Berita

Politisi Gelora Fahri Hamzah/Net

Politik

Pernah Kritik Pimpinan KPK, Fahri Hamzah: Dulu Gak Ada yang Bela Saya

KAMIS, 17 FEBRUARI 2022 | 23:20 WIB | LAPORAN: IDHAM ANHARI

Politsi partai Gelora Fahri Hamzah merasa ada anomali terhadap KPK yang dulu dengan era Firli Bahuri. Ketika itu, Fahri keras melancarkan kritik lembaga antirasuah itu namun sama sekali tidak mendapat dukungan.  

“Dulu aku kritik pimpinan @KPK_RI memakai lobby gedung untuk konferensi pers lawyer mereka dalam rangka membela diri. Aku katakan itu konflik kepentingan. Oknum tidak boleh memakai fasilitas kantor. Nah dulu gak ada yang bela saya. Itu zaman KPK gak ada lawan,” kata Fahri dalam unggahan di akun Twitternya, Kamis (17/2).

Bahkan saat dirinya menjabat sebagai Wakil Ketua DPR RI, dalam sebuah rapat di komisi III tahun 2008, ia mengungkap adanya sumbangan pihak luar kepada atau melalui KPK.


Temuan itu, dikatakan Fahri, langsung dihentikannya. Sebab, ia khawatir sumbangan dalam bentuk uang dan program ini dapat menjadi indikasi adanya intervensi kepada lembaga KPK yang independen.

“Ini langsung kami hentikan,” tegas Fahri.

Fahri merasakan betul, saat itu KPK yang dianggap tidak memiliki lawan tanding membiarkan institusi pemberantas korupsi ini menjadi pusat pengumpul simpati dalam berbagai bentuk, menjadi pusat tarik menarik kegiatan masyarakat. Sehingga, kata Fahri, KPK tidak sensitif terhadap fakta bahwa ia telah jadi salah satu episentrum politik di tanah air.

“KPK sebagai lembaga penegak hukum di masa lalu lupa bahwa dia wajib independent kepada siapapun. Tapi atas nama perjuangan mereka berpolitik dan menganggap KPK adalah pusat perlawanan rakyat. Gagah sih memang, pimpinannya gagah, banyak pendukung dan simpatisan, so what?” sindirnya.

Bagi Fahri, kritik yang dilancarkan pasca KPK memiliki undang-undang baru sangat baik, agar KPK menjadi mawas diri dan tidak sembrono, seperti dulu.

“Sekarang KPK memang tidak nampak segagah dulu hajar sana hajar sini, sekarang mereka lebih mengedepankan sebuah orkestra sistem yang komprehensif,” tekan Fahri.

Tapi Fahri menyayangkan, kritik kepada KPK yang dilancarkan di era kepemimpinan Firli Bahuri ini, seolah tidak pada tempatnya. Terlebih saat istri Firli, Ardina Safitri menciptakan mars dan hymne KPK.

“Tapi mengapa yang dikritik seorang isteri pencipta lagu, seperti penjahit bendera merah putih?” tanya Fahri.

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

KPK Panggil Sekretaris Camat hingga Direktur Perusahaan dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

Mahfud MD: Mas Pandji Tenang, Nanti Saya yang Bela!

Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55

UPDATE

Sekolah Rakyat dan Investasi Penghapusan Kemiskinan Ekstrim

Kamis, 15 Januari 2026 | 22:03

Agenda Danantara Berpotensi Bawa Indonesia Menuju Sentralisme

Kamis, 15 Januari 2026 | 21:45

JMSI Siap Perkuat Peran Media Daerah Garap Potensi Ekonomi Biru

Kamis, 15 Januari 2026 | 21:34

PP Himmah Temui Menhut: Para Mafia Hutan Harus Ditindak Tegas!

Kamis, 15 Januari 2026 | 21:29

Rezim Perdagangan dan Industri Perlu Dirombak

Kamis, 15 Januari 2026 | 21:15

GMPG Pertanyakan Penanganan Hukum Kasus Pesta Rakyat Garut

Kamis, 15 Januari 2026 | 21:02

Roy Suryo Ogah Ikuti Langkah Eggi dan Damai Temui Jokowi

Kamis, 15 Januari 2026 | 21:00

GMNI: Bencana adalah Hasil dari Pilihan Kebijakan

Kamis, 15 Januari 2026 | 20:42

Pakar Hukum: Korupsi Merusak Demokrasi Hingga Hak Asasi Masyarakat

Kamis, 15 Januari 2026 | 20:28

DPR Setujui Anggaran 2026 Komnas HAM Rp112 miliar

Kamis, 15 Januari 2026 | 20:26

Selengkapnya