Ilustrasi/Net
Ilustrasi/Net
Pengamat ekonomi dari Universitas Paramadina Eisha Rachbini menyayangkan, proyek kereta api cepat ini mengalami pembengkakan pembiayaan sehingga harus ditalangi APBN sebesar Rp 3,4 triliun.
"Harusnya jika dikelola dengan baik tidak akan terjadi seperti itu. Namun diperjalanannya, yang tadinya proyek investasi seharusnya ini business to business tapi kemudian harus disuntikan penyertaan dari negara melalui APBN, jika tidak mangkrak proyeknya,†tegas Eisha kepada Kantor Berita Politik RMOL, Senin (7/2).
Populer
Rabu, 08 April 2026 | 05:43
Senin, 13 April 2026 | 14:18
Kamis, 09 April 2026 | 12:18
Kamis, 16 April 2026 | 00:32
Senin, 13 April 2026 | 08:21
Kamis, 16 April 2026 | 18:10
Kamis, 09 April 2026 | 16:31
UPDATE
Sabtu, 18 April 2026 | 09:43
Sabtu, 18 April 2026 | 09:18
Sabtu, 18 April 2026 | 09:08
Sabtu, 18 April 2026 | 08:47
Sabtu, 18 April 2026 | 08:30
Sabtu, 18 April 2026 | 08:17
Sabtu, 18 April 2026 | 08:03
Sabtu, 18 April 2026 | 07:55
Sabtu, 18 April 2026 | 07:41
Sabtu, 18 April 2026 | 07:18