Berita

Perdana Menteri Australia Scott Morrison dan Presiden China Xi Jinping/Net

Dunia

Hubungan Makin Buruk, Peningkatan Pertahanan Australia Bisa Dibalas oleh China

MINGGU, 13 MARET 2022 | 11:36 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Rencana Australia untuk memperkuat pertahanan nasionalnya membawa hubungan Canberra dan Beijing ke titik yang jauh lebih buruk lagi.

Baru-baru ini, Australia mengumumkan rencana untuk menambah sekitar 18.000 tentara pada 2040, sehingga totalnya menjadi 80.000 orang. Rencana ini diperkirakan memakan biaya hingga 27 miliar dolar AS.

Di samping itu, Australia juga akan membangun pangkalan kapal selam baru untuk menyambut kapal selam nuklir sebagai hasil kesepakatan dengan Amerika Serikat (AS) dan Inggris dalam AUKUS.


Secara terang-terangan, Menteri Pertahanan Australia Peter Dutton menyebut peningkatan kekuatan dilakukan untuk menghadapi China yang semakin besar di Indo-Pasifik.

Namun seorang pakar pertahanan dari Rand Corporation, Derek Grossman menilai, langkah tersebut akan memperburuk hubungan Australia dan China, dan mungkin lebih buruk daripada hubungan AS dan China.

"Sepertinya atmosfer di sekitar China (dan) Australia telah mencapai tingkat yang tajam," ujarnya.

Ketegangan antara kedua negara dimulai ketika Australia pada April 2020 menyerukan penyelidikan terhadap penanganan Covid-19. Kemudian pada bulan November tahun itu, China mendamparkan lebih dari 50 kapal batubara Australia di dekat pelabuhannya, mengenakan tarif pada serangkaian impor pertanian Australia.

Beberapa analis percaya bahwa China dan Australia telah memasuki "spiral", di mana tindakan satu pihak memicu reaksi dari pihak lain.

Peneliti keamanan maritim di Nanyang Technological University, Collin Koh berpendapat, langkah Australia akan memancing tindakan China lainnya.

"Penumpukan China setidaknya sebagian sebagai tanggapan terhadap pembangunan Australia sendiri," kata Koh.

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Lie Putra Setiawan, Mantan Jaksa KPK Dipercaya Pimpin Kejari Blitar

Selasa, 13 Januari 2026 | 00:04

Pemangkasan Produksi Batu Bara Tak Boleh Ganggu Pasokan Pembangkit Listrik

Selasa, 13 Januari 2026 | 00:00

Jaksa Agung Mutasi 19 Kajari, Ini Daftarnya

Senin, 12 Januari 2026 | 23:31

RDMP Balikpapan Langkah Taktis Perkuat Kemandirian dan Ketahanan Energi Nasional

Senin, 12 Januari 2026 | 23:23

Eggi Sudjana-Damai Hari Lubis Ajukan Restorative Justice

Senin, 12 Januari 2026 | 23:21

Polri dan TNI Harus Bersih dari Anasir Politik Praktis!

Senin, 12 Januari 2026 | 23:07

Ngerinya Gaya Korupsi Kuota Haji

Senin, 12 Januari 2026 | 23:00

Wakapolri Tinjau Pembangunan SMA KTB Persiapkan Kader Bangsa

Senin, 12 Januari 2026 | 22:44

Megawati: Kritik ke Pemerintah harus Berbasis Data, Bukan Emosi

Senin, 12 Januari 2026 | 22:20

Warga Malaysia Ramai-Ramai Jadi WN Singapura

Senin, 12 Januari 2026 | 22:08

Selengkapnya