Di Bukares, Rumania.

Salah satu putusan KTT Bukares itu adalah: Georgia dan Ukraina akan diterima sebagai anggota NATO.

Rusia tidak mempersoalkan Georgia: bekas Uni Soviet, tapi tidak bertetangga dengan Rusia. Dan lagi, Soviet tidak pernah membangun senjata nuklir di Georgia.

Ketegangan Rusia dengan NATO terjadi sejak KTT Bukares itu.

Tapi, bukankah wajar Ukraina mencari backing untuk keamanan negaranya?

Silakan. Rusia ternyata tidak keberatan Ukraina mencari jaminan keamanan dari negara lain. Asal jangan NATO. Ukraina bisa minta jaminan Amerika Serikat atau Inggris sekalipun. Tidak masalah. Asal jangan NATO.

Negara Eropa sendiri sebenarnya punya pikiran untuk mandiri. Presiden Prancis Emmanuel Macron termasuk yang ingin Eropa harus mandiri di bidang keamanan. Eropa, katanya, tidak boleh jadi korban persaingan antara Amerika dan Rusia. Macron berpikiran, Rusia adalah bagian dari Eropa.

Maka, perdamaian di Ukraina tidak lagi bergantung pada Putin dan Zelenskyy. NATO juga harus mencabut putusan KTT Bukares. Khususnya yang menjamin Ukraina menjadi anggota NATO.

Maka, perang masih belum akan selesai. Padahal, kalau perang Ukraina tidak selesai, saya tidak bisa membayangkan bagaimana jalannya KTT G20 di Bali. Masih ada waktu. Tapi, tinggal enam bulan.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

UPDATE

Denny Indrayana Optimistis MK Diskualifikasi Gibran

Senin, 05 Oktober 2026 | 10:05

Harga Minyak Dunia Membara, Rupiah Kembali Dekati Rp18.000 per Dolar AS

Senin, 05 Oktober 2026 | 10:03

Prabowo Pimpin Upacara HUT ke-81 TNI di Cilangkap

Senin, 05 Oktober 2026 | 09:55

Nonton Film ‘Istimewa’ Bareng Penyandang Disabilitas, Legislator PKS Dorong Kesetaraan

Senin, 05 Oktober 2026 | 09:49

Masuknya RG Jadi Wantimpres Pelajaran untuk Tak Terlalu Anti Kekuasaan

Senin, 05 Oktober 2026 | 09:43

Ribuan Prajurit Dikerahkan Dalam HUT ke-81 TNI di Cilangkap

Senin, 05 Oktober 2026 | 09:34

SBY dan Jokowi Kompak Hadir di Upacara HUT Ke-81 TNI

Senin, 05 Oktober 2026 | 09:33

IHSG Positif di Awal Perdagangan

Senin, 05 Oktober 2026 | 09:32

Profil Komandan Upacara HUT Ke-81 TNI Letjen TNI Lucky Avianto

Senin, 05 Oktober 2026 | 09:18

KPK Telusuri Dugaan Setoran dari Wajib Pajak Sektor Pertambangan di Banjarmasin

Senin, 05 Oktober 2026 | 09:17

Selengkapnya