Berita

Pemimpin junta Myanmar, Jenderal Min Aung Hlaing/Net

Dunia

PBB: Junta Harus Diikutsertakan tapi Tak Bisa Jadi Pemimpin Proses Perdamaian Myanmar

SELASA, 01 FEBRUARI 2022 | 13:07 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Keterlibatan junta militer Myanmar memang tidak dapat diabaikan, tetapi mereka tidak bisa memimpin proses perdamaian.

Begitu yang dikatakan oleh utusan khusus Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) untuk Myanmar, Noeleen Heyzer dalam sebuah wawancara dengan Channel News Asia pada Senin (31/1).

Heyzer merupakan mantan Wakil Sekretaris Jenderal PBB yang ditunjuk sebagai utusan khusus untuk Myanmar beberapa pekan lalu.


"Militer, ketika saya mengatakan bahwa mereka tidak sah, bukan berarti mereka tidak memiliki peran. Mereka memiliki peran yang sah, tapi mereka bukan pemerintah yang sah saat ini," ujarnya.

Hal itu disampaikan oleh Heyzer setelah pemerintah bayangan pro-demokrasi, Pemerintah Persatuan Nasional (NUG), mendorong agar militer harus benar-benar dikecualikan dalam setiap dialog mengenai masa depan Myanmar.

Kendati begitu, Heyzer menekankan, junta tidak bisa memimpin proses perdamaian.

Lebih lanjut, Heyzer mendesak aktivis pemuda yang memprotes Tatmadaw untuk memoderasi sikap dan pemikiran mereka dalam jangka panjang.

“Saya tahu bahwa banyak anak muda, terutama kaum muda, mereka rela mati berjuang untuk transformasi politik total. Setiap transformasi politik membutuhkan proses dan itu tidak akan terjadi dalam semalam. Dan karena itu, saya ingin mereka memiliki sesuatu untuk hidup, bukan untuk mati," ujarnya.

Tepat satu tahun yang lalu, 1 Februari 2021, junta merebut kekuasaan dengan menggulingkan pemerintahan yang dipimpin oleh Aung San Suu Kyi.

Kudeta memicu aksi protes yang memakan lebih dari 1.400 nyawa, dan lebih dari 12 ribu orang dipenjara.

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

UPDATE

KPK Tak Gentar Hadapi Praperadilan Mantan Waka PN Depok

Minggu, 03 Mei 2026 | 20:19

Ordal, pada Perspektif Rawls

Minggu, 03 Mei 2026 | 19:54

KPK Telusuri Duit Panas Cukai ke Pengusaha Rokok

Minggu, 03 Mei 2026 | 19:23

DPR Geram Ada PRT Tewas: Negara ke Mana?

Minggu, 03 Mei 2026 | 19:17

Spirit Airlines Jadi Maskapai AS Pertama yang Bangkrut akibat Perang Iran

Minggu, 03 Mei 2026 | 17:03

Renault Triber 2026, Sensasi Mobil Keluarga Rasa Eropa Harga Rp 106 Jutaan

Minggu, 03 Mei 2026 | 17:01

Trump Ragu Terima 14 Syarat Damai Baru dari Iran

Minggu, 03 Mei 2026 | 16:33

DPR Ungkap Ada Skenario Damai di Balik Kasus PRT Tewas di Jakpus

Minggu, 03 Mei 2026 | 16:09

Andi Arief Ingatkan Militer Masuk Pemerintah karena Sipilnya Koruptif

Minggu, 03 Mei 2026 | 15:59

Menlu AS Sambangi Vatikan usai Perseteruan Trump dan Paus Leo XIV

Minggu, 03 Mei 2026 | 15:26

Selengkapnya