Berita

Dunia

Junta Militer Myanmar Desak Utusan ASEAN untuk Tidak Terlibat dengan Kelompok "Teroris", Apa Maksudnya?

SENIN, 21 FEBRUARI 2022 | 23:59 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Pemerintah militer Myanmar mengkritik seruan agar utusan khusus ASEAN Myanmar bisa bertemu dengan kelompok-kelompok yang menentang kudeta tahun lalu. Kelompok tersebut dilabeli oleh pemerintah junta militer sebagai "kelompok teroris".

Kritik tersebut muncul setelah para menteri luar negeri ASEAN bertemu pekan lalu (Kamis, 17/2). Dalam pertemuan itu, Indonesia vokal untuk mendorong agar utusan ASEAN bertemu dengan semua pihak dalam konflik di Myanmar.

Sementara itu, Malaysia menyerukan pembicaraan dengan Pemerintah Persatuan Nasional (NUG), sebuah kelompok yang terdiri dari mereka yang didepak dari pemerintahan usai kudeta dan juga mereka yang menentang junta militer.


Menanggapi usulan ASEAN itu, pemerintah junta militer Myanmar pun geram. Pasalnya, mereka menilai bahwa kelompok-kelompok tersebut adalah kelompok "terorisme". Ini adalah klaim sepihak yang diterapkan oleh junta militer di Myanmar.

"Kementerian mencatat bahwa sementara beberapa pertimbangan konstruktif pada pelaksanaan konsensus lima poin, dua anggota telah menyarankan (untuk) utusan khusus untuk terlibat dengan asosiasi yang melanggar hukum dan kelompok teroris," begitu kutipan dari Kementerian Luar Negeri Myanmar pada Senin (21/2), seperti dimuat Channel News Asia.

Konsensus lima poin yang dimaksud adalah bagian dari rencana perdamaian yang disepakati oleh ASEAN tahun lalu. Termasuk dalam konsensus itu adalah segera diakhirinya permusuhan dan membiarkan utusan khusus memfasilitasi dialog di Myanmar.

Dalam tanggapan publik pertamanya terhadap pertemuan ASEAN pekan lalu, Kementerian Luar Negeri Myanmar menilai bahwa usulan yang muncul agar perwakilan ASEAN bisa bertemu dengan kelompok yang kontra dengan junta militer di Myanmar merupakan tindakan yang tidak hanya bertentangan dengan prinsip-prinsip piagam ASEAN tetapi juga merusak upaya kontra-terorisme ASEAN.

Sejak militer mengambil alih kekuasaan di Myanmar pada 1 Februari 2021 lalu, ASEAN memang belum mengaku pemerintahan mereka dan belum mengundang perwakilan junta militer Myanmar dalam pertemuan.

Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

Mapolda Metro Dijaga Ketat

Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

UPDATE

Dunia Film Berduka, Bintang Jurassic Park Sam Neill Meninggal Dunia

Senin, 13 Juli 2026 | 16:19

Kapolri dan Jajaran Sowan ke Cilangkap Perkuat Silaturahmi dengan Panglima TNI

Senin, 13 Juli 2026 | 16:16

Bincang Ringan di Cilangkap

Senin, 13 Juli 2026 | 16:10

Demokrat Minta Kasus Mantan Jampidsus Febrie Diserahkan ke KPK

Senin, 13 Juli 2026 | 16:06

DPR Buka Peluang Panggil Mahfud MD Bahas Dugaan Cacat Prosedur Kasus Febrie

Senin, 13 Juli 2026 | 16:02

Kemlu Pastikan Tidak Ada WNI yang Jadi Korban Kebakaran Maut di Bangkok

Senin, 13 Juli 2026 | 15:59

Rasio Defisit APBN 2026 Paling Tinggi Imbas Lonjakan Belanja Negara

Senin, 13 Juli 2026 | 15:53

Prabowo Diminta Ambil Langkah Strategis Atasi Ketegangan Polri-Kejaksaan

Senin, 13 Juli 2026 | 15:44

Polri Didesak Berantas Buzzer Penyebar Disinformasi soal Pengamanan Kejaksaan

Senin, 13 Juli 2026 | 15:30

Rakernas GPA Tegaskan Dukungan Penuh ke Prabowo dan Polri

Senin, 13 Juli 2026 | 15:16

Selengkapnya