Berita

Jarum suntik bekas menjadi limbah medis yang membahayakan/Net

Dunia

Dampak Lain Pandemi Covid-19, Limbah Medis yang Menggunung dan Membahayakan

RABU, 02 FEBRUARI 2022 | 00:06 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Jarum suntik bekas, alat uji bekas, dan botol vaksin bekas dari pandemi Covid-19 telah menumpuk untuk menghasilkan puluhan ribu ton limbah medis yang mengancam kesehatan manusia dan juga lingkungan.

Begitu peringatan yang dikeluarkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam laporan terbarunya pada Selasa (1/2).

Limbah-limbah medis tersebut, yang sebagian dapat menular karena virus corona dapat bertahan di permukaan, berpotensi membuat petugas kesehatan mengalami luka bakar, luka tertusuk jarum suntik, dan kuman penyebab penyakit.


Selain itu, dampak lain yang bisa ditimbulkan adalah, masyarakat yang dekat dengan tempat pembuangan sampah yang dikelola dengan buruk juga dapat terpengaruh melalui udara yang terkontaminasi dari pembakaran sampah, kualitas air yang buruk atau hama pembawa penyakit.

Pada laporan yang sama, sebagaimana dimuat Reuters, WHO merinci bahwa saat ini diperkirakan ada sekitar 87 ribu ton alat pelindung diri (APD) yang telah dipesan melalui portal PBB hingga November 2021. Sebagian besar dari APD tersebut diperkirakan berakhir sebagai limbah.

Selain itu, laporan itu juga menyebutkan sekitar 140 juta alat uji Covid-19 yang diperkirakan berbobot 2.600 ton, sebagian besar akan berakhir menjadi sampah plastik dan limbah kimia.

Selain itu, diperkirakan bahwa sekitar delapan miliar dosis vaksin yang diberikan secara global telah menghasilkan tambahan 144 ribu ton limbah dalam bentuk botol kaca, jarum suntik, jarum, dan kotak pengaman.

Oleh karena itu, melalui laporan terbarunya WHO menyerukan reformasi dan investasi termasuk melalui pengurangan penggunaan kemasan yang menyebabkan sampah plastik dan penggunaan alat pelindung yang terbuat dari bahan yang dapat digunakan kembali atau dapat didaur ulang.

Laporan WHO tidak menyebutkan contoh spesifik di mana penumpukan paling mengerikan terjadi. Namun WHO mengangkat soal tantangan nyata terkait pengolahan dan pembuangan limbah resmi yang terbatas di pedesaan India serta sejumlah besar lumpur tinja dari fasilitas karantina di Madagaskar.

WHO juga meningatkan bahwa bahkan sebelum pandemi, sekitar sepertiga fasilitas kesehatan tidak dilengkapi untuk menangani beban limbah yang ada.

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Raksasa Telekomunikasi Ini Bakal Dibubarkan Danantara

Senin, 25 Mei 2026 | 08:33

PT PMM Keberatan 15 Kontainer Mineral Ekspor Dibongkar Aparat

Minggu, 24 Mei 2026 | 16:43

Nilai TKA Siswa SD-SMP Jeblok, Program MBG Dipertanyakan

Senin, 01 Juni 2026 | 02:30

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Blusukan Jokowi Sulit Naikkan Suara PSI, Apalagi Goyang PDIP

Senin, 01 Juni 2026 | 04:00

UPDATE

Penunjukan Nanik S. Deyang Kepala MBG Sesuai Hasil Evaluasi

Rabu, 03 Juni 2026 | 16:13

Turun Gunung Jokowi Dalam Rangka Cari Keselamatan

Rabu, 03 Juni 2026 | 16:05

Gibran Ingin Birokrasi Berjalan Gesit dan Kolaboratif

Rabu, 03 Juni 2026 | 16:01

Prabowo Apresiasi Peran Turki Bantu Pulangkan Sembilan WNI dari Tahanan Israel

Rabu, 03 Juni 2026 | 15:56

Penyiram Air Keras ke Andrie Yunus Hanya Dituntut 2,5 Tahun Penjara

Rabu, 03 Juni 2026 | 15:52

Warganet Anggap Penggeledahan Kantor BGN oleh Kejagung Drama Telenovela

Rabu, 03 Juni 2026 | 15:45

Gebrakan Jampidsus Obrak-abrik Kantor BGN Patut Diacungi Jempol

Rabu, 03 Juni 2026 | 15:42

Kunjungan ke Rusia, AHY Bawa Pulang Proyek PLTN Terapung hingga Kapal Cepat

Rabu, 03 Juni 2026 | 15:41

DPR Dukung Kejagung Geledah BGN Usut Dugaan Korupsi MBG

Rabu, 03 Juni 2026 | 15:07

Istana Respons Kabar Penangkapan Eks Kepala BGN oleh Kejagung

Rabu, 03 Juni 2026 | 15:06

Selengkapnya