China tampaknya menggunakan momentum ketegangan antara Rusia dan Ukraina untuk menyiapkan rencana menyerang Taiwan.
Invasi ke Taiwan dilakukan saat perhatian dunia terfokus pada kemungkinan Rusia yang menyerang Ukraina.
Sebuah kelompok yang berbasis di Washington, Global Strat View, bahkan menyoroti semakin gencarnya serangan skala besar yang dilakukan oleh jet tempur China di wilayah udara Taiwan baru-baru ini.
China baru-baru ini mengirim 52 pesawat tempur ke zona pertahanan Taiwan, serangan paling signifikan sejak Oktober 2021 dan terbesar kedua dalam catatan.
Beijing juga telah memberikan peringatan terbuka kepada Amerika Serikat (AS) terkait konflik militer, yang berarti China bersiap melakukan invasi secara paksa ke Taiwan.
Menurut Global Strat View, Beijing hanya melihat reaksi dunia terhadap krisis Rusia-Ukraina dan bagaimana kekuatan militer besar akan campur tangan jika Rusia menyerang. Perkembangan ini tampaknya menentukan wacana masa depan rencana ekspansionis China.
"Invasi China ke Taiwan akan lebih parah daripada krisis Ukraina saat ini, dan itu dapat berkembang menjadi konflik bersenjata besar yang melibatkan negara-negara barat utama," kata Global Strat View, seperti dikutip
ANI News.
China juga dilaporkan telah memberikan peringatan kepada negara-negara yang masih menjalin hubungan dengan Taiwan. Slovenia adalah negara terbaru yang menerima teguran dari Beijing karena memutuskan untuk mendirikan kantor perwakilannya di Taiwan.
Pada November 2021, negara Eropa lainnya, Lithuania, telah mengizinkan Taiwan untuk membuka kedutaan de facto dengan nama "Taiwan", yang membuat Beijing kesal karena melihat langkah itu menantang konsep Satu China. China memberlakukan sanksi ekonomi terhadap Lithuania dan menghentikan semua impor dari negara Eropa.
Dalam hal ini, China ingin menunjukkan pesan bahwa negara mana pun yang mencoba membangun hubungan dengan Taiwan akan menghadapi tekanan ekonomi.