Berita

Bendera Ukraina/Net

Global

Rusia-Ukraina Memanas, Peneliti INDEF: Ini Dampak Ekonomi Global yang Bisa Dirasakan Indonesia

MINGGU, 27 FEBRUARI 2022 | 14:46 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Konflik yang tengah terjadi antara Rusia dan Ukraina membawa dampak tersendiri, bukan hanya pada isu keamanan, tapi juga pada perkembangan ekonomi dan politik global.

Dalam Twitter Space Forum yang digelar oleh Rektor Universitas Paramadina Didik J Rachbini, bertajuk “Dampak Perang Rusia-Ukraina: Ekonomi dan Politik Global”, pada Sabtu malam (26/2), Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Eisha M Rachbini menjelaskan bahwa setidaknya ada beberapa dampak ekonomi global yang tidak bisa dipandang sebelah mata, sebagai akibat dari konflik yang tengah terjadi.

"Pertama, pemulihan ekonomi dunia post-Covid, dengan ancaman inflasi yang telah terlihat di beberapa negara maju, dan kenaikan harga komoditas dunia. Jika perang berlanjut, pemulihan ekonomi global juga terancam akan lebih rendah dari prediksi awal," jelasnya dalam diskusi virtual tersebut.


Dia menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi global diprediksi 4.4 persen pada 2022 dan 3.8 persen pada 2023. Sementara itu, negara maju pertumbuhan ekonominya diprediksi 3.9 persen pada tahun 2022 dan 2.6 persen pada tahun 2023. Sedangkan negara berkembang pertumbuhan ekonominya diprediksi 4.8 pada 2022, 4.7 persen paada 2023.

Bukan hanya itu, Eisha juga menjelaskan bahwa harga komoditas dunia pada 2022 telah mengalami kenaikan. Rusia sendiri adalah salah satu produsen dunia minyak bumi dan industri pertambangan seperti nikel, alumunium dan palladium. Selain itu, Rusia dan Ukraina adalah dua eksporter utama gandum. Rusia juga produsen kalium karbonat (potash), yang merupakan bahan baku pupuk.

Sehingga, konflik yang tengah terjadi antara kedua negara itu akan dapat berdampak pada kenaikan harga minyak bumi yang diperkirakan meningkat mencapai lebih dari 100 dolar AS per barrel. Sementara harga bahan bakar minyak meningkat di Amerika Serikat dan Eropa sebesar 30 persen.

"Jika konflik berkepanjangan, akan berdampak terhadap global supply chain. (Padahal) supply chain saat ini telah mengalami hambatan logistik akibat Covid-19 yang memicu kenaikan harga komoditas," ujarnya.

"Jika supply komoditas dan logistik pengiriman terhambat, serta infrastruktur utama, seperti Pelabuhan di area Black Sea jika rusak akibat perang, maka negara maju dapat memberikan sanksi banned global supply rendah, by excluding Russia natural resources commodity," sambung Eisha.

Selain itu, dampak ekonomi global lainnya yang mungkin terjadi sebagai akibat dari konflik yang terjadi antara Rusia dan Ukraina adalah dampak terhadap financial market.

"Terkait sanksi yang diberikan Amerika Serikat terhadap pemain pasar keuangan dan tech companies Rusia. This is a serious economic impact to Russia, but not fatal, as Russia might be possible to get help from China (finance and trade relationship)," jelasnya.

Lantas apa dampak yang akan mungkin dirasakan oleh Indonesia?

"Dampak terhadap Indonesia akan terpengaruh perekonomian global, dan memperlambat pemulihan ekonomi, terutama emerging market seperti Indonesia," ujarnya.

"Financial Market domestik pada nilai tukar, IHSG Inflasi tinggi akibat commodity shock, akan mendorong The Fed menaikkan suku bunga. Inflasi AS 7.5 persen pada 22 Januari, tertinggi dalam 40 tahun. Safe Havens Currencies (US, JPY). Berdampak ke depresiasi nilai tukar (Rp), potensi capital outflow, balance of payment (BoP). Di pasar keuangan, juga dapat terdampak pada penyaluran kredit, dan kinerja korporasi," tutupnya.

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

UPDATE

Dino Patti Djalal Endus Tim Siluman Mulai Bergerak

Minggu, 25 Oktober 2026 | 19:51

Trump Ancam Serang Iran Besok

Minggu, 25 Oktober 2026 | 19:50

Wajah Indonesia di WCCE 2026, Mulai Film Jumbo hingga Komedi Pandji

Minggu, 25 Oktober 2026 | 19:34

Survei: 64 Persen Publik Tidak Puas dengan Program MBG

Minggu, 25 Oktober 2026 | 19:21

Dino Patti Djalal Buka Suara soal Kabar Ketemu Dubes Singapura dan Saiful Mujani

Minggu, 25 Oktober 2026 | 18:46

Istiqomah Bela Palestina, Syahrul Aidi Dukung MUI Tolak Konser Andrea Bocelli

Minggu, 25 Oktober 2026 | 18:28

Zurich Topas Life Digugat ke PN Jaksel

Minggu, 25 Oktober 2026 | 18:06

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Anak-anak Korban Karhutla Diminta Tetap Semangat Belajar

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:37

Kedubes Singapura Tegaskan Kabar Pertemuan Saiful Mujani dan Dino Patti Djalal Hoaks

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:19

Selengkapnya