Berita

Ilustrasi/Net

Dunia

Tingkat Kelahiran Rendah, Thailand Dibayangi Masalah Kelesuan Ekonomi di Masa Depan

SELASA, 15 FEBRUARI 2022 | 08:51 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Rendahnya angka kelahiran telah memicu sejumlah kekhawatiran baru bagi Pemerintah Thailand.

Wakil Menteri Kesehatan Masyarakat Thailand, Sathit Pitutecha, mengatakan masalh utama yang akan dihadapi pemerintah terutama pada sektor ekonomi.

Masalahnya, katanya, berkisar dari kekurangan tenaga kerja hingga kelesuan sosial dan ekonomi.


Sathit mengatakan solusinya mungkin mendorong orang untuk memiliki lebih banyak anak dengan mempromosikan persalinan sebagai cara untuk berkontribusi pada masyarakat.

"Ini adalah upaya jangka panjang yang perlu kita lakukan, terlepas dari siapa yang bertanggung jawab atas pemerintah," katanya, seperti dikutip dari Bangkok Post, Selasa (15/2).

Direktur Jenderal Departemen Kesehatan, Suwannachai Wattanayingcharoen, mengatakan penurunan jumlah penduduk dapat ditelusuri kembali ke kebijakan keluarga berencana yang pertama kali diluncurkan pada tahun 1970.

Pada 2019, populasi Thailand tumbuh kurang dari 600.000 orang untuk pertama kalinya. Tahun lalu, populasi meningkat 544.570, membawa tingkat kesuburan total (TFR) negara itu turun menjadi 1,3 - jauh di bawah rata-rata global 2,5.

Kantor Dewan Pembangunan Ekonomi dan Sosial Nasional mengatakan jika tren ini terus berlanjut, pada tahun 2040, anak-anak hanya akan mencapai 12,8 persen dari total populasi, dengan orang tua menyumbang 31 persen.

Suwannachai mengatakan peningkatan jumlah warga lanjut usia akan berdampak pada individu usia kerja, yang jumlahnya secara bertahap menyusut.

Sementara sejumlah ahli berpendapat bahwa berkurangnya populasi usia kerja juga akan berpengaruh pada pendapatan pajak bagi pemerintah, yang dapat menyebabkan kekurangan dana untuk merawat orang tua.

Witthaya Thithapan, presiden Royal Thai College of Obstetricians and Gynaecologists, mengatakan meski banyak pasangan infertil tertarik pada perawatan yang mereka harapkan akan memungkinkan mereka untuk hamil, perawatan semacam itu sangat mahal di Thailand.

"Dikombinasikan dengan tingkat keberhasilan yang rendah sekitar 30 persen, banyak yang tidak mampu menjalani pengobatan," katanya.

Sementara Somsak Lolekha, presiden Royal College of Paediatricians of Thailand mengatakan, semakin banyak orang yang terlambat memulai keluarga mereka.

"Banyak yang sekarang memilih untuk menunggu sampai mereka lulus dari universitas dan merasa mereka aman secara finansial untuk memiliki bayi," katanya.

"Jika tren saat ini berlanjut, populasi negara itu mungkin turun dari 66 juta saat ini menjadi 40 juta dalam waktu dekat," ujarnya.

Tongjai Suthas Na Ayutthaya, asisten sekretaris tetap untuk tenaga kerja, mengatakan negara menawarkan bantuan yang akan membantu orang tua membesarkan anak-anak yang diharapkan mendorong mereka untuk memiliki lebih banyak bayi, seperti sudut menyusui dan pusat penitipan anak di pabrik.

Ladda Sae Lee, wakil sekretaris jenderal Kantor Jaminan Sosial, juga mengatakan bahwa kantornya telah meningkatkan subsidi persalinan menjadi 15.000 baht per kelahiran. Para ibu juga mendapat jaminan cuti hamil selama 90 hari, di samping tunjangan bulanan untuk membesarkan anak.

Populer

Kasi Intel-Pidsus Kejari Ponorogo Terseret Kasus Korupsi Bupati Sugiri

Rabu, 21 Januari 2026 | 14:15

KPK Panggil Sekretaris Camat hingga Direktur Perusahaan dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09

Ijazah Asli Kehutanan UGM

Rabu, 14 Januari 2026 | 05:09

KPK Dikabarkan OTT Walikota Madiun Maidi

Senin, 19 Januari 2026 | 15:23

Aneh! UGM Luluskan Jokowi dengan Transkrip Nilai Amburadul

Minggu, 18 Januari 2026 | 00:35

Eggi Sudjana Kerjain Balik Jokowi

Selasa, 20 Januari 2026 | 15:27

Jokowi Sulit Mengelak dari Tuduhan Ijazah Palsu

Rabu, 14 Januari 2026 | 23:15

UPDATE

Hamas Sepakat Lucuti Senjata dengan Syarat

Jumat, 23 Januari 2026 | 10:15

DPR Mulai RDPU Calon Deputi Gubernur Bank Indonesia

Jumat, 23 Januari 2026 | 10:09

Megawati Rayakan Ultah ke-79 di Istana Batu Tulis

Jumat, 23 Januari 2026 | 10:02

Iran Tuding Media Barat Rekayasa Angka Korban Protes demi Tekan Teheran

Jumat, 23 Januari 2026 | 10:02

IHSG Rebound; Rupiah Menguat ke Rp16.846 per Dolar AS

Jumat, 23 Januari 2026 | 09:59

Gaya Top Gun Macron di Davos Bikin Saham Produsen Kacamata iVision Melonjak

Jumat, 23 Januari 2026 | 09:47

Sekolah di Jakarta Terapkan PJJ Akibat Cuaca Ekstrem

Jumat, 23 Januari 2026 | 09:42

Ini Respons DPP Partai Ummat Pascaputusan PTUN dan PN Jaksel

Jumat, 23 Januari 2026 | 09:34

Purbaya Siapkan Perombakan Besar di Ditjen Pajak demi Pulihkan Kepercayaan Publik

Jumat, 23 Januari 2026 | 09:29

Menlu Sugiono: Board of Peace Langkah Konkret Wujudkan Perdamaian Gaza

Jumat, 23 Januari 2026 | 09:17

Selengkapnya